FENOMENA remaja putri terjerumus ke dalam praktik prostitusi, tak lepas dari adanya degradasi mental dan karakter. Banyak faktor pemicu mereka pilih menjajakan diri. Baik eksternal maupun internal.
Hal paling mendasar, yakni dekadensi atau kemerosotan moral. Tidak adanya penghargaan tinggi terhadap nilai-nilai hidup dan budaya sebagai pedoman hidup, jadi pendorong remaja terjerumus protitusi.
Remaja zaman now memang memiliki kemampuan unik dan beragam. Mereka adalah pribadi multitalenta, apalagi didukung kemajuan teknologi berbasis internet. Kemudahan mengakses media sosial (medsos) dan teknologi, memacu eksistensi jiwa muda kamu milenial dengan segala rasa ingin tahunya.
Di sisi lain, ada kelemahan yang sangat mencolok, yakni munculnya degradasi mental dan karakter terpuji kaum milenial. Mental mereka mudah down alias putus asa, atau biasa disebut baperan. Berani mencoba, tapi sangat mudah putus asa. Mudah sakit hanya karena masalah sepele, kurang tekun berusaha, dan mudah lelah. Bahkan cenderung mudah diserang penyakit psikis.
Faktor lainnya yakni, gaya hidup alias hedon alias konsumerisme. Nilai-nilai hidup yang santun, sopan, tidak berlebihan, sangat bertolak belakang dengan hidup penuh kesenangan serta berlebih-lebihan yang marak menjangkit para remaja.
Keinginan mendapatkan validasi eksternal mengenai kekayaan dan kemapanan dengan cara instan, mendorong remaja menjadi pelaku prostitusi. Selain itu, juga dipicu desakan ekonomi. Remaja putri terpaksa masuk ke lembah hitam, demi terhindar dari kesulitan hidup. Biasanya berdalih membantu ekonomi keluarga, namun dengan cara menyalahi norma di masyarakat.
Tak kalah pentingnya, faktor pergaulan bebas. Faktor ini paling mudah menjerumuskan remaja ke perilaku seks bebas. Karena tergiur bujuk rayu orang lain, semisal pacar atau teman dekatnya. Diperparah dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis.
Terakhir, bebasnya mengakses teknologi. Kemajuan teknologi membuat remaja mudah mengakses konten berbau pornografi. Termasuk paparan tentang kemewahan yang sering ditampilkan di medsos. Remaja yang mudah terpengaruh sekaligus ingin mendapatkan kemewahan secara instan, mudah terjerumus ke dalam prostitusi.
Fenomena prostitusi ini sudah lama terjadi di kalangan remaja di Indonesia. Memberi dampak buruk bagi individu maupun lingkungannya. Prostitusi termasuk bentuk patologi sosial, yang harus dihentikan penyebarannya dengan dicegah dan diperbaiki.
Praktik ini sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral masyarakat. Sungguh miris. Karena tidak hanya dilakukan wanita dewasa, tetapi juga remaja, bahkan anak di bawah umur.
Budaya pergaulan bebas seakan memberi lampu hijau praktik prostitusi ini. Mereka yang terjerumus, seakan lupa akan dampak negatifnya. Seperti paparan penyakit, moral, hingga psikososial.
Upaya menekan ruang gerak praktik prostitusi ini, harus dilakukan secara menyeluruh oleh seluruh lapisan masyarakat. Secara makrosistem, perlu mempertajam kembali dan merealisasikan hukuman di dalam aturan terkait prostitusi di Indonesia. Sebisa mungkin membuka lebar peluang mendapatkan pendidikan dan pekerjaan layak bagi setiap masyarakat. Termasuk pemblokiran pada situs-situs pornografi atau sejenisnya, yang mendorong praktik ini kembali terulang.
Secara ekosistem, perlu adanya community awareness terhadap pencegahan praktik prostitusi. Sehingga generasi milenial bisa saling menjaga orang-orang di sekitarnyam agar tidak terjerumus. Sedangkan secara microsistem, butuh peran penting dari keluarga, tetangga, teman, dan saudara.
Terakhir secara individu, kamu minelial perlu membentengi diri dengan nilai moral yang kuat. Mencegah diri dengan landasan nilai hidup yang positif. Serta menghindarkan diri dari keinginan bergaya hidup mewah. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septian Refvinda dengan Pakar Psikologi UNS Fadjri Kirana Anggarani)
Editor : Damianus Bram