RADARSOLO.COM- Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Dunia (Unesco) telah mengakui keris sebagai Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity.
Bahkan di Candi Sukuh yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karangnyar terdapat relief yang menggambarkan pembuatan keris.
Fakta-fakta tersebut seharusnya didukung dengan melakukan kajian-kajian tentang ilmu perkerisan.
Sayangnya di sebagian kalangan masyarakat, malah terjadi sebaliknya.
Masih ada yang mengaitkan keris dengan aktivitas perdukunan, bisa menyesatkan, ada setannya.
Khawatir kerisnya glodakan (bergerak sendiri dan menimbulkan suara akibat benturan warangka keris dan wadah penyimpanan).
Waswas keris bakal mempersulit saat datangnya sakaratul maut.
Menyimpan keris membuat anggota keluarga sakit-sakitan, bikin rezeki seret, dan masih banyak anggapan menyeramkan lainnya.
Yang lebih ekstrem, mengoleksi keris dianggap perbuatan syirik.
Disadari atau tidak, stigma tersebut semakin menjauhkan masyarakat dengan keris. Terutama generasi milenal maupun gen Z.
Jangankan untuk memiliki keris. Sekadar melihat warangka keris saja, mungkin mereka sudah terbayang hal-hal seram di atas.
Jika menganut “teori” otak-atik gatuk, bisa saja ketakutan sebagian masyarakat membuat Meseum Keris Nusantara di Kota Solo lesu pengunjung.
Baca: https://radarsolo.jawapos.com/nasional/842926443/tingkat-kunjungan-museum-keris-sulit-didongkrak
Selain itu, jurusan perkuliahan satu-satunya di dunia, yakni Senjata Tradisional Keris Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, juga sepi peminat.
Dilansir dari tempo.co, Kaprodi Studi Sarjana Terapan Keris ISI Surakarta Bening Tri Suwasono mengatakan, sejak dibuka pada 2012, jurusan tersebut membuka kuota pendaftaran sebanyak 30 mahasiswa.
Adapun total pendaftar pada 2023 hanya sebanyak 12 calon mahasiswa.
“Sementara, untuk tahun ini baru ada 12 calon mahasiswa. Biasanya dari tahun ke tahun dapatnya sekitar 12 mahasiswa,” ujarnya kepada Tempo pada 21 Juni 2023.
Entah ada kaitanya atau tidak dengan cerita-cerita menyeramkan di balik keris, yang jelas stigma tentang keris harus segera dikikis.
Jangan sampai pengakuan Unesco terhadap keris dicabut.
Karena Indonesia dinilai tidak mampu menguri-uri dan mengembangkan ilmu perkerisan.
Kalah dengan cerita-cerita seram yang “membungkus” keris sedemikian rupa.
Berkaca dari fenomena tersebut, radarsolo.com menghadirkan rubrikasi tentang keris dan tosan aji.
Menggandeng pemerhati, anggota komunitas, akademisi, praktisi, kolektor, dan elemen lainnya. (wa)