Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Cerita Cyntia Tekuni Bisnis Unik, Sewa Merpati Pos Khusus Pernikahan

Perdana Bayu Saputra • Senin, 31 Agustus 2020 | 18:31 WIB
Cyntia Purnama sedang merawat merpati yang biasa disewakan untuk pernikahan di rumahnya Kartasura.
Cyntia Purnama sedang merawat merpati yang biasa disewakan untuk pernikahan di rumahnya Kartasura.
Hobi memelihara burung biasanya didominasi oleh kaum pria, namun siapa sangka perempuan satu ini juga menggeluti hobi ini. Bahkan menjadi ladang bisnis. Setahun sudah, Cyintia Purnama menekuni bisnis sewa merpati pos ini.

ANTONIUS CHRISTIAN, Sukoharjo, Radar Solo

KETIKA koran ini menyambangi rumahnya yang berada di Keden RT 01 RW 03 Ngadirejo, Kartasura, Sukoharjo, ibu satu anak ini sedang sibuk meracik pakan untuk puluhan pasang merpati pos. Setelah itu, pakan berupa jagung, beras merah, serta beberapa vitamin ini dibawa ke kandang yang berada di samping rumah pribadinya.

Campuran pakan ini dikatakan Cyintia tak bisa sembarangan. Salah takar pakan bisa menyebabkan performa merpati pos peliharaannya turun. Bulu merpati juga akan tumbuh tak beraturan, bahkan menyebabkan kerontokan.

Perempuan 25 tahun ini menuturkan, awalnya sang suamilah yang hobi koleksi berbagai jenis unggas. “Kemudian saya berpikir, kalau cuma jual beli terus, tidak ada asyiknya. Kemudian putar otak kira-kira apa yang bisa dihasilkan dari burung selain jual beli saja,” kata Cyintia.

Dia lantas teringat di beberapa pernikahan teman-temannya sering melepaskan merpati usai akad berlangsung. Namun dari pengamatannya, karena merpati lokal, ketika dilepaskan tidak terbang bebas. “Kadang turun lagi ke tanah, kadang nemplok di genteng, beda kalau pernikahan luar negeri, burungnya bisa terbang terus,” ujarnya.

Setelah itu, Cyntia lantas bertanya pada sang suami. Ternyata jenis merpati yang digunakan berbeda. Merpati yang dia maksud adalah merpati pos dari Eropa. “Kemudian saya cari-cari di internet, ada yang jual indukannya. Waktu itu orang Bekasi yang jual. Setelah chattingan, kemudian saya pesan indukannya,” paparnya.

“Waktu itu saya beli enam pasang indukan. Harganya satu pasang sekitar Rp 1 juta. Setelah burungnya sampai ternyata benar, saya langsung coba bandingkan dengan merpati lokal milik tetangga. Dari sisi fisik, tubuhnya lebih besar, kemudian bulunya juga lebih halus,” katanya.

Karena sudah memiliki orientasi untuk persewaan pernikahan, merpati yang dia pilih sendiri merupakan yang berwarna putih. “Saya searching kalau yang putih itu bisa dilepas maksimal 400 kilometer dari kandangnya, nanti pulang sendiri,” ujar Cyintia.

Setelah sharing dengan penjual, ternyata merpati tersebut tidak bisa langsung dilepas. Sebab bila langsung dilepas, burung tersebut malah kembali ke pemilik asal. Merpati harus tetap di dalam sangkar. Anakan dari indukan inilah yang baru bisa dilatih

Merpati muda sendiri baru bisa dilatih ketika umur satu bulan. Untuk awalan dilepas di sekitar rumah. Hal ini dilakukan agar merpati hafal dengan bentuk kadang dari atas. Setelah itu, barulah jarak pelepasan diperpanjang. “Awal nanti muter-muter di atas rumah, setelah itu masuk kandang sendiri,” jelasnya.

Setelah itu, jaraknya lebih jauh hingga 5 kilometer ke empat arah mata angin. “Kalau ke barat biasanya saya lepas di Pengging (Boyolali), utara itu di Klodran (Colomadu), terus  selatan di daerah Gatak (Sukoharjo), timur di Jajar (Solo). Biasanya maksimal sejam. Karena masih harus orientasi wilayah dan mengenal arah pulang juga. Paling jauh pernah saya lepas di daerah Wonogiri kota, sekitar 50 kilometer. Empat jam kemudian burungnya baru pulang (Kartasura),” imbuh dia.

Saat ini, lanjut Cyntia, sedikitnya sudah ada 22 pasang merpati pos di kandang yang disewakan. Karena tidak memiliki banyak waktu luang, ketika disewa ini juga untuk mengetes performa dari burung peliharaanya. “Jadi uang masuk, burung juga pulang,” kelakarnya.

Untuk kesulitan merawat sendiri, lanjut Cyintia, adalah meracik pakan. Untuk pakan biasanya dia menggunakan beras merah dan jagung. Kemudian dicampur dengan vitamin B komplek serta minyak ikan. Ini untuk menjaga fisik sang merpati mengingat jarak tempuhnya yang panjang. “Kemudian bulunya juga dilas terus agar tetap halus,” tuturnya.

Apakah burungnya pernah hilang ketika disewa? Cyintia mengatakan pernah dua kali. Dia memperkirakan burung tersebut tidak pulang antara kesasar atau disambar predator. “Predatornya sendiri alap-alap sama elang. Karena warnanya putih, kelemahannya di situ, sangat mencolok jadi mudah dijadikan target,” kata Cyintia.

Untuk sekali sewa burung merpati pos, dia mematok harga Rp 150 ribu per pasang. Di awal merintis bisnis tahun ini, pesanan cukup melimpah. Namun kondisi ini sempat redup saat terjadi pandemi. Pesanan banyak yang dibatalkan karena banyak pernikahan yang diundur. “Ini mulai bangkit lagi Juni setelah pernikahan mulai diperbolehkan. Selama pandemi saya buat promo, sewa sepasang gratis sepasang,” katanya.

Biasanya mempelai datang ke rumahnya. Mereka bisa pilih sendiri pasangan merpati. Pertanyaan paling banyak dari penyewa, mereka bingung cara mengembalikannya seperti apa. "Selalu saya bilang, kalau dilepas pasti pulang. Percayanya setelah sampai rumah saya foto ke mereka,” ujarnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#Persewaan #bisnis unik #pernikahan #inspirasi #merpati pos