Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Mengenal KRAT Hartoyo Budoyonagoro, Perias Khusus Keraton Surakarta-2

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 21 Februari 2020 | 21:22 WIB
BELAJAR GRATIS: Hartoyo bersama para murid yang mendalami tata rias ala Keraton Kasunanan Surakarta. 
BELAJAR GRATIS: Hartoyo bersama para murid yang mendalami tata rias ala Keraton Kasunanan Surakarta. 
Prosesi merias dan tata busana di Keraton Kasunanan Surakarta berbeda dengan masyarakat umum. Punya kekhasan. Suasananya pun dirasakan cukup sakral. Sebab itu, selain fisik, harus memantapkan mental.

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

TERDAPAT perbedaan mendasar pada cara gelungan dan berbuasana ala Keraton Kasunanan Surakarta. “Tiap penari maupun gusti-gusti (keluarga raja) itu punya ciri sendiri. Awalnya juga belum tahu. Maka belajarnya ya lewat proses dan pengalaman,” terangnya.

Selain itu, suasana sakral juga dirasakan Hartoyo saat merias putra-putri kerajaan. Maka tak heran Hartoyo juga memiliki ritual rutin seperti tidak makan nasi sehari penuh sebelum merias putra-putri raja. Hal tersebut agar lebih mantap ketika melaksanakan tugasnya.

“Mau dipikir bagaimana pun, (seorang) pria memakaikan busana pada perempuan itu pasti ada godaannya. Laku itu untuk menekan hawa nafsu. Kalau teknis lainnya untuk menghindarkan dari godaan maupun pikiran kotor, saya memakaikan dodot harus lewat (sisi) belakang,” terangnya.

Keseriusan dan kedisiplinan Hartoyo merias keluarga Keraton Kasunanan Surakarta mengantarkannya mendapatkan kepercayaan merias Raja Keraton Kasunanan Paku Buwana (PB) XII dua tahun sebelum wafat pada 11 Juni 2004.

Tepatnya saat upacara adat Tumbuk Yuswa Ageng. Pengalaman perdana itu membuat Hartoyo deg-degan. Bagaimana tidak, tak sembarang orang boleh menghadap raja. Tapi dia malah dipercaya menyiapkan busana raja dan meriasnya.

“Karena hendak melayani raja, saya putuskan puasa selama tiga hari penuh sebelum hari besar itu,” kenangnya.

Hari H pun datang. Konsentrasi penuh untuk merias dan menata busana sang raja. Saking fokusnya, meskipun sudah sekitar 18 tahun berlalu, Hartoyo masih ingat urutan memakaikan busana PB XII.

Mulai dari pemakaian kain, stagen, sabuk, epek timang, agem/beskap, aksesori (kalung ulur dan bros secukupnya), kuluk, duwung/keris, dan selop.

“Itu urutan saat Jumenengan masa PB XII. Agak berbeda dengan upacara penobatan takhta saat PB XIII dilantik menjadi raja sepeninggalan PB XII,” ujar dia.

Di sela-sela prosesi merias PB XII, Hartoyo mengagumi kewibawaan dan karisma PB XII. Setelah tugasnya rampung, Hartoyo diizinkan berfoto dengan PB XII. “Ya akhirnya bisa foto sama raja meski agak nggak percaya diri. Wong saya itu dulu cuma pakai kaus dan basah kena keringat,” ujarnya.

Ketika estafet kepemimpinan Keraton Kasunanan Surakarta berlanjut ke PB XIII Hangabehi, Hartoyo tetap dipercaya menjadi perias keraton. Kemampuaannya semakin terasah. Dia tak meninggalkan ritual rutin saat hendak merias dan memakaiakan busana raja, yaitu berpuasa.

Momen spesial bagi Hartoyo adalah saat PB XIII dinobatkan sebagai raja pada 2004. Kala itu, dia mendapat kesempatan memilihkan secara langsung kostum yang hendak dipakai raja.

“PB XII sudah disiapkan untuk busananya, (saya) tinggal merias. Kalau PB XIII, (saya) dipercaya memilihkan busana terbaik yang akan dikenakan, termasuk memilihkan keris yang akan dipakai. Jadi tak boleh asal. Tapi sesuai kemantapan hati. Seakan-akan sudah ada yang menuntun,” bebernya.

Banyak hal unik ditemui Hartoyo ketika merias raja. Di antaranya dalam pemberian honor merias. Pada masa PB XII, satu buah uang koin senilai Rp 1000 selalu menjadi cara berterima kasih sang raja untuk memberikan upah lebih, sedangkan pasa PB XIII satu lembar uang lawas Rp 1.000.

“PB XII itu kalau memberi uang pasti lebihnya koin Rp 1.000. Kalau PB XIII selalu memberikan uang kertas. Misalnya upahnya Rp 500, pasti ada lebihnya Rp 1.000. Sampai sekarang masih saya simpan (uang Rp 1.000) tapi tidak boleh ditunjukkan,” katanya.

Sementara itu, sekitar lima tahun terakhir, Hartoyo tak lagi merias raja mengingat adanya konflik internal Keraton Kasunanan Surakarta. Sehari-hari, Hartoyo mengajar mata kuliah tata busana di ISI Surakarta dengan status dosen luar biasa.

“Mengajar siapa saja yang pengin belajar soal rias dan tata busana tradisi. Saya akui, kalau pakem saya memang tidak tahu. Paling tidak yang saya ajarkan ini tradisi yang dekat dengan aslinya (keraton) dan semuanya gratis,” beber dia.

Di kediamannya di Ngringo, mahasiswa ISI maupun warga mancanegara yang ingin belajar tata rias ala Keraton Kasunanan Surakarta dilayani dengan hati terbuka. Semua itu demi membantu melestarikan tradisi leluhur.

“Saya yakin tradisi ini tidak akan punah. Karena seberapa pun zaman berkembang, peminat tradisi itu pasti ada. Masih ada peminat dan yang berupaya melestarikan,” tegasnya. (*/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#perias #Keraton #surakarta #KRAT Hartoyo Budoyonagoro