Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cerita Sayahabuddin Hylmi Menghafal 30 Juz Alquran, Pilih Menyendiri

Perdana Bayu Saputra • Selasa, 12 Mei 2020 | 23:44 WIB
Muhammad Sayahabuddin Hylmi
Muhammad Sayahabuddin Hylmi
Mempertankan hafalan Alquran tentu bukan perkara mudah. Apalagi di tengah Pandemi Covid-19 yang mengharuskan para hafiz untuk tetap di rumah. Salah seorang hafiz Muhammad Sayahabuddin Hylmi membagikan pengalamannya selama menghafal 30 juz Alquran.

RAGIL LISTYO, Solo, Radar Solo

MAHASISWA Program Studi (Prodi) Informatika Fakuktas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sebelas Maret (UNS) ini mengaku belajar menghafal Aquran sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Hylmi, sapaan akrabnya, belajar menghafal ketika mengikuti Madrasah Diniyah (Madin). Saat selesai Madin, dia berhasil menghafal 1,5 juz.

”Kemudian mendapat motivasi menghafal Alquran dulu awalnya nurut aja sama orang tua. Sampai dimasukan Pondok Pesantren (Ponpes) Tahfidzul Quran Ibnu Abbas Klaten. Satu tahun pertama sempat tidak betah pengin keluar dari pesantren," ungkapnya pada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (11/5).

Hylmi mengaku minder dan tidak betah. Sebab, di ponpes semua harus dilakukan mandiri. Apalagi Hylmi juga minder dengan teman-temannya yang mayoristas berasal dari sekolah Islam. Namun, orang tuanya terus menguatkan dan mendukung Hylmi. Apalagi orang tuanya sering mengingatkan keutamaan-keutamaan penghafal Alquran yang sangat banyak. Akhirnya Hylmi menjadi lebih termotivasi untuk terus menghafal.

"Kemudian saya meluruskan niat. Bahwa tujuan menghafal Alquran untuk membahagiakan orang tua serta dapat memberi manfaat bagi orang lain," katanya.

Hylmi mulai menekuni menghafal Alquran ketika belajar di ponpes. Berlanjut ke jenjang SMP dan SMA. Ada trik khusus baginya untuk bisa cepat menghafal ayat demi ayat. Dia memilih menyendiri. Lokasinya di masjid, gazebo, kelas, dan di mana saja yang membuatnya nyaman. Caranya membaca berulang-ulang, lalu membaca kembali tanpa melihat mushaf.

”Lulus SMP saya dapat menyelesaikan 14 juz. Kemudian saya dapat menyetorkan hafalan 30 juz saat kelas XII. Akan tetapi yang sudah dimurajaah atau dilancarkan baru 15 juz. Cara menghafal saya dengan membaca berulang-ulang sehalaman Alquran. Kalau benar-benar agak kesulitan, sambil dibaca artinya lalu dihafalkan pelan-pelan," kata pemuda kelahiran Klaten, 19 Februari 1998 ini.

Selama pandemi Covid-19, Hylmi kembali ke rumahnya di Klaten. Demi mempertahankan hafalan, dia selalu melakukan murajaah secara rutin dan terus menerus. Bahkan ada waktu khusus untuk menghafal Alquran. Biasanya selepas Salat Magrib sampai waktu Isya. Jika ada halangan, akan diganti waktu lain selepas salat Fardu.

"Cara menghafal setiap orang berbeda-beda. Lebih baik fokus 10 menit, daripada menghafalkan berjam-jam, tetapi tidak fokus. Selain itu, lebih baik mempertahankan hafalan daripada menambah hafalan. Karenanya saya harap bisa istiqomah memurajaah hafalan saya," ungkapnya.

Selain itu, Hylmi berharap ke depannya bisa cepet lulus kuliah dan bisa bermanfaat untuk orang lain. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 seperti ini, mempertahankan hafalan bisa jadi amalan untuk mengisi waktu selama Ramadan. (rgl/adi/ria)  Editor : Perdana Bayu Saputra
#hafiz alquran #cerita inspiratif