Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Kemunculan Muhammadiyah Surakarta

Damianus Bram • Rabu, 10 November 2021 | 03:20 WIB
Mohamad Ali, Wakil Sekretaris PDM Surakarta, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta. (ISTIMEWA)
Mohamad Ali, Wakil Sekretaris PDM Surakarta, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta. (ISTIMEWA)
Oleh: Mohamad Ali, Wakil Sekretaris PDM Surakarta, Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

SERUAN untuk menulis sejarah (historiografi) Muhammadiyah telah ditabuh sejak muktamar ke-41 di Surakarta (Solo) pada 1985, dan terus bergulir di setiap perhelatan muktamar. Untuk menyahuti hal itu, Majelis Pustaka pada masa kepemimpinan Ahmad Adaby Darban mengeluarkan “Pedoman praktis penulisan sejarah Muhammadiyah” (Almanak Muhammadiyah 1419H/1998 M, p. 165-172).

Secara teknis-operasional tugas penulisan sejarah di tingkat nasional menjadi tanggung jawab Pimpinan Pusat, pada tingkat wilayah dimandatkan kepada Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM), dan untuk tingkat daerah dimandatkan kepada Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM).

Penulisan sejarah Muhammadiyah pada tingkat nasional sudah banyak menarik perhatian peneliti-analis sosial (Alfian, 2010; Peacock, 2016, Jainuri, 2002, Shihab, 1998), tetapi untuk penulisan sejarah Muhammadiyah lokal belum banyak dilirik.

Beberapa publikasi sejarah Muhammadiyah lokal belakangan ini mulai muncul, seperti Pekajangan (Muarif, 2012), Gresik (Mustakim, 2011), Banyumas (Suwarni & A.D. Kosasih, 2013). Tiga publikasi ini bisa disebut penelitian rintisan, sehingga dapat dijadikan model penulisan sejarah Muhammadiyah di daerah lain.

Terdengar agak mengejutkan, untuk tidak menyebut suatu kejanggalan, bahwa sejauh ini sejarah Muhammadiyah lokal Surakarta belum ditulis secara utuh. Dikatakan mengejutkan karena: pertama, Surakarta merupakan basis terkuat Muhammadiyah di luar Jogjakarta. Kedua, secara historis jaringan ulama Surakarta memiliki kontak erat dengan K.H. Ahmad Dahlan, dan ketiga memiliki amal usaha kelas atas, seperti tiga perguruan tinggi, dua rumah sakit, dan ratusan AUM pendidikan mulai dari TK hingga SLA.

Meski belum terdapat karya sejarah Muhammadiyah Surakarta yang utuh, tapi ada beberapa dokumen dan tulisan ringkas tentang awal mula Muhammadiyah di Surakarta. Tulisan kronik terdiri atas lima halaman, nama penulis anonim, berjudul “Muhammadiyah Cabang Solo Sumbernya dari Kampungsewu”, termuat dalam buku Dokumentasi Muhammadiyah Setengah Abad yang diterbitkan Muhammadiyah Cabang Solo tahun 1958.

Tulisan sejenis, meski ada beberapa perubahan redaksional juga muncul dalam Buku Tahunan 1972, 60 Tahun Muhammadiyah Mengabdi. ­Cukup disayangkan proses penulisannya tidak menyertakan sumber-sumber sejarah.  

Selain itu, ada buku saku “Matahari Terbit di Kota Bengawan, Sejarah Awal Muhammadiyah Solo yang ditulis dua aktivis Muhammadiyah (Mohamad Ali & Syifaul Arifin, 2014).

Buku ini lebih banyak membahas tokoh-tokoh kunci Muhammadiyah awal, seperti Kiai Moechtar Boechari, H.M. Misbach, dan Ki Sontohartono. Sementara uraian tentang sejarah dan perkembangan Muhammadiyah disinggung sekilas saja.

Ketika kita membaca sumber-sumber internal Muhammadiyah Surakarta, muncul beberapa versi tentang awal mula atau kapan Muhammadiyah Surakarta berdiri dan siapakah tokoh sentral yang menjadi penggeraknya.

Esai ini berusaha untuk menampilkan sejumlah sumber dan melakukan kritik sumber sampai ditemukan jawaban yang lebih kuat, atau lebih mendekati kebenaran, kapan sebenarnya kemunculan Muhammadiyah Surakarta dan siapakah para penggerak awal?

Teka-teki ini dapat dijawab dengan tepat apabila mengetahui kapan proses perubahan/transformasi perkumpulan Sidiq Amanah Tabligh, V(F)athonah (SATV) menjadi Muhammadiyah Surakarta. (bersambung) Editor : Damianus Bram
#Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Surakarta #Mohamad Ali #ums bicara #Kemunculan Muhammadiyah Surakarta #Wakil Sekretaris PDM Surakarta