IHSG Anjlok, Jangan Panik! Ini 5 Hal yang Perlu Dilakukan Masyarakat

Annas Rohmanda Purbaningrum • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:57 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada Jumat (16/10/2026).
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada Jumat (16/10/2026).

RADARSOLO.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga membuat pasar keuangan Indonesia menjadi sorotan.

Kondisi ini mungkin membuat masyarakat khawatir, terutama terkait nasib tabungan, investasi, hingga harga kebutuhan sehari-hari. Namun, ada sejumlah langkah yang bisa dilakukan agar tidak gegabah mengambil keputusan di tengah gejolak pasar.

Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup anjlok 11,57 persen ke level 5.185.

Baca Juga: QRIS 0% Mulai 1 Oktober 2026, Ini Hitungan Potongan untuk Penjual di Atas Rp100 Ribu

Pelemahan tersebut terjadi setelah penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana untuk meninjau kembali klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Rencana tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham Indonesia. 

Lantas, apa yang perlu dilakukan masyarakat ketika IHSG anjlok?

1. Jangan Panik dan Hindari Keputusan Impulsif

Langkah pertama adalah tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena melihat berita pasar saham yang penuh warna merah.

Baca Juga: Mulai 1 Oktober 2026, Transaksi QRIS hingga Rp100 Ribu Bebas MDR

Bagi masyarakat yang memiliki saham, penurunan harga memang bisa mengurangi nilai portofolio. Perlu diingat, menjual seluruh saham secara spontan tanpa mempertimbangkan tujuan investasi dan kondisi perusahaan juga berisiko menimbulkan kerugian.

Sebaiknya, pahami terlebih dahulu penyebab penurunan pasar dan evaluasi kondisi investasi secara menyeluruh. Hindari mengikuti keputusan orang lain hanya karena takut kehilangan uang atau tertinggal peluang.

2. Periksa Kondisi Keuangan dan Siapkan Dana Darurat

Gejolak pasar bisa menjadi pengingat untuk memeriksa kembali kondisi keuangan pribadi. Pastikan kebutuhan pokok, biaya pendidikan, cicilan, dan pengeluaran rutin tetap menjadi prioritas.

Masyarakat juga perlu memastikan dana darurat tersedia untuk menghadapi kebutuhan mendesak, seperti biaya kesehatan atau kehilangan penghasilan. Dana untuk kebutuhan sehari-hari dalam waktu dekat sebaiknya tidak ditempatkan pada investasi berisiko tinggi.

Dengan memiliki cadangan keuangan yang memadai, masyarakat tidak perlu bergantung pada pencairan investasi ketika pasar sedang mengalami tekanan.

3. Evaluasi Investasi Sesuai Tujuan dan Profil Risiko

Bagi investor, penurunan IHSG merupakan waktu untuk mengevaluasi portofolio, bukan sekadar mengikuti pergerakan harga harian.

Periksa kembali tujuan investasi, jangka waktu penggunaan dana, serta kemampuan menanggung risiko. Investor yang membutuhkan uang dalam waktu dekat tentu memiliki pertimbangan berbeda dengan investor yang berinvestasi untuk tujuan jangka panjang.

Hindari pula keputusan membeli saham hanya karena harganya turun. Harga yang lebih murah belum tentu menunjukkan bahwa suatu saham sudah layak dibeli. Pelajari kondisi perusahaan dan risiko yang mungkin dihadapi sebelum mengambil keputusan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyoroti pentingnya penyusunan portofolio dan pengelolaan risiko dalam menghadapi volatilitas pasar keuangan. 

4. Jangan Langsung Menarik Tabungan dari Bank

Kabar IHSG ambruk juga dapat memunculkan kekhawatiran bahwa tabungan di bank ikut terancam. Padahal, simpanan bank berbeda dengan investasi saham.

IHSG mengukur pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), bukan saldo rekening tabungan masyarakat. Karena itu, penurunan indeks saham tidak otomatis mengurangi saldo tabungan di bank.

Masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi keuangan dan keamanan simpanannya, tetapi tidak perlu menarik uang secara terburu-buru hanya karena pasar saham sedang turun.

Untuk mengetahui perlindungan simpanan, masyarakat dapat memeriksa ketentuan penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), termasuk batas nilai simpanan dan persyaratan yang berlaku.

5. Ikuti Informasi dari Sumber Tepercaya

Di tengah gejolak pasar, informasi yang beredar di media sosial belum tentu akurat. Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati terhadap kabar yang belum terverifikasi, prediksi keuntungan pasti, maupun ajakan investasi yang menjanjikan hasil besar dalam waktu singkat.

Pantau informasi dari sumber resmi, seperti BEI, OJK, Bank Indonesia, dan lembaga keuangan terkait. Jika memiliki investasi, gunakan informasi tersebut untuk memahami situasi sebelum menentukan langkah berikutnya.

Masyarakat juga perlu mewaspadai pihak yang memanfaatkan kepanikan pasar untuk menawarkan investasi mencurigakan atau meminta transfer uang dengan dalih menyelamatkan aset.

Editor : Annas Rohmanda Purbaningrum
indeks harga saham gabungan yang perlu dilakukan masyarakat IHSG