Oleh: Dr. Minsih, M.Pd.*)
RADARSOLO.COM-Perbincangan mengenai perubahan kurikulum kembali mengemuka pasca pernyataan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mukti, yang menggagas penerapan Kurikulum Deep Learning.
Kurikulum ini dirancang untuk menggabungkan tiga elemen kunci: mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning.
Gagasan ini menjadi upaya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih mendalam, relevan, dan menyenangkan bagi generasi muda Indonesia.
Transformasi dari Kurikulum Merdeka menuju Deep Learning bukanlah upaya untuk menggantikan atau menafikan pencapaian sebelumnya, melainkan memperkuat fondasi yang telah ada.
Pendekatan berbasis proyek (project-based learning), pemecahan masalah (problem-solving), serta pengembangan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas telah menjadi inti dari Kurikulum Merdeka.
Namun, implementasinya masih menghadapi tantangan, seperti kurangnya pendalaman materi dan keterampilan aplikatif.
Di sinilah Kurikulum Deep Learning hadir sebagai solusi.
Kurikulum ini bertujuan untuk menghasilkan pembelajaran yang tidak hanya mendalam tetapi juga kontekstual.
Pendekatan ini dirancang untuk membantu siswa memahami konsep secara mendalam sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi tantangan nyata dengan kemampuan berpikir kritis dan inovatif.
Kurikulum Deep Learning berakar pada teori constructivism, yang menekankan bahwa siswa membangun pengetahuan melalui eksplorasi, kolaborasi, dan refleksi.
Dalam pendekatan ini, siswa menjadi pusat dari proses pembelajaran (student-centered learning), sehingga memungkinkan mereka untuk aktif berpartisipasi dalam pencarian dan penerapan pengetahuan.
Filosofi ini juga sejalan dengan nilai-nilai bangsa Indonesia.
Konsep pembelajaran berbasis proyek mencerminkan semangat gotong royong dan kerja tim.
Sedangkan integrasi teknologi dalam pembelajaran mendukung pengembangan kecerdasan digital siswa sesuai dengan kebutuhan abad ke-21.
Belajar dari negara-negara maju seperti Finlandia, Kanada, dan Singapura yang telah lebih dahulu mengimplementasikan konsep deep learning, Indonesia dapat mengadaptasi pendekatan ini dengan mempertimbangkan konteks lokal.
Nilai-nilai seperti gotong royong, kebhinnekaan, dan toleransi yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum.
Sebagai contoh, pembelajaran berbasis proyek dapat mengangkat tema pelestarian budaya lokal atau pengelolaan sumber daya alam.
Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar menyelesaikan masalah, tetapi juga menanamkan rasa cinta tanah air.
Hasil Program for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat 68 dengan skor yang masih rendah untuk matematika (379), sains (398), dan membaca (371).
Kondisi ini menuntut lompatan besar untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju.
Kurikulum Deep Learning menawarkan solusi dengan memberikan fokus pada pembelajaran yang bermakna dan mendalam.
Melalui pendekatan ini, siswa dapat belajar memahami teknologi tidak hanya sebagai konsumen, tetapi juga sebagai inovator.
Selain itu, pemanfaatan teknologi dalam kurikulum ini berpotensi menciptakan kesetaraan Pendidikan.
Sehingga siswa di daerah terpencil dapat menikmati kualitas pendidikan yang setara dengan siswa di perkotaan.
Kurikulum Deep Learning bukan sekadar perubahan teknis dalam pendidikan, tetapi sebuah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Dengan pendekatan ini, Indonesia dapat mempersiapkan generasi muda yang kompetitif, kreatif, bermartabat, dan berkarakter.
Namun, keberhasilan implementasi kurikulum ini membutuhkan komitmen bersama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat.
Dengan demikian, jika diterapkan dengan perencanaan yang matang, Kurikulum Deep Learning dapat menjadi tonggak baru dalam sejarah pendidikan Indonesia.
Sudah saatnya kita melangkah ke depan dengan visi pendidikan yang lebih mendalam, bermakna, dan relevan, untuk menciptakan generasi masa depan yang siap menghadapi tantangan global sekaligus menjaga nilai-nilai lokal. (*)
*) FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta
Editor : Tri Wahyu Cahyono