Dosen Arsitektur Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Alpha Febela Priyatmono mengatakan, Langgar Merdeka memiliki kajian sejarah yang unik. Meski ada dua versi sejarah tentang lokasi penjualan candu. Literasi pertama menyebutkan lokasi penjualan candu di Langgar Merdeka. Namun, versi lain menyebut jika lokasi penjualan candu di seberang jalan. Dan lokasi Langgar Merdeka menjadi tempat berkumpul. Dan dimungkinkan menjadi tempat mencandu.
“Terlepas dari sejarah, pembangunan dilakukan pada 1942 dan diresmikan 1946. Lalu ketika agresi militer II Langgar Merdeka menjadi salah satu target pengeboman. Namun, ternyata luput dan justru rumah sekitar langgar yang terkena bom Belanda,” terangnya.
Arsitek Langgar Merdeka terhitung unik. Luas lahan hanya 179 meter persegi. Namun, ada menara langgar yang masih aktif hingga kini menjadi satu dengan badan Langgar Merdeka. Di sisi lain, komposisi bangunan terbuat dari 50 persen material dinding dan 50 persen material kayu jati. Dan hampir keseluruhan material bangunan masih asli.
“Struktur bangunan Langgar Merdeka seperti bangunan tropis khas Jawa Limasan. Bentuk bangunan tropis ini biasanya ada tritisan dan gaya masjid lengkung. Tapi di Langgar Merdeka tidak ada. Dan menara yang menyatu dengan langgar itu dikarenakan keterbatasan lahan,” kata Alpha yang juga menjabat ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan itu.
Alpha menyebutkan bagian yang menjadi identitas Langgar Merdeka adalah ornamen bulan bintang. Di mana ornamen tersebut menjadi khas Turki Ustmani. Dan ornamen tersebut cukup panjang dan ditemui di jendela-jendela serta pintu langgar. Tidak menutup kemungkinan, lanjutnya, terjadi hubungan ekonomi dengan pedagang Turki pada masa itu.
“Arsitek langgar maupun masjid di Jawa yang penting tempat tidak najis. Dan di Langgar Merdeka pembangunannya sudah memperhatikan kaidah pembangunan masjid dan telah dipikirkan matang,” katanya.
Hal itu terlihat dari pemisahan tempat wudu, tangga naik, dan shaf laki-laki dan perempuan. Bagian-bagian itu dipisah dengan papan kayu setinggi 2 meter. Ditambah tempat imam yang diberi pintu keluar sisi kiri dan kanan. Yang dimaksudkan agar ketika imam batal bisa keluar ke pintu tersebut. Dan jamaah di belakang imam bisa menggantikan.
Selain itu, bangunan Langgar Merdeka cukup kokoh meski tanpa benton. Hanya mengandalkan dinding penyangga sebagai struktur pokok utama. Dinding penyangga tersebut cukup tebal untuk menahan balok-balok kayu. Yang fungsinya untuk menahan lantai dua yang terbuat dari papan kayu jati. Meski begitu, kondisi bangunan sangat kokoh. Hingga konservasi bangunan pada 2008 silam, banyak material bangunan yang tidak diubah maupun diganti.
“Konservasi bangunan tersebut didanai langsung oleh pemerintah pusat. Dalam renovasi tersebut kami juga menerapkan kajian sejarah Langgar Merdeka. Kami diskusikan dengan ahli waris, tokoh masyarakat ,dan pengkaji sejarah serta arsitek,” imbuhnya.
Kajian sejarah tersebut dilakukan agar proses renovasi dilakukan tanpa mengubah material, tata ruang, dan bentuk bangunan asli. Hanya saja dilakukan pergantian genting karena sudah tua. Sedangkan platfom, kerangka atap, material bangunan serta menara masih asli. Hanya saja pada menara diberi tambahah lantai tritisan. Yang sebelumnya ada, namun sudah hilang. “Bahkan di menara Langgar Merdeka ada sarang burung hantu dan ada telur-telurnya. Itu juga tidak kami apa-apakan. Masih ada sampai sekarang,” ujarnya. (rgl/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra