Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Standarisasi Becak Wisata

Damianus Bram • Senin, 19 Desember 2022 | 15:10 WIB
Budayawan Surakarta, BRM Bambang Irawan
Budayawan Surakarta, BRM Bambang Irawan
KEONTENTIKAN becak kayuh sebagai salah satu alat transportasi memiliki potensi besar untuk perkembangan pariwisata dan budaya di Kota Solo. Karakter budaya dapat terlihat dari moda transportasi tradisional ini. Peluang tersebut dapat dicapai jika digarap sungguh-sungguh oleh pemerintah daerah dengan berbagi terobosan baru.

Beberapa strategi dan terobosan yang dapat dilakukan Pemerintah Kota Surakarta dalam menjadikan becak sebagai alat transportasi pariwisata khas Solo. Salah satunya dengan standarisasi becak pariwisata khas Solo. Standar ini mengacu pada fasilitas becak yang dapat dinikmati para wisatawan.

Sentuhan kreativitas dan modifikasi becak perlu dilakukan. Salah satunya dengan pemberian warna dan lukisan yang menarik sebagai daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.Memodifikasi lainnya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara meberikan standarisasi kenyaman tempat duduk pengunjung saat menaiki becak.

Saat ini becak masih menjadi incaran dan tujuan utama para pelancong untuk alat transportasi berpindah dari satu tempat wisata ke tempat yang lain dengan jarak tempuh tidak terlalu jauh. Para wisatawan terutama wisatawan mancanegara lebih memilih becak untuk antar jemput mereka dari hotel ke tempat wisata.

Becak mudah diperoleh pada beberapa wilayah yang strategis misalnya dekat pasar, pinggir jalan raya, ataupun dekat area perbelanjaan. Biasanya para pengemudi becak mangkal di tempat-tempat tersebut untuk mencari penumpang maupun barang tumpangan.

Penarik becak layaknya para pemandu wisata untuk mengenalkan budaya dan tradisi Kota Solo. Pada saat menaiki becak terjadi relasi dan interaksi antara pengemudi becak dengan penumpang sehingga menjadikan suatu keakraban dan saling percaya. Banyak pedagang yang mempercayakan pengambilan barang dagangan di pasar kepada pengemudi becak yang menjadi langganannya.

Maka perlu ada kerja sama dan kolaborasi dengan tempat wisata, tempat penginapan (hotel) maupun tempat kuliner. Kerja sama ini diperlukan untuk meningkatkan waktu operasional dan pendapatan para pengayuh becak. Becak yang masih menggunakan tenaga manusia juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Maka perlu juga peningkatan kualitas penarik becak.

Peningkatan sumber daya manusia para penarik becak dengan pemberian seragam yang unik bagi para pengayuh becak. Peningkatan kualitas SDM ini dapat diberikan dalam bentuk pelatihan bahasa. Bersinggungan langsung dengan para wisatawan baik dalam maupun luar negeri, maka kemampuan komunikasi para tukang becak perlu di upgrade. Salah satunya dengan memberikan pelatihan dan pengenalan bahasa Indonesia dan Inggris.

Selain itu, perlu ada infrastruktur yang mendukung untuk rute becak pariwisata. Sebelumnya pemkot juga telah memberikan rute khusus tersebut di sebelah kanan dan kiri Jalan Slamet Riyadi. Tetapi kini dipakai oleh angkutan lain dan tempat parkir kendaraan,  sehingga pengemudi becak merasa hak-hak mereka diserobot oleh rute angkutan umum.  Maka aturan tersebut haru kembali diperjelas dan dipertegas.

Aturan terkait operasional becak sebagai transportasi wisatawan juga harus diperjelas. Kejelasan operasional becak dapat dilakukan dengan cara pemberian warna pada becak sesuai waktu operasionalnya.  Misalnya warna merah untuk yang beroperasi siang hari, warna putih untuk yang beroperasi malam hari. Pemberian warna ini diatur lebih lanjut oleh pemerintah daerah.

Kunci utama untuk menjadikan becak sebagai transportasi pariwisata ada ditangan pemerintah daerah. Bagaimana perintah memberikan dukungan dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya. Jika digarap dengan bagus, maka becak sebagai alat transportasi dapat menjadi peluang besar untuk meningkatkan pariwisata dan kesejahteraan masyarakat. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septian Refvinda dengan BRM Bambang Irawan selaku Pengamat Ekonomi Pembangunan UNS Editor : Damianus Bram
#Standarisasi Becak Wisata #moda transportasi tradisional #becak pariwisata khas Solo #becak kayuh #Becak Wisata