COSPLAY adalah istilah bagi orang yang hobi berkostum ala karakter dalam film animasi, komik (manga), maupun video game. Berasal dari dua gabungan kata dalam bahasa Inggris, yakni costum and play.
Biasanya, pehobi cosplay atau akrab disebut cosplayer hanya untuk kesenangan saja. Namun baru-baru ini mereka mulai menunjukkan aksi kepedulian sosialnya memanfaatkan koleksi kostumnya.
Di antaranya Agus Widanarko, 39. Warga Sukoharjo ini mengoleksi kostum superhero untuk mendukung aksi sosialnya maupun penyuluhan tentang bahaya narkoba. Misalnya memberi kejutan ulang tahun anak yatim maupun duafa.
Kemudian sosialisasi pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS) seiring mewabahnya korona (Covid-19) di Karanganyar lalu. Tak hanya itu, kostum superheronya juga digunakan untuk sarana penyuluhan antinarkoba, yang sasarannya pelajar dan anak-anak.
"Saya tidak tarik biaya, justru keluar biaya, sebagai bentuk sedekah. Tapi, alhamdulilah selalu ada balasan dari Allah, besoknya diundang jadi pembicara apa gitu," beber pria yang akrab disapa Danar ini.
Baginya, aksi yang paling berkesan saat satu kampung pakai kostum di momentum Pemilu 2019 lalu. Bukan hanya hanya superhero, tapi tokoh wayang. Sampai puluhan warga ikut memakai kostum untuk mencoblos saat pemilu.
"Respon masyarakat, terutama anak-anak sangat tinggi. Dengan kostum ini, pesan yang ingin disampaikan bisa lebih mengena. Pak RT sampai mengapresiasi. Saat terbit di koran, langsung dibingkai karena saking senengnya," ujarnya.
Tak jauh beda dengan Japanholic Solo. Mereka juga aktif memberikan sosialisasi melalui aksi-aksi sosial. Beberapa waktu lalu, Japanholic Solo mengadakan bagi takjil on the road dengan mengenakan kostum cosplay. Mereka juga pernah menggelar aksi peduli untuk korban bencana Lombok pada 2019 silam.
”Kami nge-dance dan tampil dengan kostum lengkap. Kami kumpulkan donasi untuk korban bencana di sana. Nah melalui kegiatan ini kami ingin sampaikan ke masyarakat bahwa kami tidak hanya sekadar hobi dan senang-senang saja. Tapi juga peduli terhadap sesama, sesuai dengan kemampuan kami membantu,” beber Ketua Japanholic Solo, Adam Iskandarsyah beberapa waktu lalu.
Diakui dia, masih ada masyarakat yang memandang sebelah mata para cosplayer. Mayoritas beranggapan cosplay hanyalah sekadar hobi. Bahkan sebagian lainnya menyamakan cosplayer dengan badut. ”Banyak pihak yang merasa belum bisa menghargai karya seni ini. Untuk itu, kami akan terus menunjukkan cosplayer juga punya jiwa sosial tinggi,” jelasnya. (kwl/aya/adi) Editor : Perdana Bayu Saputra