Perekonomian Kota Solo dan secara umum juga perekonomian Indonesia memiliki pekerjaan rumah yaitu adanya kesenjangan ekonomi. Selama beberapa tahun terakhir perekonomian Solo menunjukkan tren pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi daripada rata-rata pertumbuhan kabupaten atau kota di Jawa Tengah. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tersebut belum dapat diikuti oleh pengurangan tingkat kesenjangan ekonomi secara signifikan. Artinya pengurangan tingkat kemiskinan tidak setinggi peningkatan pertumbuhan ekonomi.
Secara normal upaya pengurangan tingkat kemiskinan telah berhasil mencapai mencapai 45.180 jiwa atau setara 8,7 persen dari total penduduk pada 2019. Ketika pandemi Covid-19 mulai menyerang, tingkat kemiskinan pada 2020, penduduk miskin menjadi 74.030 jiwa atau setara 9,03 persen. Tingkat kesenjangan pembangunan wilayah di Kota Bengawan yang ditunjukkan oleh kriteria Bank Dunia menunjukkan angka yang kurang menggembirakan.
Tingkat pendapatan 40 persen masyarakat terendah di Kota Surakarta hanya menikmati 17,23 persen. Angka ini menduduki peringkat keempat sedikit lebih baik daripada Kota Magelang sebesar 16,23 persen. Kota Salatiga sebesar 16,94 persen. Dan Kota Semarang sebesar 17,17 persen.
Sementara dari tingkat kecamatan dapat diketahui dari indeks Williamson. Untuk Kecamatan Jebres dan Pasar Kliwon teridentifikasi adanya ketimpangan. Kecamatan Jebres dilihat dari rata-rata pendapatan per kapita lebih rendah daripada rata-rata per kapita di Kota Solo. Sementara di Kecamatan Pasar Kliwon memiliki tingkat pendapatan rata-rata lebih tinggi daripada rata-rata pendapatan Kota Solo.
Data tersebut membuktikan bahwa kesenjangan ekonomi di Kota Solo masih memerlukan strategi penanganan yang tepat. Strategi ini dapat diterjemahkan dalam program dan kegiatan yang dibutuhkan untuk mengurangi tingkat kemiskinan dan pengangguran.
Dari pengamatan Kecamatan Pasar Kliwon memang memiliki beberapa keunggulan daripada kecamatan-kecamatan lain di Kota Solo. Beberapa keunggulan Pasar Kliwon adalah sebagai pusat pemerintahan, pusat perdagangan, dan pusat peradaban di Kota Solo. Seperti diketahui bahwa di Kecamatan Pasar Kliwon sebagai cikal bakal Kota Solo. Sebagai pusat pemerintahan tentu sumber daya ekonomi mengarah ke pusat pemerintahan ini.
Sebagai pusat perdagangan dan pusat peradaban dipengaruhi oleh sejarah bahwa cikal bakal Kota Solo ada di kecamatan ini. Sebagai cikal bakal pengembangan kota, banyak pedagang-pedagang yang berdatangan ke Solo dan akhirnya menetap di Kota Solo hingga saat ini. Kegiatan perdagangan ini terbukti menjadi salah satu penyumbang terbesar ekonomi di Kota Solo.
Aktivitas ekonomi yang dilakukan telah melahirkan rantai kegiatan ekonomi mulai dari para produsen hingga distributor. Aktivitas ekonomi yang meningkat memunculkan aktivitas ekonomi lainnya seperti transportasi, kuliner, akomodasi, dan hiburan.
Demikian juga untuk Kecamatan Jebres dengan karakteristik yang berbeda dengan karakteristik kecamatan lain di Kota Solo. Kecamatan Jebres memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh kecamatan lain. Jebres yang memiliki wilayah di ujung timur Kota Solo memiliki pusat pendidikan seperti UNS dan beberapa kampus perguruan tinggi swasta.
Selain pusat pendidikan, Kecamatan Jebres juga memiliki pusat kesehatan yaitu RSUD Dr Moewardi sebagai rumah sakit rujukan. Dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kecamatan Jebres diarahkan menjadi wilayah untuk pengembangan pemukiman, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan dan jasa, serta industri kreatif.
Melihat beberapa keunggulan dan penetapan wilayah dalam RTRW potensi pengembangan ekonomi cukup tinggi. Potensi ini akan semakin berkembang bila investasi dapat difasilitasi dengan baik oleh pemerintah. Dalam beberapa kali kesempatan sidang analisis dampak mengenai lingkungan (AMDAL) di Kota Solo terungkap bahwa kesempatan untuk bekerja cukup terbuka. Investasi banyak masuk dan kesempatan bekerja terbuka serta meningkatnya peluang usaha dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dan masyarakat.
Antisipasi terhadap investasi yang masuk dapat dipersiapkan tenaga kerja yang sesuai dan dibutuhkan. Peluang usaha yang dapat dikembangkan juga dapat difasilitasi oleh pemerintah melalui dinas terkait. Upaya pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dapat diikuti oleh pengurangan pengangguran dan kemiskinan. Bila ada kendala tentang keterampilan maka dipersiapkan kursus-kursus yang sesuai. Bila ada kendala dalam informasi maka peningkatan literasi teknologi informasi menjadi kegiatan wajib yang dapat dilakukan.
Bila ada kendala dalam kesediaan bekerja maka perlu dilakukan kajian khusus mengapa masyarakat kurang tertarik untuk bekerja dalam bidang tertentu. Mengapa terjadi mismatch dalam permintaan dan penawaran tenaga kerja.
Akhirnya kita berharap suatu saat nanti tidak ada lagi ungkapan Ojo Dibandingke di kalangan masyarakat karena secara ekonomi masyarakat relative tidak timpang. Mereka dapat turut serta dalam pembangunan. Maju bersama, makmur bersama. (Disarikan dari wawancara wartawan Jawa Pos Radar Solo Septina Fadia Putri dengan Suryanto, Pengamat Ekonomi UNS) Editor : Damianus Bram