Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

ORANG TUA INSPIRATIF DAN BIJAKSANA

Damianus Bram • Rabu, 31 Juli 2024 | 18:29 WIB
Dartim Ibnu Rushd, selaku Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS
Dartim Ibnu Rushd, selaku Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS

Oleh Dartim Ibnu Rushd, selaku Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam UMS

TUJUAN dari sekolah atau madrasah adalah tempat untuk membentuk siswa, agar memiliki karakter baik, tajam penalaran, berhati mulia, dan rendah hati. Sebagai sebuah refleksi, sejarah menyebutkan bahwa pada masa kenabian, madrasah atau sekolah benar-benar ditunjukkan untuk mewujudkan ragam kopetensi di atas.

Proses pendidikan saat itu berlangsung dengan cara yang sangat mudah, murah, dan sederhana. Namun, hasil pembelajaranya tetap memiliki efektivitas tinggi. Lulusan pendidikan model kenabian ini, sangat efektif dan begitu mengena kepada para sahabat-sahabat dan generasi saat itu.

Selain itu, siswa dalam sistem pendidikan masa kenabian juga sangat aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Dalam konteks ini, mereka adalah para sahabat yang tinggal di Shuffah. Sedangkan kebanyakan dari para sahabat saat itu dalam kondisi lemah.

Lemah dalam arti sosial, ekonomi, maupun politik. Terbiasa hidup sederhana, terbiasa prihatin, dan serbajauh dari kecukupan. Meskipun di tengah-tengah segala keterbatasan itu, mereka tetap memiliki etos keilmuan yang kuat dan senantiasa belajar sungguh-sungguh.

Adapun dalam arti pendidikan, keterbatasan yang dimaksud adalah terbatas sarana dan prasarana maupun keterbatasan dalam arti kekuasaan. Berbeda dengan sekolah yang disebut unggulan di era kontemporer yang sering kita jumpai sekarang. Kebanyakan terkesan mahal dengan beragam fasilitasnya.

Apalagi jika kebijakan sekolah menerapkan konsep full day school (FDS) dan boarding school (BS). Tetapi dengan kedua kebijakan ini, membuat lembaga pendidikan sekolah unggulan tumbuh menjamur di daerah perkotaan. Terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Surakarta, Bandung, dan Surabaya.

Melihat komposisi geososial ini, siswa yang bersekolah di sana dari golongan menengah ke atas. Karena hanya kalangan ini yang bisa memenuhi ekspektasi biaya mahal dan tinggi itu. Di sisi lain, sekolah berlabel Islami dan termasuk kategori elit, lulusannya belum tentu memiliki karakter Islami.

Mereka terbiasa hidup serbacukup, semua tersedia, dan apapun yang diinginkan dikabulkan oleh orang tuanya. Jauh berbeda dengan lembaga pendidikan yang semestinya melatih mereka hidup prihatin, sederhana, dan merasakan kesulitan dari saudara-saudaranya. Karena terkadang di tengah keadaan demikian, akan muncul etos keilmuan dan empati tinggi.

Fakta ini menunjukkan bahwa paradigma yang berkembang pada masyarakat kota adalah hedonisme. Setiap keinginan siswa serba tercukupi dan terpenuhi. Siswa terbiasa hidup di zona nyaman dan menyenangkan, serta cenderung egois.   

Salah satu faktor penyebab adalah, tingkat mobilisasi orang tua yang padat (kesibukan). Sehingga tidak sempatnya mengurus anak-anaknya setiap hari. Di sisi lain, harapan pragmatis para orang tua adalah merindukan anak-anak mereka memiliki adab tinggi.

Maka sistem FDS dan BS menjadi alternatif pilihan, terhadap masalah kesibukan dari orang tua. Apalagi dengan stigma sekolah berlabel Islami. Semakin menambah tingkat kepercayaan orang tua, sebagai daya tawar tambahan atau jaminan.   

Tapi dengan kondisi geososial masyarakat kota yang cenderung lebih hedonis ini, akan menjadi tantangan tersendiri bagi sekolah dan orang tua. Terutama dalam membentuk karakter baik dari siswa di sekolah maupun di rumah.

Ditambah tingkat kebutuhan di perkotaan lebih tinggi daripada pedesaan. Demi memenuhi hasrat hedonisme, masyarakat kota terkadang tak lagi memerhatikan nilai dan akhlak yang baik untuk mendapatkannya.

Lulusan FDS dan BS dirasa tidak memiliki efektivitas tinggi, sebagaimana diharapkan seperti masa kenabian. Buktinya dapat dilihat dari kompetensi lulusan yang lemah secara etos keilmuan dan empati sosial.

Meski sudah berada di lingkungan pendidikan berlabel islami, tetapi kualitas mereka sama saja dengan siswa lainnya. Indikatornya adalah, mayoritas belum menampilkan akhlak yang baik. Serta masih rendahnya kecerdasan rasional untuk bertindak menghargai adab.

Melihat dari sisi psikologi perkembangan anak, mereka memiliki hak untuk bermain, berinteraksi dengan orang tua, teman-teman, dan lingkungan secara alami. Tapi dengan sistem FDS dan BS, membuat anak-anak kehilangan pola interaksi alaminya. Karena semuanya berlangsung by design dan sangat kaku. 

Penulis sering menjumpai anak-anak yang mengeluhkan beragam masalah. Terutama yang berkaitan dengan tekanan dari orang tua. Mereka tidak dapat memenuhi harapan dari orang tua. Seperti tuntutan prestasi harus tinggi, lulus tepat waktu, dan lainnya. Sehingga mereka stress, frustrasi, hingga kehilangan semangat belajar.

Lebih mencengangkan lagi, latar belakang keluarga mereka berasal dari alumni sekolah unggulan di kotanya. Meskipun ada juga faktor lain, seperti pengaruh hubungan kurang harmonis dari rumah tangga orang tuanya. Tapi, faktor ini tidak terlalu signifikan. Bukan faktor dominan dalam kajian artikel ini.

Sekali lagi, kita harusnya menjadi orang tua yang bijaksana dalam melihat tempat belajar anak-anak. Mendorong mereka belajar dengan bakat masing-masing. Bukan justru menuntut yang melebihi kemampuan mereka. Meskipun mereka sudah berada di sekolah elit sekali pun.

Latar belakang sekolah elit ini terkadang tidak cukup untuk menghasilkan lulusan terbaik, cerdas, dan menjunjung tinggi nilai-nilai keadaban. Mereka tetap membutuhkan perhatian dan sentuhan lembut dari orang tua yang bijaksana dan inspiratif. Awal sekolah adalah awal untuk memberikan inspirasi dan terus mendorong anak-anak agar semangat belajar. (*)  

Editor : Damianus Bram
#ums bicara #Dartim Ibnu Rushd #universitas muhammadiyah surakarta #pendidikan agama islam #UMS