Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Jarak Pandang dari Lantai Teratas Sangga Buwana Capai 3 Kilometer&nbsp

Perdana Bayu Saputra • Minggu, 30 Agustus 2020 | 20:30 WIB
Photo
Photo
BANYAK yang penasaran dengan isi bagian dalam Panggung Sangga Buwana. Namun, belum ditemukan catatan sejarah yang secara konkret mengupasnya.

Jawa Pos Radar Solo berupaya mencari sumber internal Keraton Kasunanan Surakarta dan bertemu adik Paku Buwono (PB) XIII Hangabehi, GKR Koes Moertiyah Wandansari.

Sentana Dalem yang akrab disapa Gusti Moeng ini berkenan menceritakan pengalamannya keluar masuk hingga naik ke puncak Panggung Sangga Buwana setelah mendapatkan izin dari ayah sekaligus Raja Keraton Solo kala itu PB XII.

“Saya ceritakan pengalaman saya setelah Panggung Sangga Buwana direvitalisasi (akibat musibah kebakaran). Karena saya baru naik ke sana itu sekitar 1982,” terangnya ditemui di Pedjagen Djoyotanantoko, kompleks keraton setempat akhir pekan kemarin.

Tidak sedikit yang menyebut Panggung Sangga Buwana terdiri dari empat lantai, tapi Gusti Moeng memastikan bangunan setinggi 30 meter itu memiliki enam lantai ketika bagian paling atas menara yang dikenal dengan Tutup Saji ikut dihitung menjadi lantai tersendiri.

“Kalau lantai utamaya memang ada lima. Kemudian di lantai ke-5 itu ada sebuah tangga untuk naik ke bagian atas (seperti bagian atap plafon) yang biasa dinaiki Sinuhun dan abdi dalem kepercayaannya. Kalau bagian itu dihitung, ya bisa disebut enam lantai,” bebernya.

Bagaimana kondisi di tiap lantainya? Moeng kembali menuturkan, yang bisa dia paparkan adalah kondisi Panggung Sangga Buwana pasca direvitalisasi.

Moeng menyebut kala itu tiap lantai kosong alias tanpa perabotan apapun. Adapun ruangan yang berisi benda-benda tertentu adalah di bagian Tutup Saji, tempat yang sering digunakan raja meditasi dan ritual adat lainnya.

“Kalau waktu saya naik (Panggung Sangga Buawana pada 1982), memang per lantainya kosong tidak ada isinya. Tapi konon di zaman dulu (sebelum terbakar 1954), tiap lantai memang berisi berbagai pusaka keraton,” jelasnya.

Tiap lantai di Panggung Sangga Buwana, lanjut Moeng, dihubungkan menggunakan anak tangga yang dibuat zig-zag. Contohnya, jika anak tangga di lantai satu untuk menuju lantai dua berada di sisi kanan bangunan, maka anak tangga di lantai dua menuju lantai tiga berada di sisi kiri bangunan.

Terkait anggapan Panggung Sangga Buwana berfungsi sebagai menara pengawas kawasan di sekitar keraton, Gusti Moeng tak membantahnya. Dia menyebut jarak pandang dari puncak Panggung Sangga Buwana bisa mencapai sekitar tiga kilometer.

Ketika pandangan mata diarahkan ke selatan, maka bisa melihat kawasan Joyotakan, sedangkan ke utara mata hingga Kali Pepe dan sekitarnya. “Tapi dulu (zaman raja-raja terdahulu) jarak pandangnya bisa lebih jauh karena tidak ada bangunan tinggi di sekitar keraton,” ujarnya.

Sesuai aturan kecagarbudayaan, lanjut Gusti Moeng, seharusnya di jarak sekitar 200 meter dari tembok Keraton Kasunanan tak boleh ada bangunan yang lebih tinggi dari Panggung Sangga Buwana.

Ditambahkannya, pada malam Selasa Kliwon, disajikan ketan biru, enten-enten, kinangan lengkap, dan bunga-bunga di sekitar Panggung Sangga Buwana.

“Keluarga keraton dan abdi dalem percaya bahwa ketan biru merupakan syarat untuk berkomunikasi dengan Kanjeng Ratu Kencana Hadi Sari (Ratu Kidul) yang diyakini sebagai salah satu pengayom keraton (menjaga keraton),” pungkasnya. (ves/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#Sangga Buwana #sejarah