RADARSOLO.COM – Khutbah Jumat 18 September 2026 dapat mengangkat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat, salah satunya kondisi musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia.
Memasuki pertengahan September, musim kemarau masih dirasakan di berbagai daerah. Hingga Rabu (16/9/2026), minimnya curah hujan membuat sejumlah wilayah menghadapi kondisi kering dan keterbatasan sumber air.
Kemarau yang berkepanjangan tidak hanya berdampak terhadap ketersediaan air. Kondisi vegetasi yang semakin kering juga dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Fenomena tersebut dapat menjadi bahan renungan dalam Khutbah Jumat 18 September 2026. Dalam perspektif Islam, berbagai peristiwa yang terjadi di alam dapat menjadi pengingat bagi manusia untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menjaga amanah sebagai khalifah di muka bumi.
Teks Khutbah Jumat 18 September 2026 Rabiulakhir tentang Kemarau
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang pada umumnya mengalami dua musim, yakni musim hujan dan musim kemarau. Pergantian antara kedua musim tersebut dikenal sebagai masa pancaroba.
Musim hujan di Indonesia umumnya berlangsung sekitar Oktober hingga Maret, sedangkan musim kemarau biasanya terjadi pada April sampai September. Namun, waktu dan durasi kedua musim tersebut dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Bagi umat Islam, datangnya kemarau merupakan bagian dari ketetapan Allah SWT. Meski demikian, manusia tidak boleh hanya pasrah tanpa melakukan ikhtiar. Sebagai khalifah di bumi, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam dan menggunakan sumber daya secara bijaksana.
Kondisi kemarau juga mengajarkan pentingnya kesabaran. Ketika air sulit diperoleh, suhu meningkat, tanaman mengering, dan aktivitas masyarakat terganggu, umat Islam hendaknya tetap menjaga ibadah serta memperbanyak doa kepada Allah SWT.
Melalui Khutbah Jumat 18 September 2026, jamaah dapat diajak untuk melihat musim kemarau bukan semata-mata sebagai kesulitan, tetapi juga sebagai momentum untuk melakukan introspeksi. Manusia perlu menyadari bahwa kehidupan di bumi memiliki keterkaitan yang erat antara alam dan perilaku manusia.
Selain meningkatkan ketakwaan, umat Islam juga perlu menjaga lingkungan. Tidak membuang sampah sembarangan, menghemat penggunaan air, mencegah pembakaran lahan, serta menjaga kelestarian tumbuhan merupakan bentuk tanggung jawab manusia terhadap bumi.
Kemarau juga menjadi pengingat bahwa nikmat air tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang selalu tersedia. Ketika hujan turun dan sumber air melimpah, manusia hendaknya bersyukur. Sebaliknya, ketika kekeringan datang, manusia perlu bersabar, berikhtiar, dan memohon pertolongan kepada Allah SWT.
Karena itu, tema kemarau dalam Khutbah Jumat 18 September 2026 Rabiulakhir dapat menjadi pengingat bagi jamaah agar senantiasa bersyukur atas nikmat Allah, bersabar menghadapi ujian, memperbanyak amal kebaikan, serta ikut menjaga keseimbangan alam.
Teks khutbah tersebut dapat dikembangkan dengan memenuhi rukun dan syarat khutbah Jumat, sehingga dapat menjadi salah satu referensi bagi khatib yang bertugas pada Jumat, 18 September 2026.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ. الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيمَانِ وَالْإِسْلَامِ، وَهَدَانَا إِلَى طَرِيقِهِ الْمُسْتَقِيمِ، وَدَعَانَا إِلَى ذِكْرِهِ وَطَاعَتِهِ وَالتَّقَرُّبِ إِلَيْهِ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ , يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَٰٓ
Segala puji bagi Allah Swt. yang telah melimpahkan berbagai macam kenikmatan, nikmat Islam, iman, hingga kesehatan, sehingga hari ini dapat memenuhi panggilan-Nya dan semoga senantiasa selalu menjauhi segala larangan-Nya.
Mari bersama-sama meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dengan sebenar-benar takwa, yakni melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah sebaik-baik bekal yang akan kita bawa untuk menghadap kelak.
Salawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan Nabi Muhammad saw, juga para keluarga, sahabat, serta kepada kita selaku umatnya. Aamiin ya Rabbal’alamin.
Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah…
Di pertengahan bulan September 2026, Indonesia masih mengalami musim kemarau. Di berbagai daerah, kekeringan terus terjadi. Kebutuhan air bersih menjadi masalah baru yang timbul di masyarakat. Padahal, air bersih termasuk kebutuhan primer yang diperlukan masyarakat. Di bidang pertanian, petani juga tengah menghadapi hal yang berat.
Terlepas dari kemarau sebagai fenomena alam, manusia sebagai makhluk yang memiliki kemampuan untuk mengeksploitasi alam juga bertanggungjawab untuk menjaga keberlangsungan air. Sebab, manusia diturunkan ke muka bumi tak lain sebagai khalifah.
Hal ini termaktub dalam firman Allah surah Al-Baqarah ayat 30:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
wa idz qâla rabbuka lil-malâ'ikati innî jâ‘ilun fil-ardli khalîfah, qâlû a taj‘alu fîhâ may yufsidu fîhâ wa yasfikud-dimâ', wa naḫnu nusabbiḫu biḫamdika wa nuqaddisu lak, qâla innî a‘lamu mâ lâ ta‘lamûn
Artinya: (Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Dalam menghadapi musim kemarau, umat Islam dianjurkan untuk berbuat bijak dalam menggunakan air. Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah dalam sebuah hadis:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ، وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
Artinya: “Rasulullah SAW mandi menggunakan air sebanyak satu sha‘ hingga lima mud, sedangkan untuk berwudhu beliau menggunakan satu mud.” (Muttafaq 'alaih).
Dalam riwayat lain dari Ummu ‘Imarah Al-Anshariyah RA disebutkan:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ بِإِنَاءٍ فِيهِ قَدْرُ ثُلُثَيْ مُدٍّ
Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad SAW berwudhu dengan sebuah wadah yang berisi air sekira dua pertiga mud.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dengan sanad hasan).
Hadirin yang berbahagia....
Di tengah kesulitan musim kemarau, mari kita meningkatkan kepedulian dan saling tolong menolong. Di saat air bersih mulai sulit dan beban ekonomi meningkat akibat kemarau, solidaritas sesama muslim harus diperkuat. Rasulullah bersabda:
الرَّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، اِرْحَمُوْا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
Artinya: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Pengasih. Kasihilah siapa yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan mengasihimu." (HR. Tirmidzi)
Apabila kekeringan berdampak luas, Islam mensyariatkan salat sunah Istisqa dan berdoa memohon hujan yang membawa berkah, bukan hujan yang membawa bencana atau banjir. Salat istisqa biasa dilakukan ketika terjadi musim kemarau berkepanjangan atau krisis air.
Salat istisqa dilakukan dua rakaat, serupa dengan salat Id. Meskipun demikian, terdapat perbedaan dalam tata cara khatib berkhotbah. Khatib beristighfar dalam khotbah salat istisqa sebagaimana takbir dalam khotbah Id. Khatib berdoa dengan lantang, lalu menghadap kiblat setelah sepertiga khotbah kedua.
Terakhir, sepatutnya kita melakukan introspeksi diri. Sebagaimana firman Allah QS. Ar-Rum 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ٤١
dhaharal-fasâdu fil-barri wal-baḫri bimâ kasabat aidin-nâsi liyudzîqahum ba‘dlalladzî ‘amilû la‘allahum yarji‘ûn
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Semoga di bulan Rabiulakhir 1448 Hijriah, kita mendapatkan perlindungan dari Allah Swt. dan senantiasa tetap memegang teguh iman dan takwa kepada Sang Pencipta.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ َإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah II
الْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ لِيُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ طُوْلَ الْأَزْمِنَةِ وَالدُّهُوْرِ. وَاَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوْا رَبَّكُمْ وَقُوْلُوْا لَهُمْ قَوْلًا لَيِّنًا سَدِيْدًا. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّۚ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَي سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَتاَبِعِيْهِ وَتَابِعِيْ تَابِعِيْهِ وَمَنْ تَبِعَهُمِ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اسْتُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ اجْبُرْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ عَافِ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ احْفَظْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللَّهُمَّ ارْحَمْ أُمَّةَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ رَحْمَةً عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِأُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ مَغْفِرَةً عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ اللَّهُمَّ فَرِّجْ عَنْ أُمَّةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ فَرَجًا عَاجِلًا يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ
فَيَا عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِۙ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ
Editor : Nur PramuditoSumber : NU Online