RADARSOLO.COM - Sosok Ibu Negara pertama Republik Indonesia, Fatmawati, memegang peranan amat vital dalam catatan sejarah kemerdekaan bangsa.
Lahir pada 5 Februari 1923 sebagai putri dari pasangan Hasan Din dan Chadijah, Fatmawati—yang bermakna bunga Teratai—telah melalui perjalanan hidup yang penuh perjuangan sebelum akhirnya mendampingi Proklamator RI, Ir. Soekarno.
Dikutip dari Perpusnas, sewaktu kecil, Fatmawati akrab disapa dengan panggilan "Ma".
Sebuah kisah unik berhembus sewaktu Fatmawati berusia empat tahun, di mana seorang peramal kenamaan asal India membaca garis tangan ayahnya, Hasan Din, dan meramalkan bahwa sang putri kelak akan dipersunting oleh sosok pria pemegang posisi jabatan tertinggi di negeri ini.
Baca Juga: Meninggal di Usia 73 Tahun, Guruh Soekarnoputra Akan Dimakamkan di Sebelah Fatmawati, sang Ibunda
Kala itu, Hasan Din tak langsung memercayainya lantaran pimpinan tertinggi tanah air masih digenggam oleh pejabat kolonial Belanda.
Masa kecil Fatmawati diwarnai gelombang perjuangan ekonomi keluarga.
Fatwamati sempat menimba ilmu di Sekolah Gedang dan HIS (sekolah berbahasa Belanda), sebelum akhirnya berpindah ke HIS Muhammadiyah.
Kepindahan tersebut membuat sang ayah harus merelakan pekerjaannya di perusahaan milik Belanda, Borsumij.
Demi meringankan beban kedua orang tuanya, Fatmawati kecil tak canggung membantu berjualan produk kacang goreng buatan ibunya maupun menjaga warung kelontong kecil di pekarangan depan rumah mereka.
Pertemuan dengan Bung Karno dan Pernikahan
Baca Juga: Meninggal di Usia 73 Tahun, Guruh Soekarnoputra Akan Dimakamkan di Sebelah Fatmawati, sang Ibunda
Keluarga Hasan Din kemudian memutuskan bertolak dan bermukim di Palembang, hingga menjalin relasi dekat dengan Ir. Soekarno yang saat itu tengah menjalani masa pengasingan politik di Bengkulu.
Pertemuan perdana Fatmawati dengan Bung Karno meninggalkan kesan mendalam: seorang pria yang bersahaja, bermata tajam, berbadan tegap, serta berparas ramah.
Hubungan erat kedua keluarga kian padu berkat kesamaan visi dan cita-cita dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Seiring bergulirnya waktu, Bung Karno menaruh hati kepada Fatmawati.
Baca Juga: Wali Kota Solo Minta HGB Habis Masa Berlaku Dialihkan Jadi Fasilitas Publik
Usai berpisah secara baik-baik dari Inggit Garnasih, Bung Karno resmi meminang Fatmawati pada Juli 1942 tatkala beliau menginjak usia 20 tahun.
Setelah mengikat janji suci, Fatmawati diboyong menuju Jakarta.
Dari pernikahan tersebut, lahir putra-putri terbaik bangsa, meliputi:
- Muhammad Guntur Soekarnoputra (1944)
- Megawati Soekarnoputri (1946)
- Dyah Permana Rachmawati (1951)
- Dyah Mutiara Sukmawati, serta Muhammad Guruh Irianto Soekarno Putra (1953)
Setia Mendampingi di Masa Proklamasi dan Perjuangan
Fatmawati secara konsisten dan setia mendampingi langkah Bung Karno melewati fase-fase kritis pergerakan.
Fatmawati menyaksikan secara langsung momen bersejarah pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur, Jakarta.
Selain berperan penting sebagai penjahit Sang Saka Merah Putih pertama, Fatmawati turut menyertai langkah Bung Karno saat pemerintahan Indonesia terpaksa mengungsikan pusat ibu kota negara ke Yogyakarta di tengah ancaman agresi militer.
Sebagai Ibu Negara, Fatmawati memancarkan teladan luhur bagi seluruh wanita Indonesia lewat kesederhanaan dalam bersikap, berperilaku, serta berbusana.
Kerudung atau selendang yang konsisten dikenakannya menjadi ciri khas anggun yang sering menuai pujian dari Bung Karno.
Prinsip Teguh Penolakan Poligami dan Akhir Hayat
Fatmawati juga dikenal luas sebagai sosok wanita berpendirian teguh, khususnya dalam mempertahankan kehormatan serta harga diri kaum perempuan.
Ketika Bung Karno memohon izin untuk memadu rumah tangga dengan menikahi Hartini pada tahun 1953, Fatmawati secara tegas menolak praktik poligami.
Beliau memilih untuk melangkah keluar dari Istana Negara dan meminta dikembalikan kepada orang tuanya.
Baca Juga: Bukan Cuma Dikoleksi, Kenapa Gen Z Bangkok Suka Gantung Art Toy di Tas?
Fatmawati wafat pada 14 Mei 1980 akibat serangan jantung di Kuala Lumpur, Malaysia, saat dalam perjalanan kembali menuju Jakarta usai menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci Mekkah.
Jenazah sang Ibu Negara dimakamkan di TPU Karet Tengsin, Jakarta.
Jasa, keteladanan, serta pengorbanannya bagi Sang Saka Merah Putih dan kemerdekaan bangsa akan terus terpatri dalam ingatan rakyat Indonesia. (wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono