Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Sistem Imun, Long Covid, dan Mengatur Asupan Gizi

Damianus Bram • Rabu, 25 Agustus 2021 | 02:32 WIB
Agus Prastowo dan Setyaningrum Rahmawaty
Agus Prastowo dan Setyaningrum Rahmawaty
Oleh: Setyaningrum Rahmawaty dan Agus Prastowo *)

KEKEBALAN tubuh menjadi hal mahal di masa pandemi ini. Saat imun turun, akan rentan terkena penyakit. Sebaliknya, imun yang sehat mampu melawan infeksi secara maksimal, pun mencegah penyakit dan keparahannya.

Setidaknya, ada empat cara perlindungan efektif sistem imun, yaitu membuat barrier/penghalang bagi patogen (penyebab penyakit) masuk tubuh, mengidentifikasi patogen yang melewati barier, mengeliminasi patogen, dan membangkitkan memori imunologis guna melawan infeksi yang sama di kemudian hari.

Tugas ini melibatkan beberapa bagian yang berbeda dan bekerja sama mempertahankan imun tubuh. Ibaratnya tim sepak bola, jumlah dan performance, juga kerja sama atau komunikasi antarpemain punya andil menang atau kalah. Sayangnya, dampak infeksi virus tidak sebatas menang atau kalah dalam permisalan ini.

Saat seseorang terinfeksi, tubuh mengeluarkan protein khusus sitokin sebagai mediator antarsel dalam sistem imun. Sitokin memicu inflamasi atau radang dengan gejala nyeri pada lokasi infeksi dan lemah atau lelah, dimana gejala ini akan berakhir saat virus telah tertangani.

Jika infeksi meluas, dapat memicu badai sitokin, yang justru mengacaukan komunikasi sistem imun. Sel yang mengalami inflamasi dapat merusak sel yang sehat, bukannya melawan infeksi.

Pada beberapa kasus Covid-19, ditemukan kadar sitokin yang tinggi dan gejala lemah atua lelah dan keluhan lain yang masih menetap beberapa minggu atau bulan pascainfeksi, yang dikenal long Covid.

Penyebab pasti long Covid belum diketahui. Diperkirakan terkait dengan sistem imun, yaitu rendahnya respons antibodi, respons inflamasi yang berlanjut dan infeksi ulang.

Untuk itu, tidak ada cara yang paling tepat menghindari adanya long covid kecuali dengan menghindari terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 dengan selalu mengikuti protokol kesehatan (prokes) yang baik dan benar.

Bagaimana jika seseorang positif Covid-19? Jika dirawat di RS, akan mendapat pengobatan atau perawatan sesuai kondisinya. Bagi yang isolasi mandiri (isoman) di rumah, selain wajib mengikuti prokes dan saran tenaga kesehatan, perlu meningkatkan imunitas.

Ada empat hal yang memengaruhi imunitas, yaitu makanan/suplemen gizi, stres, tidur, dan kebersihan. Ketidakseimbangan keempat hal ini dapat memengaruhi kinerja sistem imun.

Manusia, hakikatnya adalah kumpulan sel yang butuh asupan untuk menjalankan fungsinya, termasuk sel imun. Sumber utama asupan ini adalah makanan. Saat tubuh terinfeksi, aktivitas sistem imun akan naik, disertai naiknya laju metabolisme yang perlu energi, substrat untuk biosintesis dan molekul pengatur. Di sisi lain, nafsu makan turun.

Pada beberapa kasus Covid-19, terjadi hilang rasa, juga peningkatan sensitivitas rasa manis, asin, dan lain-lain yang berdampak pada penurunan daya terima makanan.

Akibatnya, asupan gizi kurang. Jika dibiarkan berlarut, status gizi turun, pun imun tubuh. Berikut beberapa prinsip untuk mengatur asupan gizi saat dan paska isoman bagi individu tanpa comorbid lain seperti obesitas, kencing manis, penyakit ginjal, dan sebagainya.

Mengonsumsi makanan dengan porsi kecil sering. Asupan gizi yang cukup sangat penting, saat tubuh terinfeksi.  Hal ini harus dipahami, sehingga respons nafsu makan turun harus dilawan. Agar asupan gizi tetap terpenuhi, makanlah dalam porsi kecil, tapi sering. Tidak perlu memaksakan diri harus menghabiskan makanan dalam sekali makan. Untuk menghindari lonjakan gula darah, sebaiknya sumber energi dipilih dari bahan makanan yang rendah kandungan gulanya.

Mengonsumsi makanan pendukung imun. Sejumlah zat gizi seperti protein, vitamin (C, asam folat, A, B6, D, E), mineral (besi, zink, selenium, cooper) dan omega-3 (n-3) memiliki peran penting dalam sistem imun melalui berbagai cara. Seperti sebagai antioksidan pelindung sel, pendukung pertumbuhan dan aktivitas sel imun, produksi antibodi, dan anti-inflamasi. Zat-zat gizi ini terdapat di berbagai bahan makanan hewani maupun nabati.

Kerentanan pada long Covid diprediksi terkait dengan biomarker gizi, seperti keragaman mikrobia usus yang buruk, stres oksidatif, kadar vitamin D yang rendah, dan ketidakseimbangan n-6 dan n-3.

Mengonsumsi makanan beragam dan seimbang. Makanan yang beragam dan seimbang dapat menyediakan berbagai zat gizi yang diperlukan tubuh. Tiap bahan makanan mengandung zat gizi dengan komposisi dan jumlah yang bervariasi. Makin beragam makanan yang dikonsumsi, makin lengkap pula zat gizi yang masuk ke dalam tubuh.

Minum dalam jumlah yang cukup. Air adalah komponen utama tubuh. Sekitar 50-70 persen berat badan kita terdiri dari air. Air memainkan peran penting dalam berbagai fungsi normal tubuh, seperti pencernaan, pernapasan, mengangkut gizi dalam darah, membuang sisa/racun, mengatur suhu tubuh, pelumas dan bantalan sendi. Ketika tubuh terinfeksi dan demam, kebutuhan cairan akan meningkat. Tetaplah minum, walau mungkin tidak merasa haus, untuk mencegah dehidrasi dan mendukung fungsi normal tubuh.

Membatasi makanan manis, asin, dan gorengan. Makanan manis seperti biskuit dan olahan yang ditambah gula mengandung karbohidrat sederhana yang siap dipakai tubuh untuk sumber energi. Kebiasaan makan manis yang berlebih, dapat memicu kegemukan dan obesitas.  Obesitas dikaitkan dengan kehilangan imun kompeten dengan penurunan aktivitas sel imun dan produksi antibodi.

Dengan kata lain, dibandingkan dengan individu yang memiliki berat badan normal, orang yang obesitas memiliki kerentanan terhadap infeksi. Obesitas juga dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi berbagai mediator inflamasi dalam darah yang diprediksi menjadi predisposisi peningkatan respons inflamasi yang berlebih ketika terinfeksi. Konsumsi makanan manis dan asin yang berlebih juga dapat memberi efek negatif pada mikroba di usus, sehingga memicu inflamasi. Konsumsi makanan yang digoreng dapat memperburuk inflamasi. Sebab meningkatkan rasio n-6 yang bersifat proinflamasi. (*)

*) Dosen Gizi Klinik Prodi Ilmu Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan UMS-Ahli Gizi dan Kepala  Instalasi Gizi RSUD Prof Dr Margono Soekarjo Purwokerto

  Editor : Damianus Bram
#Agus Prastowo #Setyaningrum Rahmawaty #ums bicara #Sistem Imun Long Covid dan Mengatur Asupan Gizi