Anjang Pratama, salah seorang petugas Museum Keris Nusantara mengaku banyak mendapat laporan dari sejumlah wisatawan soal kejadian aneh. Terbaru, terjadi sebelum pandemi lalu. Malam itu, Museum Keris Nusantara punya gawe berupa pentas keroncong dan tari-tarian yang dipentaskan anak kecil.
Para orang tua ikut semangat dengan berfoto ria. Namun, malah menimbulkan kehebohan. Hasil jepretan salah satu smartphone menunjukkan hasil berbeda. Orang tua lainnya banyak yang penasaran. Agar tidak menimbulkan kepanikan, petugas museum keris mengusulkan agar foto tersebut segera dihapus.
“Namanya ibu-ibu kan suka foto-foto. Kebetulan ada dua ibu foto bareng. Tapi hasilnya bukan cuma muncul dua ibu itu. Tambah satu perempuan lagi ikut terekam kamera. Tapi tidak ada yang mengenalnya,” terangnya.
Keganjilan itu bukan kali pertama. Pernah suatu siang, pada jam istirahat seorang pengunjung museum bisa naik ke lantai paling atas, lantai lima. Padahal tidak ada seorang pun pemandu yang bertugas mendampingi.
“Pengunjung itu bilang kalau dia diantar seorang pemandu perempuan naik ke lantai lima. Padahal semua pemandu kami tak seorang pun yang mengantar ibu itu. Akhirnya ya cuma sebatas jadi kisah unik pengunjung,” terang Anjang.
Sosok perempuan misterius itu dipercaya bernama Farida. Tak jelas asal-usul nama Farida disematkan. Kendati demikian, petugas Museum Keris Nusantara sudah mulai terbiasa dengan sosok tersebut.
Ketua Bawarasa Tosan Aji Surakarta (Bratasura) RM Agus Triatmaja menerangkan, pengalaman spiritual selalu berbeda antara satu dengan lainnya. Itu pula yang dialami Agus. Dia bermimpi kembali ke kompleks museum dengan rentang waktu berbeda.
Dalam mimpinya dia bertemu abdi dalem wanita dengan berbagai atributnya dan diantar berkeliling ke sejumlah ruangan. Di setiap kamar itu, Agus melihat beragam macam etnik sedang menjalani perawatan kesehatan mental di rumah sakit itu.
“Walau seperti itu, kami (pegawai maupun komunitas) yang terlibat di Museum Keris Nusantara selalu mencoba memberikan keterangan yang objektif agar semua informasi soal kesejarahan dan kebudayaan dapat diterima dengan baik. Bukanya malah dianggap musyrik dan sebagainya,” tutupnya. (ves/wa) Editor : Perdana Bayu Saputra