Dengan latar belakang keluarga pecinta tanaman, Dian memberanikan diri memborong philo dan Janda Bolong pada Oktober 2019. Saat itu, dia memiliki intuisi jika tanaman tersebut akan laku di pasaran.
“Senin sampai Jumat saya di kantor. Sabtu- Minggu nganggur, saya ke Tawangmangu melihat bagaimana menanam, memotong dan seterusnya. Kemudian saya beli beberapa untuk saya bawa pulang,” ungkap dia.
Kala itu, dia membeli puluhan tanaman dengan harga Rp 30 ribu per tanaman. Harga yang relatif murah. Bahkan, Dian pernah membeli Janda Bolong ukuran kecil di harga Rp 4 ribu.
Tiga bulan berselang, intuisinya terbukti. Tanaman bernama asli monstera itu meroket. Dia pun mulai melepas satu per satu koleksinya. “Paling mahal saat itu saya lepas Rp 1 juta, sudah untung itu,” ucapnya.
Bisnis itu terus digeluti, apalagi di masa pandemi saat ini. Meski tak menyebutkan secara rigit, Dian pernah mendapatkan keuntungan puluhan juta rupiah dari menjual janda bolong. Namun begitu, ada kisah pahit dalam menekuni bisnis ini. Sedikitnya 50 tanaman Janda Bolongnya rusak diserang hama.
“Gara-gara tidak terlalu keurus, kebetulan fokus ke anak dan lain-lain. Kalau dinominalkan rugi sekitar Rp 5 juta. Tapi itu juga nggak rugi sih, karena itu kan hanya hobi sebenarnya, hobi yang dikaryakan jadi uang. Pekerjaan utama ya tetap,” katanya.
Dian memprediksi bisnis tanaman masih akan bertahan lama. Meski menjadi kebutuhan tersier, namun di masa pandemi hal tersebut menjadi hobi yang jauh dari penularan Covid-19.
Terpisah, petani sekaligus event organizer (EO) pameran tanaman hias Agil Sugiman menuturkan, harga tanaman hias menyesuaikan jenis dan kekhasannya.
“Biasanya harga naik ketika musim kemarau ditambah penghobi tanaman hias makin banyak. Musim penghujan bisa dimanfaatkan petani memperbaiki tanaman,” jelasnya.
Agil mengamani, Janda Bolong sedang naik daun. Terutama yang memiliki corak kekuningan. Harganya pun fantastis. Menyesuaikan corak pada daun Janda Bolong.
Salah seorang penggemar tanaman hias Ana Setyowati menuturkan, ketika ada tanaman yang booming, dia siap memburunya. Menghabiskan waktu berjam-jam mengamati dan memilih tanaman yang cocok. (irw/rgl/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra