PEMANFAATAN lingkungan sekolah untuk perkebunan harus dikembangkan. Selama ini masih sedikit sekolah melakukan ini. Rata-rata hanya menanam tanaman hias saja. Padahal sekolah bisa mengoptimalkan lahannya untuk ditanami berbagai varietas tanaman seperti sawi, selada, pakcoy, seledri, bayam dan lainnya. Halaman depan, samping atau belakang sekolah bisa menjadi sasaran.
Sekolah pada umumnya memanfaatkan teras sekolah untuk ditanami tanaman hias menggunakan pot. Secara ekonomis, tanaman hias tidak terlalu mendatangkan profit bagi sekolah. Lain halnya jika sekolah menanam berbagai varietas tanaman sayur. Jika dikelola dengan serius, akan mendatangkan profit yang tinggi.
Tanaman sayur tidak hanya bernilai tinggi, baik dari segi kesehatan maupun ekonomi, tetapi juga memiliki nilai estetis atau keindahan. Sekolah akan tampak segar dengan barisan tanaman sayur yang hijau. Hasil panennya pun dapat dimanfaatkan untuk konsumsi sendiri atau dijual ke masyarakat.
Program kebun agro sekolah merupakan salah satu program dalam rangka memanfaatkan lingkungan sekolah. Program ini tentu harus didukung oleh semua warga sekolah. Siswa merupakan salah satu komponen penting. Kedisiplinan siswa dalam merawat tanaman turut menjadi penentu suksesnya program kebun agro sekolah ini.
Mustari (2014: 35) menjelaskan bahwa disiplin adalah tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Sesuai pendapat Mulyasa (2010: 191) bahwa disiplin adalah suatu keadaan tertib, ketika orang-orang yang tergabung dalam suatu system tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senang hati.
SD Negeri Kepuharjo merupakan salah satu sekolah yang memanfaatkan lingkungan sekolah untuk dijadikan kebun agro sekolah. Program kebun agro sekolah dijalankan oleh siswa kelas IV. Namun pada pelaksanaannya, terdapat suatu permasalahan yaitu kurangnya disiplin siswa dalam merawat tanaman tersebut. Untuk mengatasi hal tersebut, guru membuat sebuah buku, yaitu buku pantau agro sekolah (Bupasah).
Bupasah dibuat khusus agar siswa tertarik untuk membuka buku dan mengisi kolom-kolom pemantauan di dalamnya. Bupasah berbentuk buku dengan ukuran A4, sampul depan berupa gambar sekolah dan siswa menanam. Bagian dalam buku terdapat petunjuk pengisian buku, tabel pengamatan, dan saran dari guru. Tabel pengamatan terdiri dari nomor, hari, tanggal, kegiatan yang dilakukan (menyiram, menghilangkan gulma, dan merawat lingkungan sekitar kebun) serta tandatangan.
Sebelum pelaksanaan penggunaan Bupasah, guru memberikan sosialisasi kepada siswa. Guru menjelaskan tentang tujuan dibuat, isi buku dan cara menggunakan Bupasah. Sosialisasi diberikan kepada 22 siswa kelas IV SD Negeri Kepuharjo. Pada sosialisasi tersebut, guru juga menjelaskan tugas yang harus dilakukan siswa setiap hari.
Setiap hari siswa harus mengisi Bupasah setelah merawat tanaman. Kegiatan merawat tanaman dilakukan pada waktu jam istirahat. Setiap siswa mempunyai dua tanaman untuk dirawat dan diamati. Setelah siswa mengisi, buku ini dikumpulkan di meja guru. Hal ini untuk memudahkan guru dalam memantau kedisiplinan siswa.
Selain melihat dari hasil Bupasah, guru juga memantau selama proses merawat tanaman pada waktu jam istirahat. Ketika tanaman sudah siap panen, siswa bersama guru memanen tanaman tersebut. Hasil panen sebagian untuk sekolah dan sebagian lagi dibawa pulang siswa untuk dimasak bersama orang tua di rumah.
Siswa antusias dalam merawat tanaman dan mengisi Bupasah. Sikap disiplin siswa dalam merawat tanaman pun meningkat. Sebelum adanya penggunaan Bupasah, jumlah siswa yang rutin merawat tanaman hanya lima, dengan persentase 23 persen. Setelah diterapkan Bupasah, jumlah siswa yang rutin merawat tanaman dengan baik mencapai 16 atau 73 persen. Hal tersebut membuktikan bahwa penggunaan Bupasah dapat meningkatkan sikap disiplin siswa dalam merawat tanaman. (*) Editor : Perdana Bayu Saputra