Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kecerdasan Buatan dan Dampaknya bagi Ketenagakerjaan

Damianus Bram • Rabu, 28 Juni 2023 | 17:05 WIB
Prof. Dr. Anton A. Setyawan S.E., M.Si, selaku Guru Besar Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta
Prof. Dr. Anton A. Setyawan S.E., M.Si, selaku Guru Besar Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta
Oleh Prof. Dr. Anton A. Setyawan S.E., M.Si, selaku Guru Besar Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta

KECERDASAN buatan atau artificial intelligence (AI), saat ini berkembang cepat dan berdampak bagi kehidupan manusia. Perkembangan AI memberi harapan bagi kemajuan peradaban, sekaligus memunculkan kekhawatiran bahwa fungsi dan peran manusia akan tergantikan oleh teknologi ini.

Dalam laporan World Economic Forum (WEF) yang berjudul Future of Jobs Survey 2023 yang terbit Mei 2023, disebutkan bahwa 83 juta pekerjaan di dunia akan hilang karena perkembangan AI, dalam waktu 5 tahun ke depan. AI juga akan memunculkan 69 juta pekerjaan baru, sehingga dalam 5 tahun mendatang ada 14 juta pekerjaan yang tergantikan oleh AI.

Laporan dari WEF ini juga menyebutkan adanya peralihan profesi pada semua industri karena perkembangan AI.  Industri yang diperkirakan mengalami pergeseran profesi paling tinggi adalah industri telekomunikasi, media, hiburan, dan olahraga. Artina pada industri-industri tersebut banyak profesi yang hilang, karena digantikan oleh teknologi AI.

Pada urutan berikutnya, industri teknologi informasi, real estate, jasa keuangan dan pasar modal, rantai pasok dan transportasi juga mengalami pergeseran profesi. Pada level terbawah, industri yang mengalami pergeseran profesi adalah di bidang pertanian, agrobisnis, dan pertambangan.

Pergeseran profesi karena perkembangan AI ini terjadi dalam dua bentuk utama, yaitu pekerjaan hilang karena tergantikan teknologi, serta pekerjaan yang mengalami perubahan fungsi dan kompetensi sumber daya manusia (SDM)-nya.

Beberapa pekerjaan yang diperkirakan hilang berdasarkan laporan Future Job Survey 2023, antara lain petugas entry data, sekretaris dan administrasi, akuntan, kasir, petugas penyimpanan persediaan dan pencatatan bahan baku, pekerja pabrik, petugas layanan pos, hingga teller bank.

Penggunaan AI dalam bisnis, terkait dengan tuntutan efisiensi pada praktek bisnis dan usaha. Sebagai upaya meningkatkan kinerja organisasi bisnis, terkait dengan organisasi, operasional, maupun pemasaran. Artinya, kecerdasan buatan sebenarnya juga diperlukan oleh organisasi bisnis. Dalam konteks perkembangan organisasi, serta pertumbuhan mereka.

Kecerdasan buatan, sebenarnya berpotensi membuat organisasi bisnis kecil menengah mempunyai akses ke data konsumen dan pasar yang detail, operasional bisnis yang lebih murah, serta jangkauan pemasaran yang lebih luas.

Kecerdasan buatan juga bisa menutup kesenjangan kebutuhan sumber daya yang dialami bisnis kecil dan menengah. Dengan syarat mereka memiliki SDM yang berkualitas. Dalam hal ini adalah SDM yang inovatif, kreatif, dan mandiri.

Pergeseran Kompetensi SDM

Sebelum mendiskusikan dampak perkembangan AI pada masalah ketenagakerjaan Indonesia, perlu melihat data ketenagakerjaan saat ini. Indonesia adalah negara dengan jumlah populasi terbesar ke-4 di dunia. Jumlah angkatan kerja 146,62 juta jiwa (Sakernas, Februari 2023).

Angka pengangguran terbuka pada Februari 2023 sebesar 5,45 persen atau 7,99 juta jiwa. Pada Februari 2023, jumlah yang bekerja adalah 138,63 juta jiwa, dan 83,34 juta jiwa (60 persen) di antaranya bekerja di sektor formal. Sedangkan 55,29 juta jiwa (40 persen) angkatan kerja bekerja di sektor informal.

Jumlah angkatan kerja yang kerja di sektor informal yang mencapai 40 persen, menunjukkan kondisi tidak ideal. Karena identik dengan pekerjaan yang tidak berkualitas, dengan karakteristik dibayar di bawah upah minimum, perlindungan pekerja minimal, dan tidak ada jaminan keberlanjutan pekerjaan. Data ini belum dilengkapi komposisi tenaga kerja pada setiap sektor industri.

Jumlah angkatan kerja yang sangat banyak, membuat Indonesia bergantung pada industri padat karya untuk menciptakan lapangan kerja. Industri pengolahan atau manufaktur seperti tekstil, pengolahan makanan, alas kaki, dan olahan logam, menyerap banyak tenaga kerja. Pergeseran profesi dengan penerapan AI, berpotensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja industri tersebut. Tentu berdampak negatif terhadap struktur ketenagakerjaan.

Di sisi lain, penerapan AI dalam bisnis sebenarnya berdampak positif pada ketenagakerjaan. Perubahan bisnis karena AI, menyebabkan pergeseran kompetensi atau keahlian yang diperlukan dalam bisnis. Pemahaman dan ketrampilan menggunakan teknologi, jadi syarat penting terkait kebutuhan SDM dalam bisnis.

Definisi buruh, pekerja profesional, serta manajer akan mengalami perubahan saat AI menjadi alat bantu utama dalam bisnis. Di masa depan, sulit membedakan buruh, pekerja profesional, dan manajer. Karena ada perubahan karakteristik pekerjaan.

Pekerjaan di masa depan berbasis proyek, membuat buruh harus puna kemampuan teknis sesuai perkembangan teknologi. Punya kemampuan manajerial dan bekerja mandiri. Kemudian akan bertransformasi menjadi profesional yang independen.

Permasalahan utama dalam transformasi adalah, kesenjangan penguasaan teknologi. Kasus di Indonesia, perlu reformasi secara komprehensif dari sektor pendidikan. Baik pendidikan menengah, tinggi, dan vokasi. Pendidikan sebagai pemasok SDM dunia bisnis, perlu menjawab tantangan perkembangan AI. Sebagai pelengkap kompetensi, bukan pengganti SDM.

Implikasi

Perkembangan dan penerapan AI di dunia bisnis sudah berada pada titik kritis. Tidak bisa lagi dibendung dan dihalangi. Dunia bisnis perlu melakukan penyesuaian. Secara khusus SDM perlu mengubah cara kerja dan pendekatan, dengan memanfaatkan AI sebagai alat mengembangkan diri dan mencari pemecahan masalah dalam dunia bisnis. Perlu disadari bahwa, perubahan secara radikal dalam dunia bisnis sudah terjadi. Dampaknya akan mengubah lanskap perekonomian nasional.

Perkembangan AI ini sama dengan perkembangan teknologi lainnya. Kita bisa memanfaatkannya untuk perkembangan peradaban, atau justru memperburuk situasi. AI sebenarnya bisa dimanfaatkan secara benar, untuk mengatasi masalah-masalah struktural perekonomian.

Semisal kesenjangan kesejahteraan dan kemiskinan. Syaratnya adopsi AI dalam praktek bisnis dan kebijakan ekonomi, harus dimulai dari semangat mewujudkan keadilan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. (*) Editor : Damianus Bram
#artificial intelligence #Prof. Dr. Anton A Setyawan #Kecerdasan Buatan #ums bicara