Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kisah Pekerja Ekstrem Merawat Gedung Pencakar Langit, Nyawa Taruhannya

Perdana Bayu Saputra • Jumat, 11 September 2020 | 16:44 WIB
Tiga petugas sedang membersihkan Gedung Menara Wijaya di kompleks Pemkab Sukoharjo, kemarin (10/9).
Tiga petugas sedang membersihkan Gedung Menara Wijaya di kompleks Pemkab Sukoharjo, kemarin (10/9).
Ada sebagian orang harus menjalani pekerjaan berisiko tinggi. Salah satunya petugas pembersih gedung-gedung tinggi. Mereka bukan orang sembarangan, tapi harus memenuhi kualifikasi. Seperti apa pengalaman mereka?

IWAN KAWUL, Sukoharjo, Radar Solo

PEMANDANGAN di Menara Wijaya, kompleks kantor bupati Sukoharjo dalam dua hari ini tampak berbeda. Bukan karena gedungnya yang megah atau cuacanya yang cerah. Namun, ada tiga orang bergelantungan layaknya laba-laba di dinding gedung 10 lantai itu. Ya, tiga orang itu adalah pekerja dari sebuah perusahaan yang mendapatkan tender membersihkan gedung senilai Rp 120 miliar itu.

“Ada tiga orang turun bersihkan dinding gedung dan satu di atas sebagai operator,” kata Nicolaus Heru Martono, supervisor perusahaan yang mempekerjakan tiga petugas tadi.

Gedung kantor terpadu ini dibangun 2017 sampai 2019. Setidaknya enam bulan sekali dinding gedung bagian luar yang terbuat dari kaca dan papan APC itu harus dibersihkan. Jika tidak, kemegahannya akan kusam, kotor, dan berjamur. “Baru dua hari ini bekerja, waktu yang disediakan atau targetnya 25 hari selesai,” ujarnya.

Tidak mudah menjadi pekerja pembersih dinding gedung bertingkat. Pekerja harus memiliki sertifikasi dari asosiasi panjat tebing maupun sertifikasi keselamatan kerja. Alat dan perlengkapan juga harus memadai serta sesuai standar keselamatan. Jika tidak, nyawa taruhannya. Yang terakhir tidak bisa ditawar adalah nyali. Butuh nyali yang tinggi untuk bekerja bergelantungan pada seutas tali.

“Ketiganya sudah punya sertifikasi, pemerintah maunya juga bekerja sama dengan yang sudah bersertifikasi. Mereka juga diasuransikan,” terang Niko saat ditemui di Pendapa Graha Satya Praja.

Para pekerja ini mulai bekerja sejak pukul 09.00. Sebelumnya mereka melakukan sejumlah persiapan. Mulai dari memasang pengaman tali, mengenakan harnes, pengaman kepala dan mengecek seluruh perlengkapan keamanan. Kemudian, siang hari harus turun untuk istirahat. Baru naik lagi hingga selesai bekerja pada pukul 16.00. “Kemarin sehari baru selesai tiga blok kaca. Nantinya keliling gedung harus dibersihkan semua,” ujarnya.

Bekerja di ketinggian, bergantung pada seutas tali bukan tanpa kendala. Yang pertama adalah waktu bekerja harus memperhatikan arah matahari. Ini untuk menghindari panas sinar matahari. Apalagi jika memantul di kaca akan semakin menyengat. Pagi, membersihkan sisi bagian barat. Siang sampai sore, giliran sisi sebelah timur.

“Cairan pembersih khusus ini kalau kena sinar matahari cepat kering, jadi harus diperhitungkan sinar mataharinya, kalau kering, kotorannya tidak bisa diangkat,” kata Niko.

Kemudian, soal angin. Di ketinggian, angin tidak begitu kencang saja tali sudah bergoyang. Sehingga, rawan terjadi benturan dengan dinding yang terbuat dari kaca. Maka, membaca arah angin juga penting diperhatikan dalam membersihkan gedung bertingkat. “Pakai tali lebih mendingan, kalau pakai gondola, benturan lebih terasa bila ditiup angin,” ucapnya.

Kendala lain adalah hujan. Bisa dipastikan, jika hujan pekerjaan akan dihentikan. Para pekerja harus turun. Bahkan, jika langit sudah mendung, harus secepatnya turun. Petir sangat berisiko, jika pekerja nekat bergelantungan di ketinggian. “Baru mendung saja, sudah harus cepat turun. Tidak perlu menunggu hujan,” katanya.

Pekerjaan semacam ini, di eks Karesidenan Surakarta dan Semarang tidak banyak peminatnya. Potensi pekerjaan dengan gaji yang menggiurkan ini masih terbuka luas, apalagi bagi pecinta panjat tebing dan penantang adrenalin. “Ini jenis pekerjaan yang tidak bisa disuruh cepat-cepat selesai. Harus santai dan rileks,” ujarnya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra
#kerja risiko tinggi #perawat gedung pencakar langit #pekerjaan ekstrem #penantang adrenalin #kisah dramatis