Mulai dari pengoptimalan peran, musik, tata lampu, dan desain panggung. “Kami jadi punya waktu lebih lama untuk menyiapkan pementasan. Misalnya efek sungai, hutan, kerajaan dan sebagainya disiapkan lebih baik. Saya sebagai sutradara bisa memaksimalkan naskah dialog, pemain juga makin memahami perannya,” urai Benedictus Billy Aldi Kusuma.
Antusiasme masyarakat menyaksikan WOS di tengah mewabahnya korona cukup menggembirakan. Dari sekitar 500 kursi penonton, sekitar setengahnya terisi. Jumlah lebih banyak saat akhir pekan.
Ratusan penonton tersebut berasal dari beragam kalangan. Di antaranya mahasiswa. Mereka tak beranjak dari tempat duduknya hingga pementasan rampung. Itu yang membuat Billy bangga.
"Dengan fenomena itu, regenerasi penikmat seni tradisi, khususnya wayang orang sudah terjadi. Penonton bukan hanya dari kalangan yang berumur 40 tahun ke atas," ungkapnya.
Pementasan WOS sempat dilaksanakan secara virtual pada Mei hingga Juni. Itu guna membuktikan WOS masih eksis. Tapi, lanjut Billy, dari sisi pertunjukan seni, tidak ada rohnya. Karena spirit WOS ada di penonton.
“Ketika mendengar tepuk tangan penonton, ketika mereka tertawa, dan respons lainnya, itu yang menjadi penyemangat dalam pentas,” tegasnya.
Sementara itu, pada Juni lalu, WOS genap berusia 110 tahun. Bukan perkara gampang tetap eksis selama lebih dari satu abad. Kemasan pementasan harus banyak inovasi, tanpa mengubah pakem cerita. Itu menjadi tugas Billy dan rekan-rekan lainnya. Ide-ide dibahas bersama, sehingga terus fresh.
“Kami menggandeng teman-teman ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta dan SMKI (SMK Negeri 8 Surakarta), sehingga dapat memunculkan wajah-wajah baru kepada penonton. Ini menjadi cara kami mempertahankan eksistensi," tandasnya. (atn/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra