“Dari sejumlah literasi yang saya dapat, belum ada naskah yang fokus membahas Panggung Sangga Buwana. Di lantai paling atas yang konon dipakai untuk mediasi raja tercatat berisi semacam meja rias, satu setel pakaian (kebaya dan jarit) serta sesajian. amun kebenarannya belum ada yang bisa memastikan. Beberapa abdi dalem yang dulu sempat saya wawancara tak mau menjelaskan apa isinya karena terikat sumpah pada raja untuk merahasiakan,” beber Ketua Solo Societeit Dani Saptoni.
Fungsi spiritual juga terlihat dari letak Panggung Sangga Buwana yang berkaitan dengan Bangsal Srimanganti. Bentuk bangunan Panggung Sangga Buwana mewakili simbol lingga, sementara Srimanganti merupakan yoni. Artinya, manusia harus selalu ingat pada sang pencipta dan memiliki hubungan yang baik pada sesama.
“Lingga-yoni dalam kosmologi Jawa keraton merupakan pusat kehidupan antara makrokosmos dan mikrokosmos. Jadi harus selalu seimbang,” kata Dani.
Dari segi politik, saat Panggung Sangga Buwana dibangun hingga diselesaikan merupakan masa damai. Setelah beberapa tahun sebelumnya diwarnai konflik mulai dari Geger Pecinan 1743 yang membuat pusat pemerintahan bergeser dari Kartasura ke Desa Sala, kemudian Perjanjian Giyanti 1755 (menbagi kekuasaan Solo dan Jogjakarta, serta Perjanjian Salatiga 1757 (membagi kekuasaan Kasunanan dengan Mangkunegaran, lahirnya Kadipaten Mangkunegaran).
“Tahun 1782 (pembangunan Sangga Buwana) itu masa damai. Raja mulai berpikir soal konsep legitimasi dan strategis untuk politik kekuasaan saat itu. Dari sana diketahui fungsi menara untuk mengawasi lingkungan sosial-kemasyarakatan di sekitar keraton,” tutur dia.
Sementara dari segi kemiliteran, menara setinggi 30 meter itu digunakan PB III untuk mengawasi gerak-gerik tentara Belanda di Benteng Vastenburg.
“Ada cerita saat PB III membangun Sangga Buwana. Sempat ada teguran dari Residen Belanda. Namun setelah diyakinkan bahwa Panggung Sangga Buwana hanya untuk kegiatan ritual adat, pembangunan tidak mendapat halangan. Kekhawatiran akan keamanan dan fungsi bangunan itu menjadi alasan utama Belanda waswas,” terangnya.
Diungkapkan Dani, Panggung Sangga Buwana seperti monumen visual legitimasi raja bergelar Paku Buwono yang juga memiliki kemiripan makna dengan Sangga Buwana, yakni menyangga bumi. (ves/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra