RADARSOLO.COM - Memiliki halaman rumah yang tidak terlalu luas bukan berarti harus mengurungkan niat untuk menanam melon.
Tanaman buah yang dikenal memiliki rasa manis dan menyegarkan ini ternyata dapat dibudidayakan menggunakan pot atau polybag.
Melon (Cucumis melo) termasuk tanaman buah semusim dari keluarga labu-labuan. Selain menghasilkan buah, tanaman melon yang dirambatkan pada ajir juga dapat memberikan nuansa hijau pada halaman rumah.
Mengutip laman Cybex Kementerian Pertanian RI, budidaya melon menggunakan pot atau polybag memiliki sejumlah keuntungan.
Tanaman lebih mudah dipindahkan, pemberian air dan pupuk lebih terkontrol, serta pemeliharaan tanaman hingga proses panen menjadi lebih praktis.
Budidaya melon umumnya cocok dilakukan di daerah dengan ketinggian sekitar 250-800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Tanaman ini membutuhkan curah hujan sekitar 1.500-2.500 mm per tahun dengan kelembapan udara sekitar 50-70 persen.
Untuk media tanam, tanah yang kaya bahan organik, termasuk tanah andosol, dapat digunakan.
Namun, hal yang tidak kalah penting adalah menyiapkan media tanam yang memiliki drainase baik agar air tidak menggenang di sekitar akar.
Berikut tahapan menanam melon di pot yang dapat diterapkan di halaman rumah.
1. Semai benih melon terlebih dahulu
Langkah pertama adalah menyiapkan benih berkualitas. Media untuk menyemai dapat dibuat dari campuran tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.
Masukkan media semai tersebut ke dalam polybag berukuran kecil. Sebelum ditanam, benih melon dapat direndam dalam larutan fungisida selama sekitar 12 jam.
Setelah itu, tiriskan benih menggunakan koran dan letakkan di tempat yang gelap hingga mulai berkecambah.
Benih yang telah mengeluarkan tunas kemudian ditanam pada media semai. Posisi benih sebaiknya dibuat dengan bagian yang runcing menghadap ke bawah.
2. Siapkan pot dan media tanam
Sambil menunggu bibit berkembang, siapkan pot sebagai tempat pembesaran tanaman.
Media tanam dapat dibuat dari campuran tanah, pupuk kandang, dan sekam padi dengan komposisi 1:2:3. Masukkan campuran tersebut ke dalam pot sesuai kebutuhan.
Dalam panduan yang dikutip dari Cybex Kementerian Pertanian RI, media tanam kemudian dapat diberi 20 gram pupuk NPK, 5 gram furadan, dan 1 liter asam humat.
Seluruh bahan sebaiknya dicampur secara merata sebelum digunakan sebagai media tanam.
3. Pindahkan bibit ke dalam pot
Bibit melon dapat dipindahkan ketika berumur sekitar 12-14 hari dan telah memiliki empat helai daun.
Sebelum proses penanaman, siram media terlebih dahulu agar kondisinya cukup lembap dan remah. Penanaman sebaiknya dilakukan pada sore hari.
Waktu tersebut membantu bibit beradaptasi dengan lingkungan baru dan mengurangi risiko tanaman mengalami stres setelah dipindahkan.
Setelah bibit berada di dalam pot, lakukan penyiraman secukupnya.
4. Pasang ajir agar tanaman dapat merambat
Melon merupakan tanaman yang membutuhkan penyangga agar pertumbuhannya dapat diarahkan ke atas. Karena itu, ajir perlu dipasang sejak tanaman mulai berkembang.
Ajir dapat dibuat menggunakan bilah atau potongan bambu dengan panjang sekitar 150-200 cm.
Tancapkan ajir dengan kuat ke dalam media tanam. Pastikan penyangga tidak mudah goyah karena nantinya harus menopang batang dan buah melon yang semakin besar.
5. Atur cabang dan pilih satu buah terbaik
Perawatan tanaman melon tidak hanya dilakukan dengan menyiram dan memberikan pupuk. Pemangkasan juga diperlukan untuk mengarahkan pertumbuhan tanaman.
Cabang tanaman dapat dipangkas untuk menentukan calon buah yang akan dipelihara. Calon buah yang baik umumnya dipilih dari cabang ke-7 hingga ke-12.
Untuk budidaya dalam pot, satu tanaman dapat difokuskan untuk membesarkan satu buah melon. Sementara cabang atau bakal buah lain dapat dipangkas agar nutrisi tanaman lebih terarah pada buah yang dipilih.
6. Berikan pupuk secara bertahap
Tanaman melon membutuhkan tambahan nutrisi selama masa pertumbuhan. Pemupukan susulan dapat dilakukan menggunakan pupuk NPK 16-16-16 dan KNO3.
Pupuk dapat diberikan dengan cara ditaburkan di sekitar tanaman atau dilarutkan terlebih dahulu menggunakan air sebelum disiramkan.
Dalam panduan tersebut, pemberian NPK antara lain dilakukan sebanyak 10 gram per pot pada 14 HST, 24 HST, 34 HST, dan 44 HST.
Selanjutnya, pada 54 HST digunakan pupuk dengan dosis 1 gram per liter air dan diberikan sebanyak 1 liter larutan per pot.
HST merupakan singkatan dari hari setelah tanam.
7. Perhatikan hama dan penyakit
Tanaman melon yang dibudidayakan di dalam pot tetap dapat terserang hama maupun penyakit. Karena itu, kondisi tanaman perlu diperiksa secara rutin, terutama bagian daun, batang, dan buah.
Pengendalian hama dapat dilakukan menggunakan insektisida yang sesuai, sedangkan penyakit tanaman dapat ditangani menggunakan fungisida sistemik sesuai kebutuhan.
Pada musim penghujan, bahan pengendali yang digunakan dapat ditambahkan zat perekat agar lebih mudah menempel pada permukaan tanaman, terutama daun.
Penggunaan pestisida sebaiknya mengikuti label, dosis, dan petunjuk keselamatan produk.
8. Kenali tanda melon siap dipanen
Tahap terakhir tentu saja menunggu buah melon matang dan siap dipanen.
Salah satu tanda kematangan dapat dilihat dari perubahan warna kulit buah. Kulit yang semula berwarna kehijauan akan berubah menjadi lebih kekuningan.
Melon yang matang juga biasanya mengeluarkan aroma khas yang lebih kuat. Selain itu, bagian ujung tangkai buah dapat menunjukkan tanda keretakan.
Jika sejumlah tanda tersebut sudah terlihat, buah melon dapat dipanen dan dinikmati.
Dengan menggunakan pot atau polybag, budidaya melon dapat dilakukan meski halaman rumah terbatas.
Kunci utamanya adalah menyiapkan media tanam yang sesuai, memberikan penyangga, mengatur cabang dan bakal buah, serta memperhatikan kebutuhan air dan nutrisi selama tanaman tumbuh.
Editor : Nur Pramudito