Mepetnya persiapan pentas menjadi tantangan bagi Tri Ageng Giatno Mukti dan rekan-rekannya sesama pemain WOS. Sebelum pentas pukul 19.30, mereka mendapat briefing singkat dan pembagian peran dari sutradara selepas magrib.
“Kalau ada yang kurang paham, bisa tanya sama sutradaranya,” terang pria kelahiran Jakarta 26 tahun silam.
Rampung briefing, pemain WOS langsung mengambil kostum sesuai peran dan berdandan secara mandiri. Nah, yang cukup mendebarkan ketika sudah menginjakkan kaki di atas panggung. Sebab mereka harus mampu berimprovisasi. Butuh konsentrasi tinggi. Ketika sedikit saja lengah, dialog bisa blank alias nggak nyambung.
Itu pula yang pernah dirasakan Ageng, sapaan akrab Tri Ageng Giatno Mukti. Karena kecapekan dan ikut larut dalam adegan lawak yang naik panggung terlebih dahulu, dia lupa dengan dialog yang sudah ada dalam kepala.
"Jadi salah ucap dialog. Kosakatanya terbalik-balik. Seketika suasana hening. Lawan main saya malah tertawa. Disusul penonton. Saya mau ikut tertawa sebenarnya, tapi saya empet (tahan). Setelah itu langsung improvisasi, mengembalikan benang merah cerita,” beber lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini.
Di panggung WOS, Ageng bukan wajah baru. Kali pertama pentas di WOS, dia masih duduk di bangku kelas XI SMKN 8 Surakarta. Kala itu diajak salah satu rekannya memeriahkan pentas Seniman Remaja Sriwedari (Senjasri).
"Sempat vakum. Fokus lagi saat akhir-akhir kuliah,” ujar tenaga kerja dengan perjanjian kontrak (TKPK) Dinas Pariwisata Kota Surakarta itu.
Sementara itu, di tengah penerapan kenormalan baru, pentas WOS sempat digelar secara virtual. Namun, sensasinya tak sepuas ketika pentas langsung di depan penonton.
“Kami bisa tahu secara langsung apakah penonton suka atau tidak dengan peran kita. Dapat langsung berinteraksi dengan penonton. Itu yang membuat pertunjukan semakin hidup. Kalau virtual, ya kurang marem," pungkasnya. (atn/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra