Oleh Dartim Ibnu Rushd, selaku Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS
SEORANG guru dalam merencanakan pembelajaran berkualitas, harus mengaitkannya dengan konsep dan strategi pembelajaran aktif (active learning). Strategi pembelajaran aktif adalah metode termutakhir dalam dunia pendidikan. Bagi guru, strategi pembelajaran aktif adalah bagian dari seni mengajar dan sebuah pijakan dalam berfikir, untuk merumuskan desain pembelajaran berkualitas.
Filosofi pembelajaran aktif adalah melatih siswa dan guru tentang keterbukaan (open minded). Yakni keterbukaan wawasan melalui aktivitas berpikir, emosional, spiritual, sosial, maupun keterampilan siswa. Ini memungkinkan informasi yang diajarkan banyak terserap secara efektif.
Selain itu, dengan strategi ini, siswa dapat belajar terbuka dan menyikapi beragam realitas kemanusian dengan sikap positif. Belajar bukan hanya mengetahui konsep-konsep rumit (knowing), tetapi mencoba mengubah sikap dan perilaku (transforming).
Melalui strategi ini, guru berperan atau berposisi sebagai fasilitator belajar bagi siswa. Sesuai kaidah-kaidah dalam konsep pendidikan humanisme, menyatakan bahwa peran manusia adalah untuk melayani (to serve). Melayani dalam pendidikan, berati menfasilitasi dengan berperan sebagai fasilitator belajar bagi siswa.
Guru melayani siswa, dengan membantu mereka agar dapat belajar dengan baik. Di sisi lain, siswa melayani guru dengan menghormati. Karena secara prinsip, posisi guru dan siswa tidak sama. Guru selalu lebih tinggi dari siswa.
Secara tidak langsung, guru sedang mengajarkan siswa, bagaimana latihan menjadi pelayan bagi sesama. Siswa dilatih menjadi teman yang baik bagi siswa lainnya. Sehingga tidak ada lagi istilah bully-membully. Prinsipnya adalah bekerja sama dan saling menolong, apabila ada teman kesulitan belajar.
Implementasinya di ruang kelas adalah, belajar harus dibangun menggunakan metode-metode belajar yang menyenangkan, dengan suasana kontekstual, interaktif, dan berbasis pengalaman (empiris). Siswa belajar dengan tidak didominasi pendekatan tekstual yang cenderung membosankan. Tetapi berkolaborasi dengan beragam sumber dan media belajar yang bervariasi, sesuai minat dan kesenangan siswa (pembelajaran otentik).
Belajar menjadi seperti bermain, atau bermain sebagai media belajar. Suasana belajar menjadi sangat menyenangkan, menggairahkan, dan penuh kegembiraan. Siswa belajar dengan penuh semangat dan tingkat antusiasme tinggi.
Ruang belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Karena dalam filosofi belajar aktif, jika belajar hanya sebatas di ruang kelas, dapat menutup pintu kebebasan dan imajinasi siswa. Lapangan dan alam adalah kelas belajar yang sesungguhnya.
Tujuan belajar adalah membuat siswa menjadi paham, dan orientasi pengajaran ditujukan pada proses. Bukan pada hasil atau nilai. Belajar tidak dilakukan dalam suasana dan ruang sempit, yang hanya berorientasi pada nilai semata (skoring).
Seharusnya, tujuan pendidikan untuk memiliki beragam nilai yang baik. Seperti bekerja keras, bersungguh-sungguh, semangat berikhtiar dengan maksimal, semangat berkolaborasi antarsesama, serta berani memberi apresiasi kepada teman.
Guru adalah Seniman
Terbukanya ruang kolaborasi ini, sehingga tidak adanya lagi kasta antara anak cerdas dan tidak cerdas. Sesuai teori multiintelegensia, setiap anak itu cerdas sesuai bakat masing-masing. Hanya saja, dibutuhkan metode tepat dari guru, agar mengena pada titik sentuh yang tepat. Sehingga siswa sampai pada titik kecerdasannya.
Jika ada anak atau siswa masih dianggap tidak cerdas oleh guru, maka bisa jadi karena guru gagal menyentuh titik kecerdasan siswa sesuai bakatnya. Jadi bukan salah siswa, tapi kemungkinan besar salah gurunya.
Saat guru mengevaluasi pembelajaran, tidak boleh hanya melihat satu aspek dan instrumen saja. Tetapi harus menilai secara komprehensif, berimbang, dan lengkap. Baik itu ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Guru melihat siswa dengan utuh, dan mencoba memunculkan bakat alamiah yang menjadi potensi kecerdasan siswa.
Guru adalah seniman, karena mengajar ada seninya. Seni mengajar guru dengan strategi pembelajaran aktif, adalah seni melatih dan mengajar siswa tentang keterbukaan potensi bakatnya. Guru berperan sebagai fasilitator pembelajaran, bukan penyampai materi pembelajaran (informan). Apalagi hanya seperti pendongeng.
Suasana belajar menjadi sangat interaktif dan kontekstual, karena dikembangkan berdasarkan pengalaman siswa. Pembelajaran membuat siswa menjadi paham, bukan sekadar tahu. Guru juga memberi penilaian bukan sebatas nilai akhir atau skor, tetapi apresiasi.
Uraian ini bisa jadi masukan yang sangat konstruktif dan positif bagi para guru, agar dapat merencanakan dan mendesiain pembelajaran dengan baik, runtut, lengkap, dan berkualitas sesuai bakat siswa. Ini bisa disebut sebagai konsep pembelajaran otentik. Karena dikembangkan berdasarkan otentisitas murni.
Melihat dari sisi perspektif psikologis, guru harus benar-benar siap mengajar. Jika tidak, maka akan berdampak pada buruknya hawa, aura, atau suasana pembelajaran yang dibawakan. Sehingga guru fokus dalam mengajar.
Imbasnya adalah, kegagalan proses belajar. Tak jarang siswa jadi korban, akibat masalah psikologis guru mereka. Bisa dipastikan antusiasme siswa mengikuti pembelajaran sangat rendah. Karena belajar dalam nuansa tidak menyenangkan.
Guru harus siap secara psikologis, sosiologis, administratif, dan strategis. Pembelajaran berkualitas adalah kesesuaian hasil belajar dengan rencana yang disiapkan. Ada kesesuaian antara tujuan, proses, dan hasil.
Adapun tujuan pembelajaran adalah, menjadikan siswa manusia seutuhnya. Bukan manusia sebagian saja. Guru bukan sekadar tukang yang selesai pekerjaan lalu mendapat upah. Guru adalah seniman di ruang kelas. Guru bebas berekspresi, agar siswa meraih prestasi. (*)
Editor : Damianus Bram