Oleh Suyatmin Waskito Adi, Kabag Minat Bakat dan Beasiswa UMS, Ketua Koperasi KSU MS UMS, dan Dosen Prodi Akuntansi FEB UMS
PEREKONOMIAN dunia termasuk Indonesia, mengalami tantangan dan hambatan yang sangat berat pada 2020. Setelah munculnya pandemi Covid-19. Di berbagai negara yang terpapar Covid-19, memberlakukan kebijakan lockdown atau pembatasan-pembatasan yang bertujuan untuk menghentikan penyebaran Covid-19. Adanya kebijakan lockdown, pembatasan sosial berskala besar atau kebijakan lainnya guna percepatan penanganan Covid-19, maka berimplikasi pada melemahnya kinerja ekonomi.
Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi dunia di masa Covid-19 mencapai -3,0 persen dan terdapat negara maju yang pertumbuhan ekonominya hampir mencapai -10 persen. Dengan kondisi ini, sebenarnya Indonesia bisa memanfaatkannya untuk melaju pesat di bidang perekonomian. Karena sumber daya alam yang dimiliki dapat dimanfaatkan untuk peningkatan perekonomian.
Ketatnya persaingan ekonomi dunia, maka Indonesia harus mampu menggali sumber ekonomi alternatif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Salah satunya solusinya adalah, dengan ekonomi kreatif atau industri kreatif. Banyaknya sumber daya alam yang ada di Indonesia menjadi faktor utama untuk meningkatkan perekonomian melalui industri kreatif.
Para generasi milenial sangat bisa berkiprah untuk memiliki andil besar dalam memajukan perekonomian Indonesia. Caranya dengan mengembangkan, memanfaatkan, dan merealisasikan ide-ide kreatif mereka. Generasi milenial memiliki peluang besar dalam memajukan dan meningkatkan perekonomian Indonesia, yaitu melalui industri kreatif.
Industri kreatif merupakan industri yang memanfaatkan keterampilan atau skill, kreativitas, dan bakat yang dimiliki seseorang guna menciptakan kesejahteraan. Di dalamnya berupa kumpulan aktivitas-aktivitas ekonomi kreatif. Di antaranya periklanan, arsitektur, pasar barang seni, kuliner, fashion, film, fotografi, kerajinan, musik, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer, radio dan televisi, serta riset dan pengembangan.
Para generasi milenial sebenarnya memiliki kekuatan (strength) mumpuni untuk mengembangkan dan meningkatkan perekonomian Indonesia. Mereka berperan penting dalam meningkatkan ekonomi kreatif. Baik dengan karyanya, cara berpikir, serta semangatnya. Hal ini akan membuat pola pikir serta kreativitas yang akan menghasilkan manfaat. Dengan kreativitas yang baik, generasi milenial diharapkan mampu menciptakan inovasi lewat karya-karya yang di tampilkan.
Di era sekarang ini, para pelaku usaha atau industri didorong untuk lebih memaksimalkan peran dan fungsi internet dalam mengembangkan bisnisnya. Ini selaras dengan salah satu ciri generasi milineal, yaitu aktif di media sosial atau internet. Sekaligus bisa dimanfaatkan untuk berkarya dalam ekonomi kreatif.
Generasi milenial adalah generasi yang lahir dalam kurun waktu akhir 70-an sampai awal 90-an. Dianggap sebagai generasi spesial, karena berbeda dengan sebelumnya. Di mana generasi saat ini, tumbuh kreatif dan berinovasi lewat digital. Generasi milenial memiliki modal cukup besar, yakni lewat ide-ide kreatif dan inovatif, kemudian direalisasikan dalam perindustrian.
Para generasi milineal di era digital, memiliki kelebihan yaitu dapat menguasai teknologi. Hal tersebut dapat dikolaborasikan dengan ide-ide kreatif yang dimiliki. Di samping kekuatan yang dimiliki sebagai pelaku ekonomi kreatif.
Di sisi lain, Indonesia punya modal luar biasa besar guna mengembangkan dan meningkatkan ekonomi kreatif. Yakni sumber daya alam berlimpah serta beragam. Dari itu, bisa menjadi pemantik sehingga tercipta keberagaman ide yang kreatif dan inovatif, yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan ekonomi kreatif.
Pasca terpuruk akibat pandemi Covid-19, ekonomi kreatif di Indonesia terus berjuang menjadi garda terdepan untuk mengambil bagian dalam momentum Kebangkitan Nasional. Upaya ini dilakukan dengan sejumlah program unggulan. Guna mempercepat pemulihan sektor ekonomi kreatif.
Pandemi Covid-19 bagai dua sisi mata uang bagi ekonomi kreatif tanah air. Selain hantamannya yang dahsyat, juga membuka peluang baru bagi pelaku ekonomi kreatif di Indonesia. Tantangan terbesar saat pandemi adalah, perubahan sistem penjualan pada industri kreatif global. Jika sebelumnya masyarakat lebih banyak membeli perlengkapan secara luar jaringan (luring), saat ini bralih ke dalam jaringan (daring).
Pembeli tidak mau ambil risiko terkait penularan Covid-19. Sehingga sistem jual-beli beralih ke daring. Ini memberikan tantangan besar bagi sektor ekonomi kreatif tanah air. Sebab, tidak semua pelaku ekonomi kreatif paham metode daring. Sehingga pada awal-awal pandemi berlangsung, tidak sedikit usaha kreatif gulung tikar karena minimnya permintaan.
Ekonomi kreatif membuka peluang untuk menghidupi seluruh kalangan, tanpa terkecuali melalui inklusivitasnya. Sehingga sektor industri kreatif menjadi sektor yang banyak menciptakan lapangan kerja baru. Ekonomi kreatif merupakan sektor yang tidak terbatas karena kemunculannya didasari imajinasi dan kreativitas yang tidak memiliki batas. Di mana kekuatan utamanya adalah kreativitas, pengetahuan, budaya, dan teknologi.
Ekonomi kreatif bahkan sudah menjadi elemen penting yang menyumbangkan pendapatan negara. Sektor yang berkembang dan banyak berperan dalam meningkatkan perekonomian suatu negara secara keseluruhan. Termasuk wadah yang efektif dan efisien bagi generasi milenial, untuk berinovasi dan berkarya dalam mengembangkan diri dan prestasi.
Menurut United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD), ekonomi kreatif merupakan konsep ekonomi yang berkembang berdasarkan pada aset kreatif yang berpotensi menghasilkan pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Menurut Kementerian Perdagangan Indonesia, ekonomi kreatif adalah suatu upaya pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui kreativitas dengan iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumber daya yang terbarukan.
Oleh karena itu, ekonomi kreatif merupakan konsep perekonomian di era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas, dengan mengedepankan ide dan pengetahuan dari sumber daya manusia (SDM) sebagai faktor produksi paling utama. Kreativitas, keahlian, talenta, adanya produk yang di hasilkan, produk yang kreatif, kerja sama yang baik, ide atau gagasan yang baik, serta mempunyai konsep yang kreatif merupakan ciri umum ekonomi kreatif.
Ekonomi kreatif di harapkan berjalan dengan baik dengan peran serta generasi milenial untuk meningkatkan eksistensi dan perubahan-perubahan yang nyata. Juga dapat bertahan walaupun krisis sedang berlangsung di mana-mana. Generasi milenial merupakan aspek pengaruh ekonomi kreatif pada negara-negara maju, hal inipun sangat diharapkan pemerintah untuk mendorong kemajuan perekonomian sebagai negara berkembang.
Pada era modern ini, banyak generasi milenial sebagai penggerak ekonomi kreatif yang berambisi untuk pencapaian kesuksesan dan mencapai cita-cita. Generasi milenial dipercaya mampu sebagai penggerak ekonomi kreatif dengan inovasi atau ide yang baru, yang mampu bersaing dan diharapkan sebagai solusi untuk menghadapi era revolusi yang serbainternet.
Ekonomi kreatif dapat berkembang dengan pesat, karena banyak milenial yang memiliki ide kreatif dan rasional. Muncul dari adanya gaya hidup tidak jauh dari kata sosial media. Sosial media sendiri membawa perubahan besar dalam kehidupan saat ini. Membuat segala sesuatu serbacepat dan mudah.
Generasi milenial tidak hanya penikmat dari kemajuan digital. Namun di era digital ini, banyak dari mereka bahkan membentuk masyarakat digital dengan adanya bisnis start-up. Ini membuat ekonomi kreatif terus meningkat. Karena tidak hanya menghasilkan uang, tapi juga lapangan pekerjaan yang sangat luas. Dengan demikian, hadirnya marketplace juga mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia.
Bisnis start-up dan e-commerce merupakan salah satu pengaruh generasi milenial bagi ekonomi kreatif Indonesia. Bahkan Indonesia berada pada urutan keempat dengan jumlah start-up terbesar di dunia. Tantangan bagi negara kita, yaitu segera mewujudkan infastruktur pemerintah dalam menyediakan layanan internet yang cepat kapanpun dan di manapun. (*) Editor : Damianus Bram