Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Sangga Buwana, Beri Sinyal Hari Kemerdekaan RI 163 Tahun sebelumnya

Perdana Bayu Saputra • Minggu, 30 Agustus 2020 | 20:46 WIB
Photo
Photo
Dilihat dari posisinya, Panggung Sangga Buwana terletak di antara Bangsal Sri Manganti dan Kedaton. Paling menonjol dibandingkan bangunan lainnya.

Pada hari-hari tertentu, abdi dalem perempuan meletakkan sesaji di depan pintu masuk tempat tersebut. “Pernah saya lihat ada sesaji yang diantarkan abdi dalem di waktu tertentu. Itupun tidak masuk. Hanya diletakkan di tengah lantai paling bawah,” ungkap salah seorang budayawan Solo, BRM Bambang Irawan akhir pekan kemarin.

Cerita yang berkembang di masyarakat, lantai paling atas Panggung Sangga Buwana kerap digunakan raja-raja Keraton Kasunanan bersemedi maupun bertemu Ratu Kidul.

“Pemahaman masyarakat pun banyak yang seperti itu. Hanya saja, belum ada dokumen yang mencatat secara pasti siapa saja raja yang pernah melakukan pertemuan dengan Ratu Kidul di sana (Panggung Sangga Buwana). Mengingat di keraton juga banyak lokasi yang jadi lokasi semedi maupun pasolatan raja-raja,” bebernya.

Bila Panggung Sangga Buwana dikatakan sebagai tempat bertemu raja dengan Ratu Kidul, lanjut Bambang, ada kisah tentang PB X hendak naik ke Panggung Sangga Buwana tapi malah terpeleset. Untungnya saat itu ditolong Ratu Kidul. Kalimatnya, ngger anakku……, sejak itu PB X dan seterusnya dipercaya bukan sebagai suami Ratu Kidul, melainkan anaknya.

Di balik mitos dan tradisi lisan, banyak sisi menarik lainnya dari menara yang dibangun pada masa pemerintahan Paku Buwono (PB) III itu. Panggung Sangga Buwana dibangun sekitar 1782 Masehi atau 1708 Jawa.

Dalam Babad Surakarta, angka-angka itu merupakan candra sengkalan yang berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma. Akan membentuk 1708 saat dibaca terbalik, yakni Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, dan Janma=1.

“Dari pemilihan nama Panggung Sangga Buwana, berdasar candra sengkalan memiliki arti Pa yakni agung (Pa Morda/Pa Besar) itu angkanya delapan, kemudian Sang artinya angka sembilan, Ga itu huruf besar morda Jawa yang artinya satu, dan Buwana artinya juga satu. Kalau dibaca secara terbalik jadi 1198 (tahun hijriah). Jadi tahun Jawa 1708, dan tahun masehinya 1782. Itu menunjukkan tahun pembuatan,” urainya.

Lebih lanjut diterangkan Bambang, dahulu, pengetan (peringatan/penanda) dapat hadir dalam berbagai bentuk. Seperti prasasti, karya sastra, maupun segala sesuatu yang berkaitan dengan arsitektur bangunan, termasuk dari segi pemilihan nama.

Filosofi Panggung Sangga Buwana tampak dari bentuk bangunan persegi delapan yang dikenal dengan istilah hasta wolu. Dalam prespektif Jawa, itu dipandang sebagai sifat-sifat kepemimpinan yang ada di tengah masyarakat kala itu.

Ada juga filosofi dari bagian paling atas Panggung Sangga Buwana. Di sana ada lambang berbentuk naga yang dikendarai manusia dengan posisi sedang memanah.

Itu juga candra sengkalan dari Naga Muluk Tinitihan Janma dengan interpretasi naga atau ular bermahkota merupakan lambang rakyat yang memegang kekuasaan, namun dipimpin oleh manusia atau seseorang yang mengarahkan dengan busur panah.

Dari susut pandang budaya Jawa, orang dengan posisi memanah itu diartikan sebagai Kiblat Rinaras Tri Buwana. Artinya, kiblat itu empat arah mata angin, sedangkan rinaras berarti enam, kemudian Tri adalah tiga, dan Buwana itu satu. Jika dibaca dari belakang akan memunculkan angka 1364 hijriah. Bila dikonversikan ke masehi akan memunculkan angka 1945.

Banyak anggapan ini sebuah ramalan tahun kemerdekaan Indonesia dengan berbagai simbol yang disertakan sebelumnya. Seperti kekuasaan berada di tangan rakyat, benarkah seperti itu?

“Kalau menurut saya, itu bukan ramalan ya. Mungkin semacam sinyal ke arah sana (Hari Kemerdekaan RI). Hanya saja tak banyak yang bisa membaca ini,” ungkap Bambang.

Pada masa PB X juga membuat tetenger Semar Tinandu di gapura sekitar Pasar Klewer dan titik lainnya. Semar merupakan gambaran rakyat, sedangkan tinandu berarti ditandu. Artinya ke depan kekuasaan akan dipegang oleh rakyat.

Menurut Bambang, dalam dokumen maupun tutur lisan, memang tidak ada pemanfaatan khusus atau penyebutan detail fungsi tiap lantai Panggung Sangga Buwana.

Yang paling logis, Panggung Sangga Buwana yang menjadi bangunan tertinggi di Kota Solo kala itu digunakan untuk mengintai pergerakan Belanda di Benteng Vastenburg. Karena situasi saat itu, PB III sangat tidak nyaman dengan hasil perjanjian Giyanti memecah kekuasaan Solo dan Jogja yang dipelopori pemerintah kolonial. (ves/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra
#Sangga Buwana #sejarah