Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Keluarga, Lingkungan Sehat bagi Anak?

Damianus Bram • Rabu, 25 Mei 2022 | 04:42 WIB
Ayu Khoirotul Umaroh, SKM., MKM selaku Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Surakarta
Ayu Khoirotul Umaroh, SKM., MKM selaku Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Surakarta
MASYARAKAT di dunia memeringati Hari Keluarga Internasional tiap 15 Mei. Sebagaimana ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1993. Hari Keluarga Internasional, bertujuan untuk mempromosikan kesadaran masyarakat terhadap isu-isu yang berkaitan dengan keluarga. Selain itu, juga meningkatkan pengetahuan tentang proses sosial, ekonomi, dan demografi yang memengaruhi keluarga.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), keluarga berarti ibu dan bapak, beserta anak-anaknya. Orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, sanak saudara atau kaum kerabat, serta satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Dalam Undang-Undang (UU) Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan, dan Pembangunan Keluarga, mengartikan keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami-istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) merumuskan, terdapat delapan fungsi keluarga. Yakni fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.

Anak menjadi anggota keluarga yang paling lemah. Mereka membutuhkan pendampingan dan pembinaan dengan porsi lebih banyak, dibandingkan anggota keluarga lainnya. Selain itu, anak juga memiliki hak seperti mendapatkan nama (identitas), status kebangsaan atau kewarganegaraan, mendapatkan perlindungan, memperoleh makanan, kesehatan tubuh, rekreasi, mendapatkan pendidikan, bermain, berperan dalam pembangunan, serta mendapatkan kesamaan untuk tumbuh dan berkembang.

Kasus Kekerasan Anak dalam Keluarga

Laporan di situs SIMFONI PPA, tercatat jumlah kasus kekerasan berdasarkan tempat kejadian, mayoritas di dalam rumah tangga. Sedangkan jenis kekerasan yang dialami, di antaranya 2.653 kasus kekerasan fisik, 2.616 kasus psikis, dan 3.490 kasus kekerasan seksual. Juga terdapat bentuk lainnya seperti eksploitasi, penelantaran, penjualan anak, dan lainnya.

Hal ini menunjukkan bahwa, keluarga belum mampu memberikan perlindungan pada anak untuk terhindar dari kekerasan. Kasus kekerasan pada anak dapat berakibat fatal bagi kesehatan fisi dan mental. Bahkan mungkin saja berujung kematian.

Kekerasan fisik seperti mencubit, memukul, atau menendang tubuh anak, mungkin akan menyisakan luka dan sakit pada badan yang dipukul tadi. Kekerasan psikis misalnya memaki, mengancam, menyumpahi, dan sebagainya, mungkin akan melekat pada ingatan anak seumur hidupnya. Termasuk menyisakan luka batin yang mendalam dan kesehatan mental di kemudian hari. Sedangkan kekerasan seksual yang dilakukan oleh keluarga sendiri pada anak, pasti akan menimbulkan trauma mendalam. Pelaku tentu harus menerima hukuman seberat-beratnya.

Menyadari Pemicu Kekerasan

Sebagai orang tua yang memiliki kendali terhadap keluarga, kita hendaknya selalu memiliki pertimbangan saat bertingkah laku di dalam keluarga. Misalnya ketika dalam kondisi terhimpit keuangan karena dampak pandemic Covid-19, ayah dikeluarkan dari pekerjaan, dan ibu hanya seorang ibu rumah tangga tanpa pekerjaan sambilan, maka jangan sampai menjadi pemicu kekerasan dalam keluarga. Apalagi terhadap anak. Karena tidak ada kekerasan yang bisa menyelesaikan masalah.

Beberapa penelitian menyebutkan, pemicu kekerasan anak dalam keluarga adalah keadaan ekonomi keluarga, pengetahuan orang tua terhadap pengasuhan anak, kondisi psikologis orang tua, dan keberadaan yang tidak diinginkan. Orang tua berkewajiban membekali diri menjadi yang terbaik bagi anaknya.

Maka ketika orang tua menyadari sedang dalam masalah tersebut, ada baiknya berdiskusi dengan orang lain yang dapat memberikan bantuan. Salah satu alternatifnya, yakni layanan diskusi dan konsultasi gratis terkait keluarga bernama Siap Nikah, yang telah disediakan oleh BKKBN.

Masyarakat dapat mengaksesnya melalui situs siapnikah.org. Selain itu, bergabung dengan komunitas parenting juga penting. Untuk menambah wawasan orang tua dalam menjalani hari-hari bersama anaknya.

Mewujudkan Keluarga Sehat

Dalam keilmuan kesehatan masyarakat, terdapat istilah determinant social of health atau determinan sosial penentu kesehatan. Di mana salah satu faktor penentunya adalah keluarga. Individu yang sehat jasmani dan rohaninya, salah satunya ditentukan dari bagaimana peran keluarga terhadap dirinya. Apakah baik atau buruk?

Untuk menjadikan seorang individu yang sehat, maka diperlukan keluarga yang sehat pula. Serta berlaku positif pada anggota keluarga lainnya. Langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkan keluarga yang sehat, adalah sebagai berikut.

Pertama, bangun keterikatan dengan anak seberapa pun sibuknya orang tua. Semakin banyak interaksi positif, makin membesar keterikatan terbangun. Dan semakin tercipta rasa sayang satu sama lain.

Kadang orang tua tidak sadar, ciuman kecil di pipi, pelukan hangat, atau ucapan sayang dan terima kasih mampu menumbuhkan rasa sayang anak pada orang tuanya. Bahkan penelitian membuktikan, sentuhan kasih sayang mampu memberikan peluang tumbuh kembang anak yang positif.

Kedua, bekali diri dengan ilmu pengasuhan. Tiap anak yang terlahir itu istimewa. Dan yang paling mengerti cara memperlakukan anak dengan baik dan benar adalah orang tuanya. Maka, sebelum memutuskan memiliki anak, perlu belajar ilmu pengasuhan. Bahkan saat sudah memiliki anak pun, tetap harus rajin mempelajari seni pengasuhan tersebut.

Ketiga, bangun ketahanan diri sebagai orang tua. Orang tua wajib memiliki ketahanan, fleksibilitas, dan kekuatan batin yang diperlukan untuk bangkit kembali, ketika segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik. Orang tua dengan ketahanan tersebut, umumnya mampu mengatasinya sendiri. Tetapi mereka juga tahu, bagaimana mencari bantuan di saat-saat sulit. Kemampuan ini berfungsi sebagai model perilaku bagi anak-anak mereka.

Keempat, membangun koneksi sosial. Orang tua perlu berjejaring dengan kelompok sosial yang positif. Misalnya komunitas yang mampu memberikan aktivitas positif dan bermanfaat untuk keluarganya. Hal tersebut dapat membantu untuk membangun sistem dukungan yang baik.

Kelima, lingkungan sosial yang memiliki andil dalam memberikan dukungan bagi orang tua. Menjadi orang tua adalah sebuah pilihan. Namun menjadikan keluarga sebagai lingkungan terbaik  anak, adalah keharusan. Duri tajam menancap di tangan, obatnya bisa macam-macam. Apa jadi bila keluarga bukan tempat yang aman, perkembangan anak pasti terancam. (*)

Ayu Khoirotul Umaroh, SKM., MKM. *)

*) Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Surakarta

  Editor : Damianus Bram
#Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat #Keluarga Lingkungan Sehat bagi Anak #ums bicara #UMS #Ayu Khoirotul Umaroh