Oleh Dartim Ibnu Rushd, selaku Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS
HAMPIR setiap pagi saya berangkat menuju kampus Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dari kawasan perkotaan Sukoharjo sekira pukul 08.00. Kondisi jalanan sangat padat dan ramai. Banyak kendaraan melaju sangat kencang, seperti ingin mendahului satu sama lain.
Mungkin, mereka ada yang telat masuk kantor, terburu-buru ke pasar, dikejar setoran, dan yang lainnya. Bahkan sampai nekat melanggar rambu-rambu dan traffic light. Belum lagi pejalan kaki, sepeda onthel, motor, atau mobil yang kesulitan hendak menyeberang. Sehingga sering menyebabkan kemacetan parah.
Macet, semrawut, padat, dan ruwet. Itulah yang sering terjadi. Tapi di tengah hiruk pikuk kendaraan dan kemacetan, sering terlihat sosok luar biasa. Sigap dan cekatan, meski mungkin tidak digaji. Tapi kok mereka mau berpanas-panasan mengatur lalu lintas?
Mereka bukan anggota satlantas atau dinas perhubungan (dishub). Hanya sukarelawan yang lebih dikenal sebagai supeltas.
Warga Solo Raya sudah tak asing lagi dengan sosok supeltas, akronim dari sukarelawan pengatur lalu lintas. Hanya sukarelawan tanpa gaji dan pendapatan pasti. Bahkan tunjangan untuk hari raya pun sepertinya juga tidak ada.
Mereka sangat membantu masyarakat. Mudah ditemui di persimpangan jalan tanpa traffic light Juga sering dijumpai di tempat-tempat keramaian, seperti pasar, palang pintu kereta api, atau kawasan pabrik.
Penampilan mereka mudah dikenali. Sering memakai rompi warna hijau, dengan tulisan supeltas di punggung. Menutupi kemeja berwarna biru, sebagai identitas pembeda dengan polantas.
Bahkan, ada juga supeltas yang tidak berseragam. Hanya bermodal peluit dan bendera kombinasi warna merah dan kuning. Terkadang, mereka mengenakan kostum unik seperti tokoh wayang atau superhero.
Lalu, apa motivasi mereka menjadi supeltas? Apakah karena materi? Bisa jadi. Tapi menurut penuturan salah seorang dari mereka, itu karena panggilan hati. Tidak tahan melihat kemacetan yang sangat padat dan ruwet.
Selain itu, juga terdorong rasa peduli atau belas kasihan jika ada yang kesulitan menyeberang. Tapi, bersumber dari beberapa berita di media massa, menyebutkan bahwa supeltas tidak mendapatkan gaji atau penghasilan tetap. Ini bisa dimaklumi, karena memang hanya sukarelawan.
Menurut hemat saya, mungkin mereka sekadar mendapat “tip” dari para pengguna jalan. Itupun besarannya tak seberapa. Namun, mereka tergerak untuk membantu dengan bermodal rasa empati. Mencoba menegakkan perilaku disiplin atau etika dalam berkendara.
Betapa luar biasa suplertas. Rela berkorban waktu, dari pagi hingga petang. Bahkan ketika hujan deras, pun demikian saat cuaca panas terik. Mereka tetap sigap mengatur lalu lintas.
Kehadiran mereka sangat dibutuhkan masyarakat. Pengorbanan mereka mengatur lalu lintas sepanjang jalan Sukoharjo-Solo, termasuk di daerah-daerah lain setiap hari, layak diapresiasi.
Kita sebagai pengendara, mudah memberi apresiasi. Cukup mematuhi arahan supeltas, atau memberi sedikit “tip” meskipun sekadar ungkapan terima kasih.
Sayangnya di beberapa tempat dan persimpangan, sering dijumpai pengendara mengabaikan arahan supeltas. Mereka nekat menerobos.
Tidak ada salahnya jika kita ikut peduli dengan supeltas. Cukup mematuhi arahan mereka, sebagai bentuk apresiasi. Selain itu, dinas-dinas terkait juga perlu memberi perhatian lebih kepada supeltas. Baik satlantas, dishub, maupun dinas sosial.
Perhatian bisa dengan ungkapan terima kasih. Bisa juga dalam bentuk pembinaan khusus, gaji bulanan, hingga jaminan kesehatan. Karena ada beberapa dari mereka yang sudah lanjut usia (lansia). Ditambah kondisi atau lingkungan kerja mereka, yang terbilang tidak sehat dan penuh risiko.
Apresiasi lainnya, yakni dalam bentuk pembinaan mental, spiritual, dan sosial. Seperti kajian bulanan, pertemuan rutin, pembinaan keagamaan, dan lain-lain. Setidaknya, agar mereka juga dapat merasakan hidup bahagia. Bisa mendapatkan hidup yang layak, serta kesejahteraan yang mencukupi.
Anggap saja apresiasi ini sebagai tanda terima kasih satlantas dan dinas-dinas terkait, kepada para supeltas atas bantuannya. Sehingga bisa membantu meringankan beban kerja dinas-dinas tersebut. Terutama dalam menegakkan kedisiplinan dan etika dalam berkendara.
Selan itu, juga membantu para pengguna jalan untuk lebih berhati-hati saat berkendara dan berlalu lintas. Sekali lagi, mudah-mudahan kita bisa belajar banyak dari supeltas tentang arti sebuah pelayanan terhadap sesama. Belajar memerhatikan etika yang baik di jalan raya. Serta berlatih memberikan apresiasi atas sebuah kinerja, sekecil apa pun bentuknya. (*)
Editor : Damianus Bram