Oleh Ratih Prananingrum, S.ST, M.Kes, selaku Dosen Poltekkes Kemenkes Surakarta
MANAJEMEN kesehatan adalah penerapan manajemen secara umum dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat, sehingga yang menjadi obyek atau sasaran dalam manajemen adalah sistem yang berlangsung.
Manajemen pelayanan kesehatan merupakan penerapan prinsip-prinsip manajemen dalam pealayan kesehatan untuk sistem dan pelaksanaan pelayanan kesehatan dapat berjalan dengan baik, sesuai dengan prosedur, teratur, menempatkan orang-orang yang terbaik pada bidang-bidang pekerjaannya, efisien, dan yang lebih penting lagi adalah dapat menyenangkan konsumsi atau membuat konsumen puas terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan.
Health services include all services dealing with the diagnosis and treatment of disease, or the promotion, maintenance and restoration of health. They include personal and non-personal health services. Health services are the most visible functions of any health system, both to users and the general public. Service provision refers to the way inputs such as money, staff, equipment and drugs are combined to allow the delivery of health interventions. Improving access, coverage and quality of services depends on these key resources being available; on the ways services are organized and managed, and on incentives influencing providers and users.
Pelayanan kesehatan mencakup semua pelayanan yang bertumpu pada diagnosis suatu penyakit dan perlakuan yang harus diberikan, atau sistem promosi, perawatan dan restorasi kesehatan. Hal ini mencakup pelayanan kesehatan yang bersifat personal dan non personal. Pelayanan kesehatan merupakan fungsi yang paling mudah nampak dari semua sistem kesehatan, baik kepada pengguna maupun terhadap masyarakat umum. Penyediaan layanan menunjukkan semua input yang dapat mendukung pelayanan kesehatan seperti berbagai input dana, staf, peralatan dan obat-obatan. Peningkatan akses, kemampuan dan kualitas pelayanan tergantung pada ketersediaan semua pendukung tersebut, mutu dari terorganisasinya suatu sistem dan manajemen yang berlaku, dan juga besarnya insentif yang diberikan kepada para pelaku teknis.
Hal ini tentunya pada ujungnya akan mempengaruhi besarnya dana yang harus dibayarkan oleh konsumen. Berkaitan dengan hal tersebut, untuk membangun suatu sistem manajemen strategi dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan sehingga pelayanan yang diberikan dapat berjalan dengan sangat efisien dan memiliki mutu yang dapat diandalkan. Beberapa ahli menyatakan bahwa konsep pengembangan manajemen strategis diambil dari pengalaman pengembangan lembaga yang bersifat for profit. Keadaan ini sebenarnya menunjukkan kekurangan lembaga non profit dalam menjalankan usahanya, dan nampaknya sistem yang berjalan sering berjalan tidak efisien dan kurang memuaskan konsumen. Hal ini dapat membahayakan kelangssungan / keberlanjutan eksistensi lembaga non profit, khususnya yang harus bersaing dengan pelayanan serupa tetapi memiliki orientasi usaha for profit.
Manajemen strategis merupakan suatu filosofi, cara berpikir dan cara mengelola organisasi. Manajemen strategis tidak terbatas pada bagaimana mengelola pelaksanaan kegiatan di dalam organisasi, tetapi juga bagaimana mengembangkan sikap baru berkaitandengan perubahan eksternal. Pemahaman mengenai makna manajemen strategis tidak hanya erbatas pada aspek pelaksanaan rencana, teapi lebih jauh lagi ke aspek visi, misi, dan tujuan kelembagaan.
Model manajemen strategis berkembang seiring dengan semakin meningkatnya kompetensi usaha non profit dan tuntutan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen, serta adanya tuntutan agar pemerintah bekerja secara benar. Ada 4 nilai dalam perencanaan strategis suatu lembaga adalah sebagai berikut :
- Sistem Nilai: memenuhi anggaran
Pada perekembangan di sistem ini, manajemen hanya diartikan sebagai penyusunan anggaran belanja tahuan, dan perencanaan lebih ke arah masalah mencari dana. Prosedur dirancang untuk menangani anggaran pembelajaan. Sistem informasi disusun untuk mencocokkan hasil atau pencapian dengn sasaran mata anggaran. Sistem ini dapat cenderung menjadi tidak transparan. Biasanya banyak dijumpai pada rumah sakit atau lembaga pelayanan kesehatan yang mengandalkan pada anggaran pemrintah atau kemanusiaan.
- Sistem Nilai yang memperkirakan masa depan
Fase ini merupakan suatu perencanaan yang berbasis pada fore casting atau perkiraan. Kerangka waktu untuk perencanaan adalah 5 sampai 25 tahun ke depan. Pada awalnya sistem perencanaan ini dilakukan berbasis pada extrapolasi-ekstrapolasi data masa lalu. Akan tetapi ternyata keadaan lingkungan luar membuat berbagai ekstrapolasi ini dapat meleset jauh.
- Sitem nilai yang berfikir secara abstrak
Pada fase dengan sistem nilai ini, terjadi suatu keadaan ddimana para manajer mulai tidak percaya pada prediksi akibat kegagalan-kegagalan yang ada. para manajer mulai mempelajari fenomena-fenomena ataupun keadaan-keadaan yang menyebabkan suatu lembaga sukses atau gagal. Mereka kahirnya mempunyai suatu pemahaman mengenai kunci-kunci sukses suatu lembaga. Dengan suatu kombinasi keahlian analisis kekuatan dan kelemahan internal, dan komposisi produk dibandingkan dengan pesaing, para manejr mlai dirangsang untuk berfikir secara inovatif, dan bahkan cenderung bersifat abstrak pada masanya, atau sulit diterapkan menjadi suatu rencana operasional. Keadaan ini yang menjadi cikal bakal suatu sistem manajemen yang mengarah pada penciptaan masa depan.
- Sistem Nilai yang menciptakan masa depan
Dalam sistem manajemen, para manajer mulai merencakan dengan berbasis pada visi masa mendatang. Gambaran masa depan yang dicita-citakan akan diusahakan tercapai dengan berbagai program yang oprasional. Di suatu lembaga pelayanan kesehatan yang maju, cita-cita ini sudah dapat dilaksanakan dengan baik dan sangat profesional. Namun disebagian besar rumah sakit dan puskesmas, keberadaan visi-misi yang merupakan cita-cita kondisi masa depan banyak dijumpai hanyalah suatu susunan kata-kata indah yang dipasang di dinding atau banner untuk melengkapi institusi bila sewaktu-waktu ada kunjungan tamu atau ada pemeriksaan. Just beeing on the wall (hanya ditempel di dinding).
INTERDISIPLINER DALAM MANAJEMEN PELAYANAN KESEHATAN
Apabila kita uraikan lebih rinci, pelayanan kesehatan masykin tersebut di tingkat rumah sakit ternyata terdiri dari komponen utama yaitu pelayanan kesehatan/klinis yang meliputi unsur dokter, tenaga paramedis, prasarana dan sarana pelayanan, peralatan dan laboratorium pendukung, tersedianya berbagai jenis obat-obatan, sistem administrasi, sistem bukti asuransi, dan sistem teknologi informasi. Kemudian masing-masing unsur tersebut masih memiliki sistem-sistem tersendiri yang memiliki suatu pedoman manajemen khusus yang berlaku pada lingkungannya masing-masing. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pelayanan kesehatan ternyata tidak hanya mengandalkan kehebatan seorang dokter atau tenaga medis/ pendukung medis belaka, namun harus terintegrasi dari berbagai komponen yang berjalan dalam suatu sistem yang saling terkait, dan harus saling sinergis. (*)
Editor : Damianus Bram