Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cerita Peringatan Ulang Tahun Gereja Tertua di Solo saat Pandemi Covid

Perdana Bayu Saputra • Kamis, 30 April 2020 | 23:07 WIB
Pemotongan tumpeng peringatan ulang tahun GKJ Margoyudan tahun ini.
Pemotongan tumpeng peringatan ulang tahun GKJ Margoyudan tahun ini.
Rencana merayakan ulang tahun ke-104 Gereja Kristen Jawa (GKJ) Margoyudan gagal terlaksana karena muncul wabah pandemi korona. Sebagai gantinya, gereja tertua di Kota Bengawan ini hanya menggelar syukuran sederhana. Seperti apa acaranya?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo, Radar Solo

BERDIRI sejak 30 April 1916, GKJ Margoyudan menyandang gelar gereja paling tua di Kota Solo. Kamis (30/4) ini para jemaat gereja setempat merayakan ulang tahun berdirinya gereja ini ke-104. Bila dilihat dari usianya, tentu jemaatnya pun mencapai ribuan orang.

“Berkaitan dengan ulang tahun gereja biasanya ada serangkaian giat bersama yang melibatkan seluruh jemaat GKJ Margoyudan. Setelah ibadah syukur biasanya ada berbagai kegiatan lain, seperti kegiatan jalan sehat bersama 4 ribuan umat, baik dari Solo dan sekitarnya maupun dari berbagai provinsi lain,” kata Widy Kristiantoro, 48, majelis pendamping tim multimedia GKJ Margoyudan, Rabu (29/4).

Kali ini memang sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Perayaan ulang tahun gereja yang biasanya melibatkan ribuan orang, kini hanya dipersiapkan oleh segelintir orang di tengah imbauan physical distancing dan social distancing selama Covid-19.

“Biasanya banyak jemaat yang terlibat, baik salama menyiapkan ibadahnya sampai menjadi panitia berbagai kegiatan lainnya. Karena korona ini jadi tidak begitu banyak yang ikut berpartisipasi,” jelas dia.

Dengan berat hati, pengurus gereja memutuskan meniadakan giat ulang tahun yang bersifat melibatkan banyak orang. Giat jalan sehat yang rutin digelar sehari setelah ulah tahun pun dianulir demi kepentingan yang lebih besar. Begitu juga dengan upacara peribadatan yang biasa dihadiri ribuan jemaat diganti dengan sembahyang online yang disiarkan secara langsung melalui laman Youtube, Instagram, dan Facebook gereja setempat.

“Karena pandemi akhirnya para majelis gereja memutuskan untuk mengubah susunan kegiatan. Hasilnya berupa perayaan ibadah syukur secara online yang disiarkan secara live streaming. Ya sudah, kami selaku tim multimedia langsung menyiapkan alat-alatnya,” kata Widy.

Photo
Photo
GKJ Margoyudan dulu.

Modal pengalaman beberapa pekan menggelar ibadah online, tim multimedia pun seakan lebih sigap dalam persiapan rekaman ibadah syukur. Lewat rapat yang bisa dibilang mendadak, segala persiapan dan kebutuhan mampu disiapkan dalam sepekan. Akhirnya, hari yang dinanti pun tiba. Segala pengurus dan jemaat yang terlibat mulai menyiapkan untuk proses pengambilan video dan lain sebagainya.

“Dua hari kami rekaman untuk video dan suaranya. Setelah itu proses editing selama beberapa hari. Dan akhirnya semua materinya sudah siap. Live streaming Kamis petang (30/4), sekitar pukul 18.30,” beber dia.

Meski terbilang mendadak, semua orang yang terlibat tampak antusias dalam kegiatan itu. Tua muda tampak padu dalam menyusun berbagai kegiatan. Rasa kebersamaan pun terbentuk dengan sendirinya tanpa dikomando antara satu dengan lainnya hingga tampak padu dalam berbagai kegiatan di dalamnya. Tentu saja demi upacara ibadat syukur ulang tahun ke-104 bisa berjalan lancar dan diikuti setiap jemaat yang masih menjalankan program mengurangi aktivitas diluar ruangan selama KLB Korona ini.

“Tidak banyak yang terlibat, tiga pendeta kami yang memimpin, komisi ibadah termasuk para penyanyi untuk puji-pujian, dan kami multimedia. Anak muda maupun orang tua saling bantu untuk menyukseskan perekaman ibadah online ini,” kata Davin Sam Eden, 25, wakil ketua Komisi Pemuda GKJ Margoyudan.

Davin yang bertugas sebagai juru kamera pun dengan hati-hati mengabadikan setiap prosesi dalam ibadah tersebut. Dia pun berupaya agar sudut gambar yang dia ambil terlihat jelas karena bakal disiarkan secara langsung.

“Sudah cukup lama sih pegang kamera, jadi sudah hafal bagaimana cara pegangnya. Dan ini kan ibadah. Jadi kalau ada kesalahan sedikit ya tidak apa, tetap gas,” kata dia.

Selama proses ibadah berlangsung, imbauan pemerintah soal jaga jarak tetap dilakukan. Setiap orang yang mengambil bagian dalam kegiatan itu pun dengan sadar menjaga jarak antara satu dengan yang lain. Termasuk tim multimedia yang bersama-sama memastikan perekaman ibadah tersebut berjalan lancar.

Gereja yang merupakan cikal bakal dari seluruh GKJ di eks Karesidenan Surakarta ini pun memiliki harapan besar bahwa Indonesia mampu melewati masa pandemi ini. Jemaat berharap, di ulang tahun ke-105 tahun depan situasi bisa kembali normal, agar segala giat peribadatan bisa berjalan normal dan melibatkan seluruh jemaat gereja. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#solo #peringatan ulang tahun #gereja kristen jawa margoyudan #gereja tertua #pandemi covid-19