ANGGA PURENDA, Klaten, Radar Solo
BEBERAPA sepeda motor terparkir di halaman bangunan bercat hijau ini. Di depan pintu masuk tampak bilik transparan. Bagi siapa saja yang akan masuk ke rumah singgah itu harus melewati bilik ini untuk disemprot disinfektan.
Selama pandemi, rumah singgah yang dikelola Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (Dinsos dan P3AKB) Klaten ini memang menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Selain harus melewati bilik sterilisasi, siapa saja yang masuk ke rumah singgah ini wajib cuci tangan pakai sabun hingga wajib menggunakan masker.
“Ada 10 petugas yang ada di rumah singgah ini. Tetapi sistemnya piket, setiap piket terdiri dari tiga orang,” jelas Pengawas Rumah Singgih Dinsos dan P3AKB Klaten Wahyu Adi Nugroho.
Wahyu menjelaskan, PGOT yang tiba di rumah singgah memang begitu rentan membawa bebagai penyakit. Mengingat mereka sebelumnya tidak diketahui asalnya hingga sudah melakukan perjalanan di mana saja. Maka dari itu, di tengah kondisi seperti saat ini protokol pencegahan Covid-19 diterapkan.
Dia mengungkapkan, selama sebulan terakhir ini sudah menerima PGOT hingga 30 orang. Mereka kiriman dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Klaten hingga sejumlah polsek. Paling banyak dikirim ke rumah singgah adalah mereka yang memiliki gangguan jiwa.
“Saat ini masih ada dua orang di rumah singgah. Seorang laki-laki dan perempuan yang terlantar. Sedangkan yang lain sudah diambil oleh keluarganya hingga dikirim ke panti,” jelasnya.
Seorang pekerja sosial (peksos) yang bertugas di rumah singgah Aditya Nugrahanto, 25, mengaku waswas saat menerima PGOT di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini. Sebagai antisipasi, dia selalu melengkapi diri dengan mengenakan masker hingga sarung tangan.
“Tentu ada perasaan waswas, tetapi ini kan sudah tugas kami. Jadi kami melengkapi diri dengan alat pelindung diri. Kami juga masih membutuhkan alat pengecek suhu tubuh. Tapi ketika mereka (PGOT) datang, protapnya kami minta masuk ke bilik semua,” jelasnya Aditya yang sudah bekerja di rumah singgah sejak 2016 ini.
Aditya mengaku tetap menjalani pekerjaannya di tengah penyebaran Covid-19 yang masif. Terlebih dia juga memiliki tugas untuk memandikan hingga memberikan makan kepada PGOT. Dari pekerjaannya itu, dia bisa belajar karakter dari masing-masing penghuni rumah singgah.
“Suka dukanya sendiri yang pasti seru. Kami jadi tahu kalau orang ini membutuhkan kita. Kami sebagai manusia saling toleransi dan menolong,” ujarnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra