Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features

Peran Muhammadiyah dalam Pendidikan di Indonesia

Damianus Bram • Jumat, 25 Februari 2022 | 16:00 WIB
H. Priyono, Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
H. Priyono, Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Oleh:

H. PRIYONO (Dosen Fakultas Geografi UMS)

SUPARTO (Sekretaris PDM Kabupaten Pesawaran, Lampung)

 

UPAYA untuk mengembangkan sumberdaya manusia, tidak lepas dari tiga bidang utama yaitu pendidikan , kesehatan dan ekonomi. Bagi penduduk Indonesia, dengan jumlah yang besar, menempati urutan keempat setelah Tiongkok, India, Amerika, tentu menjadi faktor penghambat disamping faktor pendorong. Nampaknya faktor penghambat masih menjadi penyerta dimana problem pendidikan kita adalah kualitas dan pemerataan pendidikan hingga sampai ke pelosok pedesaan.

Rendahnya tingkat pendidikan penduduk akan berdampak pada kemampuan penduduk dalam memahami dan menghadapi kemajuan zaman, ilmu pengetahuan, dan teknologi, Penduduk yang berpendidikan tinggi akan lebih mudah memahami dan beradaptasi dalam menghadapi perkembangan zaman, sehingga mereka akan lebih produktif dan inovatif. Salah satu prasarat untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan sejahtera adalah lebih ditentukan oleh sejauh mana kualitas sumber daya masyarakatnya. Kualitas suatu bangsa sangat ditentukan oleh peran serta mutu pendidikan yang dipergunakan oleh bangsa tersebut. Reformasi di Indonesia seakan menjadi cahaya impian yang akan memberikan banyak perubahan kehidupan bagi bangsa ini, khusunya pada sektor pendidikan. Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian, justru pendidikan di bumi Indonesia semakin menjadi problem baru, yakni lahirnya ambiguisitas dalam wilyah pendidikan yang terus berjalan di Indonesia. Kondisi ironis pendidikan tersebut adalah mengenai goal setting yang ingin dicapai sistem pendidikan.

Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi islam besar yang ada di Indonesia, ditambah lagi Indonesia merupakan Negara dengan penduduk muslim tebesar di dunia, maka tidak heran jika Muhammadiyah dapat menjadi organisasi besar dan berkontribusi besar di bidang pembangunan khususnya di Indonesia. Sebelum membahas peranan Muhammadiyah dalam bidang pendidikan ada baiknya kita mengetahui sedikit kilas balik tentang organisasi Muhammadiyah terlebih dahulu. Bidang pendidikan merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah yang menonjol, selain bidang pendidikan, masih banyak lagi amal usaha yang lainnya seperti dalam bidang keagamaan, kesehatan, politik, dan ekonomi yang menjadi perhatian Muhammadiyah.

Berdirinya Muhammadiyah tidak dapat lepas dari tokoh sentral pendirinya yaitu KH Ahmad Dahlan, yang juga dikenal sebagai Muhammad Darwis adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia. Pada usia yang masih belia, 15 tahun sudah berangkat menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan belajar agama. Tamaan yang lain, tokoh yang satu ini sejak kecil bersahabat dengan pendiri organisasi besar NU dan keduanya suka saling memuji. Tanpa mengecilkan arti perjuangan organisasi keagamaan yang lain, dua organisasi besar ini ibarat dua tangan yang saling melengkapi dengan peran masing masing untuk kemajuan bangsa. Muhammadiyah dan NU bisa berbagi tugas daripada bersaing.

Ada baiknya sebelum mempelajari lebih jauh tentang Muhammadiyah, kiranya perlu mengenal siapa dia? bagaimana pokok pemikiran dan perspektif keagamanya? KH Ahmad Dahlan dilahirkan di Kauman, Yogyakarta tahun 1285 H /1869 M. Ayahandanya bernama KH.Abu Bakar, seorang khatib Masjid Agung Kesultanan Yogyakarta Bila silsilah nya di rumus lebih jauh, maka di temukan keterangan bahwa ia adalah keturunan Syaikh Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada 8 April 1418 M , yang disemayamkan di Gresik. Dilihat dari latar belakang pendidikanya, KH Ahmad Dahlan dapat dikatakan tidak pernah memasuki sekolah secara formal, lalu di mana perspektif keagamaan dan wawasan keilmuan yang dimiliki. Perspektif keagamaan dan keilmuan nya sebagian besar merupakan hasil otodidaknya di bawah asuhan ayahandanya, sahabat, dan para saudara saudaranya. Menjelang dewasa, Kyai belajar ilmu fiqih kepada KH.Muhammad Shaleh, dan belajar ilmu nahwu kepada KH.Muhsin dan seorang guru lain, yaitu KH.Abdul Hamid, sementara itu, keahlianya dalam ilmu falaq diperoleh dari berguru kepada KH.R.Dahlan ,salah seorang putra Kyai Termas. Sedangkan ilmu hadits yang dikuasainya diperoleh dari KH.Mahfud dan Syeikh Khayat. Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh Muhammad Darwisy atau yang lebih dikenal dengan K.H. Ahmad Dahlan di Kauman, Yogyakarta pada tanggal 08 Dzulhijjah 1330 H/ 18 November 1912 sebagai tanggapan terhadap berbagai saran dari sahabat dan murid-muridnya mengenai upaya untuk mendirikan sebuah lembaga yang bersifat permanen Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah dikatakan bahwa persyarikatan Muhammadiyah adalah gerakan yang berasaskan islam, bersumberkan pada Al-Quran dan Sunnah Nabi Muhamma. SAW. , yang gerakannya melaksanakan dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Tajdid, yang bertujuan menjunjung tinggi agama islam sehingga terwujudnya masyarkat islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sebagai sebuah persyarikatan yang telah merumuskan visi dan misi yang sudah jelas, sehingga dapat melahirkan gerakkan yang terarah dan mencapai tujuan serta sasaran yang diinginkan secara bersama. Sebagai sebuah gerakan, dalam perjalanannya Muhammadiyah melaksanakan usaha dan kegiatannya dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat di Indonesia. Hal tersebut tercantum dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 7 ayat 1 AD Muhammadiyah: “ Untuk mencapai maksud dan tujuannya, Muhmmadiyah melaksanakan Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan” Ayat 2 menyebutkan : “Usaha Muhammadiyah diwujudkan dalam bentuk amal usaha , program, dan kegiatan yang macam dan penyelenggaraannya diatur dalam Anggaran Rumah Tangga” Muhammadiyah dalam segala bentuk usahanya diwujudkan dalam penerapan amal usaha.

Perwujudan cita cita mulia tersebut tentunya tidaklah mudah jika dilihat dari lingkup di Nusantara kala itu yang dimana kita tahu sejak jaman dahulu masih banyak sekali penyimpangan- dengan pengaruh mistik. Dengan demikian Muhammadiyah bergerak dengan perlahan tapi pasti melalui proses panjang seperti yang terjadi di masa sekarang bahwasanya Muhammadiyah telah berkembang pesat dengan dakwah melalui sikap dan tindakan dengan membangun beberapa amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, bahkan sampai ke lingkup sosial yang berbasis islami. Sehingga Muhammadiyah sudah tidak asing lagi tedengar di telinga masyarakat.

Pendidikan yang diciptakan Muhammadiyah adalah pendidikan yang berorientasi kepada dua hal, yaitu perpaduan antara sistem sekolah umum dan madrasah/pesantren. Untuk mewujudkan rintisan pendidikannya itu, maka Muhammadiyah mendirikan amal usaha berupa : Sekolah umum modern yang mengajarkan keagamaan, Mendirikan madrasah/pesantren yang mengajarkan ilmu pengetahuan umum/modern dan Mendirikan perguruan tinggi. K.H. Ahmad Dahlan merintis usaha pengembangan sistem pendidikan Islam modern yang kemudian menjadi alam pikiran umat Islam di belakang hari, karena melihat dualisme pendidikan yang diterapkan di Indonesia pada masa kolonial. Disatu pihak terdapat sistem pendidikan pondok pesantren di lingkungan umat Islam yang tradisional dan terisolasi dari perkembangan jaman, di pihak lain terdapat sistem pendidikan Barat yang diselenggarakan pemerintah kolonial Belanda yang sekuler yang sejak tahun 1817 melarang agama diajarkan di sekolah-sekolah pemerintah kolonial. Sebagai gerakan dakwah islam amar ma’ruf nahi munkar Muhammadiyah di tuntut unuk mengkomunikasikan pesan-pesan dakwahnya dengan cara menanamkan khazanah pengetahuan melalui pendidikan. Secara umum dapat dipastikan bahwa ciri khas lembaga pendidikan Muhammadiyah yang tetap dipertahankan sampai saat ini adalah mata pelajaran AIK (al-islam kemuhammadiyahan) di semua lembaga pendidikan milik Muhammadiyah. Itu adalah salah satu upaya Muhammadiyah agar senantiasa bahwa dia diciptakan oleh Allah SWT untuk berbakti kepada-Nya, bagi Muhammadiyah nilai-nilai islam harus menjadi pijakan dan menjadi pedoman dalam setiap langkah dan tindakan. Oleh karena itu sistem pendidikan modern oleh Muhammadiyah dijadikan sarana untuk menyampaikan dakwah islam.

Pemilihan konsep Islam Berkemajuan sebagai upaya mewujudkan Rahmatan lil ‘Alamin nyatanya bukan sesuatu yang baru. Dalam Muhammadiyah , konsep dalam kata ‘kemajuan’ bahkan sering disebut oleh pendiri Muhammadiyah Kiai Ahmad Dahlan termasuk dalam Statuten Muhammadiyah tahun 1912 yang berbunyi, “memajukan hal ihwal agama Islam kepada anggotanya.”

Peran dan kiprah Muhammadiyah bagi Bangsa Indonesia secara resmi telah diakui sejak lama oleh semua orang, termasuk oleh pemerintah pada era presiden Soekarno yaitu sejak tahun 1961 dengan mengangkat K.H. Ahmad Dahlah sebagai pahlawan nasional. Pengangkatan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pahlawan nasional membuktikan pengakuan atas kepeloporan Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana dikemukakan dalam Surat Keputusan Presiden Soekarno Nomor 657 tahun 1961. Muhammadiyah dinilai oleh pemerintah telah menjadi pelopor kebangkitan umat Islam Indonesia untuk menyadari nasibnya yang masih harus belajar dan berbuat. Muhammadiyah juga telah memberikan ajaran Islam yang murni yang menuntut kemajuan, kecerdasan dan beramal bagi masyarakat dan umat dengan memelopori amal usaha sosial dan pendidikan yang sangat diperlukan bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa. Muhammadiyah juga memelopori kebangkitan kaum perempuan dalam bidang pendidikan dan bergaul secara sosial setara dengan kaum laki-laki. Pendidikan yang dilaksanakan oleh Muhammadiyah merupakan salah satu dari bentuk dan jenis Amal Usaha Persyarikatan, yang struktur kelembagaannya bersifat formal, berjenjang dari tingkat PAUD, Taman Kanak-kanak, pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Adapun bentuk, jenis, dan tingkat pendidikan.

Muhammadiyah itu pada hakikatnya merupakan perwujudan dari pengembangan misi Muhammadiyah khususnya dalam bidang pendidikan, yang terkait secara substansial dengan pendidikan Islam yang berlandaskan Al-Quran dan Sunnah sebagaimana menjadi paham agama dalam Muhammadiyah, maupun secara kesejahteraan terkait pula dengan gagasan-gagasan dasar K.H. Ahmad Dahlan dalam merintis dan membangun pendidikan Muhammadiyah. Usaha Muhammadiyah dalam mendirikan dan menyelenggarakan sistem pendidikan modern dikarenakan Muhammadiyah yakin bahwa islam bisa menjadi rahmatan lil-‘alamin menjadi petunjuk dan rahmat bagi hidup dan kehidupan segenap manusia jika disampaikan dengan cara-cara modern sehingga dengan mudah masyarakat akan memahami nilai-nilai islam yang kaffah yang disampaikan oleh Muhammadiyah (https://www.muhammadiyah.or.id/content-8-det-amal-usaha.html.). Peran Muhammadiyah dalam memajukan pendidikan di Indonesia sangatlah berarti, hal ini bisa kita lihat dari banyaknya amal usaha di pendidikan. Organisasi ini memeliki 164 Perguruan Tinggi, 1.407 SMA, 1.826 SMP, 2.766 SD, 22.000 PAUD/TK. Selain itu Muhammadiyah memiliki 384 Panti Asuhan, 364 Klinik Kesehatan dan 356 Ponpes.

Sekolah Muhammadiyah mencerminkan komponen pendidikan Islam sebagaimana yang dicita-citakan oleh pendirinya, yaitu melaksanakan s\sstem Pendidikan Islam yang mantap dan terpadu. Guru dan murid menghayati dan mengamalkan cara hidup, cara bergaul, cara belajar yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, baik di sekolah maupun di luar sekolah.Yang membedakan Sekolah Muhammadiyah dengan Sekolah yang lain adalah bahwa sekolah Muhmmadiyah melaksanakan pendidikan agama Islam yang luas dan mendalam yang meliputi tauhid, ibadah, akhlak dan ilmu bantu dalam pendidikan Islam, serta kemuhammadiyahan. (*) Editor : Damianus Bram
#H. Priyono #Muhammadiyah dalam Pendidikan di Indonesia #Peran Muhammadiyah dalam Pendidikan di Indonesia