Selain K-Popers, sebutan untuk fans Korean Pop (K-Pop), drakor juga merambah ke berbagai kalangan. Mulai dari anak sekolah, remaja kuliahan, pegawai kantoran, sampai ibu-ibu rumah tangga. Kuswendari Listyaningtri Herdiyanti adalah salah satunya.
Tyan, sapaan akrabnya mulai menyukai K-Pop pada 2011. Sebelumnya, pegawai BUMN ini lebih dulu suka drama telenovela (drama Amerika Latin) saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia suka menonton drama, untuk melepas penat dan mengisi waktu luang.
Full House menjadi first love drakornya. Tapi Reply 1988 adalah drakor yang paling membekas di hati. Drakor tersebut mengambil setting waktu pada 1988. Berlokasi di Korea Selatan. Drama ini bercerita tentang kisah lima orang remaja yang tinggal bertetangga dalam satu gang di Ssangmun-Dong.
Female Lead diperankan oleh Lee Hyeri sebagai Deoksun. Dia satu-satunya perempuan dalam lingkaran persahabatan yang dikelilingi oleh empat laki-laki. Yaitu Ryu Jun-yeol sebagai Kim Jungwan/Jungpal, Go Kyungpyo sebagai Sung Sun-woo, Lee Dong-hwi sebagai Ryu Dong-ryong, dan Park Bo-gum sebagai Choi Taek.
“Deoksun si ceroboh dan pemalas, namun selalu ceria dan tekad kuat. Dia anak kedua dari tiga bersaudara. Berasal dari keluarga miskin yang tinggal di basement rumah Jungpal. Sementara Jungpal si tsundere, lelaki penuh gengsi, anak kedua dari keluarga kaya yang menang dari hasil lotre. Meskipun mereka OKB (orang kaya baru), tapi mereka tidak sombong dan selalu berbagi dengan tetangganya,” ungkap Tyan menerangkan satu per satu pemeran drakor favoritnya itu.
Ada Sunwoo, si anak terpintar di sekolahnya, anak dari ibu single parent yang miskin. Sehingga ibunya memerlukan uang tambahan dan rela bekerja sambilan di malam hari sebagai tukang bersih-bersih sauna. Tapi Sunwoo bisa membuktikan kesuksesannya menjadi dokter.
Lalu Dongryong, si mood maker yang suka caper, anak kepala sekolah yang merasa selalu kesepian karena kedua orang tuanya sibuk.
“Kemudian Taek si polos dan pendiam, seorang pemain Baduk (permainan papan asal Tiongkok) profesional dan anak terkaya di gang Ssangmun-dong,” sambungnya.
Selama menonton drakor ini, Tyan seperti diajak menaiki roller coaster. Dalam satu episode, ia dan penonton lainnya dibawa larut bersama kisah pahit manisnya perjalanan persahabatan dan ikatan kekeluargaan.
“Ada rasa lucu ketika geng ibu-ibu diketuai ibu Jungpal si Cheetah Omma mengikuti festival menyanyi. Juga rasa sedih dan khawatir ketika mengetahui anggota keluarga dan tetangganya sakit. Tak ketinggalan rasa haru ketika para ayah mengungkapkan rasa sayang kepada anak-anaknya dan sebaliknya. Ada rasa kangen ketika melihat pernak-pernik dan momen penting era 80-90an lengkap dengan kostum dan dandanan yang apik. Dilengkapi adegan saling berbagi dan mengantarkan makanan serta tradisi jadul lainnya yang akan membuat orang akan merasa ‘iya ya dulu tuh kita kayak gitu’. Drama ini bisa dibilang drama yang dikemas paling relate dan rasional dengan kehidupan sehari-hari,” bebernya.
Drama ini bukan drama bucin. Tapi mampu mengaduk-aduk perasaan penonton sepanjang menonton. Mengambil alur cerita flash back narasi Deoksun dewasa dengan sesosok pria misterius sebagai suaminya. Membuat penonton selama 20 episode menerka-nerka ‘siapa ya yang nantinya jadi suami Deoksun? Pasti si A nih, iya kan?’
“Drama ini sudah memenangkan banyak penghargaan, fans pun sulit dibuatnya move on sehingga drama ini patut untuk ditonton,” imbuhnya.
Sebagai pecinta drakor, Tyan sangat mengapresiasi keberhasilan Reply 1988. Memang usia tidak bisa membohongi selera. Kala itu, Tyan sempat nge-fans dengan drama saeguk (kolosal) yang pernah menjadi trend di Tanah Air. Menyusul kesuksesan Angling Darmo dan Misteri Gunung Merapi.
“Semakin dewasa, semakin memilih dan memilah yang berkualitas. Berkualitas tidak selalu berat jalan ceritanya. Tapi bisa juga drama yang ringan, menghibur, dan mengandung pesan kehidupan. Meski tak dipungkiri aktor dan aktris menjadi magnet utama sebuah drama. Tapi jalan cerita ternyata adalah kunci pemikatnya,” pungkasnya. (aya/nik) Editor : Perdana Bayu Saputra