KAMPUS menjadi ajang mahasiswa berjumpa dengan dosen. Juga lahan berinteraksi dalam ranah edukasi. Di kampus insan akademis saling bertinteraksi satu sama lain dalam proses edukasi. Terkadang suasana akademik menjadi terasa sangar, kaku, dan jauh dari sunggingan senyum di wajah.
Mulailah tembok-tembok gedung berdiri angkuh tanpa “senyum ramah”, saat menyambut kehadiran insan akademik. Suasana ini diupayakan cair dan ada pemikiran, bahwa mengedukasi tidak melulu melalu tatap akademik semata. Ada lini lain yang bisa dijadikan media edukasi, yaitu “mural”. Seni rupa yang dapat diamati saat insan kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) berada di arena parkir di tepi danau.
Biro Kemahasiswaan UMS memiliki program seni yang apresiatif. Melalui Lomba Pembuatan Mural pada Maret lalu. Antusiame warga kampus menjadikan program ini terlaksana dengan sukses.
Mural hadir dan lahir dari sentuhan seniman kampus, yang memelihara latu, bara, dan api keindahan. Sajian visual yang menyegarkan suasana, mengindahkan tembok kaku yang berdiri. Selain itu, ada hal yang tidak kalah penting yaitu mengedukasi insan kampus. Namun, masih perlu gerakan baru yaitu menarasikan mural yang terpajang dengan seni bahasa.
Seni rupa mengalami perjumpaan dengan seni bahasa. Pada saat menonton acara tayangan sintron di media televisi dijumpai mural yang berposisi sebagai latar belakang (background). Mulut insan yang berukuran tidak semestinya, berwarna merah menyala mendominasi dan sedikit warna putih lidah.
Mural tersebut didominasi gambar dan penonjolan warna. Ada rasa terusik setelah melihatnya. Warna merah membawa diri pada pemaknaan, bahwa insan itu mempunyai nafsu besar dan diilustrasikan dengan mulut mengaga. Serta menuju pada tidak adanya keterbatasan diri insan pada saat sudah mengumbar nafsu. Insan yang bisa rakus, tamak, dan tidak mengenal lagi mengenai kesucian laku.
Ilustrasi lidah berwarna putih, memberi arah bahwa diperlukan kesucian dan kehati-hatian dalam melalap menu-menu yang tersaji dalam kehidupan. Kenikmatan yang dinikmati, ada sedikit saja kesadaran untuk berlaku ke arah kesucian.
Diripun merenung. Apakah sejauh itu pemaknaan “mural” yang ditonton? Apakah tidak hanya penghias visual saja “mural” yang ditampilkan dalam acara tayangan sinetron tersebut? Berpikir positif, bahwa insan visual dalam berseni menghendaki ada pesan yang disampaikan dalam acara tayangan sinetron.
Penonton (pemirsa) ditempatkan pada posisi netral, dalam memberikan tafsiran terhadap visualisasi yang ada. “Mural” yang terdapat di acara tayangan sinetron turut berperan dalam menyampaikan pesan.
Peristiwa yang terjadi di benak penonton (pemirsa) inilah yang menarik dibahas. Dalam diri penonton ada peristiwa perjumpaan seni rupa dengan seni bahasa. Mampu mendeskripsikan visual dengan apik, ciamik, dan mengena batiniah.
Peristiwa inilah yang manakala dicermati, menjadi komponen menarik dalam media audio-visual. Selama penonton memiliki potensi mendeskripsikan filosofis komponen visual ke dalam bahasanya. Serta memiliki kemampuan menemukan kandungan nilai. Kandungan nilai-nilai filosofis yang mampu dideskripsikan dalam diri penonton, menjadikan “mural” berkualitas.
Kualitasnya terletak pada ‘diri penonton’ dalam membuat deskripsi filosofis. Deskripsi ditekankan pada unsur-unsur visual yang ditangkap. Dan satu per satu diberi penjelasan kandungan nilai kebijaksanaan.
“Mural” sebagai karya seni rupa, memiliki fungsi sebagai ‘media edukatif’. Karakter bijaksana bisa terbangun, tergugah, serta terlahir dengan melihat dan memberikan apresiasi terhadap unsur visual.
Kiranya, menjadi lebih pelik, kompleks, dan rumit lagi hal ini. Manakala pada saat yang lain dihadapkan pada permasalahan: “Apakah sama atau beda deskripsi filosofis dengan narasi filosfis?”
Tentu saja, deskripsi dan narasi itu beda. Deskripsi lebih mengarah ke penjelasan komplet tentang unsur-unsur atau detail visual yang mengacu “X” dan bermakna kebijaksanaan “YZ”. Narasi lebih ke arah penceritaan yang berkekuatan kronologi, pada unsur visual yang dihadirkan dalam visual dengan mengacu peristiwa-peristiwa yang bijaksana.
Sedemikian gambling, bahwa seni akan bertemu dengan seni. Seni rupa bertemu dengan seni bahasa, sehingga lahir teks deskripsi filosofis. Seni rupa, seni bahasa, dan seni kebijaksaan bertemu dalam medan yang sama.
Walaupun masing-masing memiliki identitas yang berbeda, namun tetap satu. Seni itu mengedukasi insan dengan sarana keindahan (estetika). Sekarang yang menjadi masalah bagi diri insan adalah, mungkinkah keindahan itu menjadi pucak kebahagiaan setiap insan? (*) Editor : Damianus Bram