RAGIL LISTIYO, Solo, Radar Solo
AGAR mahasiswa difabel nyaman dalam pembelajaran, Universitas Sebelas Maret (UNS) menyediakan braille center. Fungsinya membraillekan buku-buku bahan ajar untuk mahasiswa dan referensi-referensi secara bertahap. Pihak UNS menggandeng Balai Braille dalam penerjemahan buku dan referensi. Dengan begitu, mahasiswa disabilitas memiliki ruang khusus dalam mencari informasi.
“UNS menjadi tempat pengembangan dan risetnya. Dan buku-buku yang dibutuhkan akan dibraillekan. Di perpustakaan nanti kami fasilitasi dengan disabilitas corner. Di mana akan disediakan komputer khusus yang sudah diintegrasikan atau menggunakan teknologi bantu sehingga bisa mengakses ke perpustakaan nasional, bahkan internasional,” kata Kepala Pusat Studi Disabilitas Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UNS Munawir Yusuf.
Ketika mahasiswa difabel mencari informasi pembelajaran yang dibutuhkan, informasi yang muncul akan sesuai dengan kondisi mahasiswa. Misal pengaksesnya tunanetra, maka komputer akan memberikan informasi dalam bentuk suara.
“Saat ini kami tengah menjalankan penerjemahan buku-buku braille. Setelah itu, kami harus menyediakan SDM (sumber daya manusia) untuk mengoperasikan komputer teknologi bantu itu. Dan pelatihannya nanti dilakukan langsung oleh Balai Braille. Semua akan kami penuhi secara bertahap,” imbuhnya.
Munawir menambahkan, UNS Braille Center ini tidak hanya di perpustakaan. Bahkan di tempat-tempat representatif jika perpustakaan tidak muat. Apalagi UNS memiliki 30 mahasiswa disabilitas, baik netra, rungu maupun daksa.
"Kami juga melakukan pendampingan bagi mahasiswa disabilitas. Terutama mahasiswa baru yang berjumlah 15 orang. Kami menyediakan pendampingan bagi mereka. Ada 20 juru bahasa isyarat dan 20 mahasiswa pendamping lain yang telah dilatih dan tersertifikasi,” katanya.
Pihaknya juga memberikan bantuan beasiswa dan laptop pada dua mahasiswa tunanetra. Juga dana bantuan pembelian pulsa untuk perkuliahan selama 1 tahun kepada semua mahasiswa disabilitas. Hal tersebut untuk membantu dalam perkuliahan.
"Selama ini, disabilitas memang menemui kendala dalam perkuliahan daring. Seperti penyandang netra pembelajarannya harus dengan mengubah ke dengar. Dan yang penyandang rungu agak kesulitan. Karena membutuhkan juru bahasa," terang Munawir.
Salah satu mahasiswa tunanetra yang mendapat beasiswa Frema Marista Aulia Rahma, 21, mengatakan, bantuan pendampingan sangat membantu. Apalagi dalam menghafal lokasi-lokasi di kampus. Frema juga menerima bantuan beasiswa senilai Rp 7 juta dan laptop untuk perkuliahan.
“Ini kali kedua saya mendaftar kuliah, karena sebelumnya gagal masuk. Selama setahun terakhir saya fokus pada mengajar di SLB Klaten dan belajar. Karena mendaftar SBMPTN gagal. Lalu saya mendaftar lewat jalur disabilitas. Alhamdulillah diterima di UNS dan UNY,” katanya. (*/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra