Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kemiskinan dan Prostitusi

Damianus Bram • Jumat, 27 Januari 2023 | 16:30 WIB
Pengamat Ekonomi UMS Anton Agus Setyawan.
Pengamat Ekonomi UMS Anton Agus Setyawan.
KEMISKINAN banyak membawa permasalahan yang mengakar dan diyakini menjadi domino effect bagi permasalahan-permasalahan lainnya. Persoalan ekonomi yang mengekang membuat anak cenderung mendapatkan asupan gizi yang tidak seimbang dan pendidikan yang rendah. Kurang harmonisnya hubungan anak dengan orang tua serta ditambah desakan ekonomi, ikut mendorong anak terjun dalam dunia prostitusi.

Faktor ekonomi masih menjadi paling dominan mengapa orang terjerumus ke dalam prostitusi untuk memenuhi kebutuhan. Kemiskinan, sama halnya dengan isu ketimpangan sosial, merupakan permasalahan yang hampir selalu ada pada setiap negara dan tidak pernah berujung. Hingga akhirnya akan memicu tindakan-tindak kejahatan lainnya.

Tidak hanya menjadi penyebab prostitusi, kemiskinan juga menjadi penyebab untuk tindak kejahatan lainnya. Di saat perut lapar dan tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup ditambah dengan pikiran yang pendek bisa membuat siapapun mudah terjerumus ke dalam prostitusi.

Belenggu kemiskinan juga dapat berimbas pada rendahnya pendidikan seseorang. Minimnya keahlian dan keterampilan membuat seseorang menjadi pasrah dan memilih jalur pintas dengan terjerumus dalam prostitusi. Hasil yang menjanjikan secara instan membuat banyak orang mudah tertarik ke dunia malam ini. Tidak jarang, karena rendahnya pendidikan, prostitusi menjadi pilihan untuk mendapatkan uang.

Tidak hanya itu, adanya gap antara kebutuhan gaya hidup dan kemampuan ekonomi juga menjadi pemicu sesorang memilih jalan pintas terjun ke dunia prostitusi. Gaya hidup yang lebih mengarah pada hedonisme sangat membutuhkan uang yang tidak sedikit. Apalagi jika masuk ke dalam kelompok atau pergaulan yang juga terbiasa dengan gaya hidup seperti ini. Maka ketika kebutuhan hidup untuk bersenang-senang melebihi dari pendapatan yang diterima, prostitusi menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan uang banyak dengan waktu singkat.

Pemerintah memang tidak boleh tinggal diam dalam proses penanggulangan isu ini. Maka sebelum masuk lebih dalam untuk mengatasi prostitusi, pemerintah harus terlebih dahulu berupaya mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat yang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan sejahtera akan sangat jauh dari dunia prostitusi. Bagaimana dapat hidup sejahtera? Salah satu caranya adalah dengan memberikan kesempatan untuk bekerja.

Pemerintah perlu membuka lapangan kerja seluas luasnya untuk masyarakat miskin agar terhindar dari tindakan kejahatan dan lainnya. Pendampingan pemerintah pada masyarakat kelas menang harus dilakukan. Masyarakat miskin juga harus dinilai sebagai aset daerah yang bisa diberdayakan. Upaya-upaya pemerintah tersebut secara tidak langsung dapat mengatasi masalah klasik, isu prostitusi.

Melalui pendidikan, masyarakat khususnya para remaja juga dapat terhindar dari jerat prostitusi. Dengan pendidikan, masyarakat akan mampu memiliki taraf hidup yang lebih baik. Pendidikan menjadi modal dasar masyarakat untuk menghindar dari prostitusi. Masyarakat berpendidikan tinggi dan memiliki skill atau keterampilan akan dapat diterima di dunia kerja.

Selain itu semua, ada satu hal yang paling utama dalam mengatasi permasalahan prostitusi, yaitu bekal iman dan pemahaman agama yang cukup. Membentuk akhlak seseorang memang tidak mudah, maka saat ini penanaman nilai-nilai karakter kepada siswa menjadi hal utama dalam dunia pendidikan. Dengan memahami bahwa prostitusi merupakan tindakan yang tercela dan tidak layak dilakukan, maka seseorang yang berada dalam kondisi terjepit baik karena himpitan ekonomi, tuntutan gaya hidup, atau apapun sebab lainnya akan berusaha untuk menjauhi dunia prostitusi. (Disarikan dari wawancara wartawan Radar Solo Septian Refvinda)  Editor : Damianus Bram
#prostitusi #Pengamat Ekonomi UMS Anton Agus Setyawan #Kemiskinan dan Prostitusi #Anton Agus Setyawan #kemiskinan