Hal tersebut dapat disebabkan oleh sejumlah faktor salah satunya adalah semakin berkembangnya pertumbuhan penduduk yang sangat pesat, sehingga memberikan dampak yang signifikan terhadap jumlah sampah di lingkungan. Salah satu jenis sampah organik adalah sampah limbah rumah tangga, dimana mayoritas masyarakat hanya mengetahui untuk menimbun sampah di TPA saja, sehingga hal tersebut menyebabkan bertambahnya tumpukan sampah organik di TPA.
Sebuah studi oleh Sustainable Waste Indonesia menyatakan bahwa sebanyak 70% sampah yang terbuang di TPA adalah sampah organik. Dengan demikian, dibutuhkan upaya yang tepat untuk mengelola sampah organik agar memiliki nilai guna yang lebih tinggi yaitu dengan membuat Eco Enzyme sebagai pupuk cair pengganti pupuk kimia.
Selain bentuk pengelolaan dari sampah organik, Eco Enzyme juga berperan dalam menjaga kestabilan unsur hara di dalam tanah akibat penggunaan pupuk kimia yang berkepanjangan, sehingga dapat memaksimalkan hasil panen petani. Dengan demikian, menurut Dewi Diharjo, Eco enzyme merupakan bentuk upaya untuk mewujudkan SDGs atau Sustainable Development Goals yang dicanangkan oleh PBB khususnya point 6 (clean water and sanitations), 13 (climate action), dan 14 (life below water).
Eco Enzyme merupakan hasil fermentasi dari sampah organik berupa kulit buah dan kulit sayur dengan menggunakan gula aren/molase dan air sebagai bahan tambahannya. Eco Enzyme ditemukan dan dikembangkan oleh seorang peneliti dari Thailand yang bernama Dr. Rosukon Poompanvong, seorang pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand, dan diperkenalkan lebih luas oleh Dr. Joean Oon, seorang peneliti Naturopathy dari Malaysia.
Eco Enzyme memiliki sifat ramah lingkungan karena prosesnya melibatkan metabolisme bakteri (respirasi anaerob) yang secara alami terkandung dalam kulit buah dan sayuran dan akan menghasilkan enzim microorganism berupa asam asetat/alkohol. Lama pembuatan Eco Enzyme adalah 3 bulan di wilayah tropis, dan 6 bulan di sub-tropis. Hasil akhirnya adalah cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Hasil Eco Enzyme dapat dikatakan baik apabila pH dibawah 4,0 dan beraroma asam segar.
Untuk membuat pupuk cair berbasis Eco Enzyme, kita perlu membuat larutan Eco Enzyme terlebih dahulu dengan takaran perbandingan bahan yang dibutuhkan adalah 1 gula aren/molase : 3 kulit buah dan sayur segar : 10 Air. Langkah awal dalam pembuatan eco enzyme bisa dimulai dengan memanfaatkan sampah organik yang dihasilkan dapur, yaitu dengan menyiapkan, mencuci, dan memotong kecil minimal 5 jenis kulit buah dan sayur yang berbeda (kecuali kulit nanas dan cabai). Lalu masukkan ke dalam toples plastik, dan tambahkan gula aren/molase sesuai perbandingan. Kemudian masukkan air ke dalam toples dengan takaran air maksimal 60% dari volume toples, lalu aduk seluruh bahan hingga tercampur jadi 1 dan tutup rapat toples, lalu tunggu hingga 3 bulan.
Setelah larutan Eco Enzyme sudah jadi, kita dapat membuat pupuk cair berbasis Eco Enzyme sebagai pupuk alami tanaman dengan menambahkan 1 ml Eco Enzyme setiap 1L air (1:1000). Kandungan alami pada Eco Enzyme terbukti mampu menyuburkan tanah dengan lebih baik dibanding pupuk kimia.
Hal tersebut didasari pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rosukan Poompanvong dari Thailand, bahwa Eco Enzyme mampu mengubah Amonia menjadi Nitrat (NO3), hormon alami, dan nutrisi alami untuk tanaman sehingga pupuk cair berbasis Eco Enzyme tidak memiliki efek negatif untuk jangka panjang. Selain itu, cairan tersebut juga mampu mengubah CO2 menjadi karbonat (CO3) yang bermanfaat membantu siklus alam untuk memudahkan pertumbuhan tanaman dengan berperan sebagai fertilizer.
Memang, jika menggunakan pupuk kimia mampu mempercepat masa tanam, namun di sisi lain dalam jangka panjang justru akan menimbulkan dampak yang negatif. Menurut riset para ahli, pada umumnya tanaman tidak bisa menyerap 100% pupuk kimia. Selalu akan ada residu atau sisanya yang tertinggal di dalam tanah. Bila sisa tersebut telah terkena air akan mengikat tanah seperti lem/semen. Sehingga, setelah kering tekstur tanah akan tidak gembur lagi dan menjadi lebih keras.
Selain keras, kandungan asam pada tanah akan semakin meningkat yang menyebabkan organisme pembentuk unsur hara sebagai penyubur tanah akan mati atau berkurang populasinya. Bila hal ini terus terjadi, maka dapat mengakibatkan terjadinya kegagalan pada tanah untuk dapat menyediakan makanannya secara mandiri, sehingga akan ketergantungan dengan pupuk kimia.
Penggunaan pupuk kimia juga berdampak pada lingkungan, seperti dapat mengakibatkan eutrofikasi, yaitu merupakan proses pengayaan nutrisi dan bahan organik dalam air atau pencemaran air yang disebabkan munculnya nutrisi yang berlebihan ke dalam ekosistem.
Pupuk kimia mengandung zat seperti nitrat dan fosfat, yang dapat menjadi racun untuk kehidupan akuatik. Selain itu, pupuk kimia juga mengandung metana, karbon dioksida, amonia, dan nitrogen yang dapat menyebabkan pemanasan global. Dampak serius terhadap lingkungan menyebabkan penurunan kualitas produksi akibat kerusakan unsur hara tanah yang diikat oleh residu kimia dalam tanah.
Dengan demikian, penggunaan pupuk cair berbasis Eco Enzyme sangatlah penting untuk digunakan sebagai pengganti pupuk kimia. Selain sebagai solusi untuk mengurangi jumlah sampah organik yang semakin menumpuk, Eco Enzyme juga dapat dijadikan pupuk cair alami untuk menyelamatkan kerusakan tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus.
Oleh sebab itu, penggunaan pupuk cair berbasis Eco Enzyme menjadi salah satu bentuk untuk mewujudkan tujuan SDGs guna mencapai lingkungan yang bersih, nyaman dan sehat. Harapannya, kita dapat bersama-sama menyukseskan SDGs demi menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang keberlanjutan. (Oleh Dewi Diharjo, Mahasiswa Universitas Sebelas Maret) Editor : Damianus Bram