Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Fighter asal Solo, Linda Darrow, Siapa Bilang Wanita Itu Lembek

Perdana Bayu Saputra • Minggu, 6 September 2020 | 22:11 WIB
Photo
Photo
Proses untuk bisa garang di atas ring tentu tak mudah. Proses keras dilakukan oleh fighter wanita kebanggaan Kota Solo, Linda Darrow. Hasil kerja kerasnya, kemampuannya di atas ring Mixed Martial Arts (MMA) tentu tak perlu diragukan lagi.

Badannya yang kekar berotot, semakin menjadi bukti, bahwa siapa pun yang berani melawannya pasti akan habis dilibasnya.

“Sejauh ini, saya belum menemukan kompetisi yang menjadi klimaks-nya saya. Selama ini saya masih merasa semua lawan bisa dihadapi. Saya berharap bisa berada di kompetisi yang lebih besar. Cita-citanya sih saya ingin jadi juara dunia,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Linda sempat mengharumkan Indonesia dalam pertarungan internasional. Mulai dari bisa menang atas Amira Badr, fighter asal Sasana Egyptian Top Team Mesir, 2016 silam dan Rocel Catalan dari Filipina, 2018 lalu.

Linda terjun ke dunia MMA empat tahun silam (2016). Sejak kecil dia memang gemar mendalami seni bela diri. Sebelum MMA, Linda sudah lebih dahulu menggeluti cabang olahraga (cabor) boxing, muaythai, dan wushu.

“Saya tertantang, kenapa engga coba MMA, kan kemampuan saya sudah lengkap. Ini suatu tantangan buat saya. Apalagi saya mulai MMA di usia 27 tahun. Sudah cukup tua untuk memulai. Tapi saya ingin buktikan, usia bukan penghalang untuk mencoba hal baru sekaligus punya prestasi dan karir lagi,” beber perempuan kelahiran Jambi, 7 Februari 1987 ini.

Cabor MMA terkesan keras dan khas laki-laki, namun tak membuat Linda tak tertaruk. Di awal karirnya, Linda banyak menerima stigma negatif dari banyak orang. Tak sedikit orang yang underestimate dengan kemampuannya. Dukungan keluarga membuat dia semakin percaya diri untuk mantap totalitas di jalur ini. apalagi sang suami adalah Yohan Mulia Legowo, sosok yang dikenal sebagai atlet MMA juga.

“Sekarang sudah enggak ada dukanya. Karena sudah jadi lifestyle. Semakin banyak orang yang suka. Semakin banyak juga orang enggak meragukan MMA lagi. Selain bagus buat kesehatan juga bisa buat self defense. Kalau mau berprestasi atau karir juga bisa,” sambungnya.

Di Indonesia MMA memang tengah ngetren. Di Kota Bengawan, peminat perempuan pun juga semakin menjamur. Meskipun hanya untuk gaya hidup, bukan untuk berkompetisi.

“Kalau di luar negeri MMA sudah lama berkembangnya. Kalau di Indonesia kan baru-baru saja. Mungkin karena banyak calon atlet terkendala support keluarga. Bisa juga kurang komitmen. Karena ini kan bicara soal mental,” imbuhnya.

Menjadi atlet MMA memang tak bisa setiap minggu bertanding di sebuah kejuaraan. “Malah sering ditanyain kalau lama tidak ada pertandingan seperti saat ini. Kok kamu enggak tanding-tanding sih? Hahaha… Tapi itu yang membuat karir saya terus maju,” kelakar ibu dari Gibran Alfarizi ini.

Dua tahun lalu, pada Agustus 2018, Linda menerima beasiswa Ultimate Fighting Championship (UFC) Performance ke Las Vegas. Linda terpilih karena dinilai berprestasi, beberapa kali fight tidak terkalahkan. Ditunjang prestasi lainnya.

“Selama di sana tidak hanya latihan saja, tapi juga full uji coba. Kalau dinilai layak, dapat tiket bertanding di UFC. Banyak pengalaman berkesan. Banyak dapat partner bagus juga. Dapat pembelajaran tentang nutrisi, kesehatan, hingga recovery. Lengkap semua,” katanya.

Di luar kesibukannya bertanding, Linda juga sempat menjajal dunia sport modeling, dua tahun lalu. Modeling menjadi ajang refreshing baginya. Meski ada beberapa orang yang nyinyir, model kok badannya berotot?

“Asyik lho, saya sih tidak ada kesulitan. Karena saya pilih sport model jadi sesuai sama karakter dan postur tubuh. Jadi model itu enggak selalu harus tinggi dan kurus. Banyak juga model yang berotot dan keren,” pungkasnya. (aya/nik) Editor : Perdana Bayu Saputra
#mma #Linda Darrow