RADARSOLO.COM - Surakarta dalam beberapa waktu terakhir ini menjadi spotlight seiring dengan pembangunan fisik dan non-fisik yang begitu pesat.
Pembangunan ini tidak hanya memfokuskan pada bangunan infrastruktur kota, namun pembangunan dalam hal seni budaya serta agama turut menjadi perhatian pemerintah Kota Surakarta.
Seperti pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed, Kebun Binatang Safari Zoo, Kompleks Pura Mangkunagaran (Praciman Tuin), Pasar Seni Ngarsopuro, Pasar Kleco, Alun-Alun Keraton Surakarta dan lainnya merupakan wujud dari wajah baru Kota Surakarta.
Berbagai ragam pembangunan di Kota Surakarta tersebut menjadikan Kota Surakarta dinobatkan sebagai Kota Terbaik Untuk Menikmati Masa Tua versi Survei Goodstat yang diumumkan pada hari Jumat (30/8/2024) dengan nilai 63,1% terpaut tipis dengan Yogyakarta dengan nilai 61,9%.
Hasil survei ini berbeda dengan tahun 2022 dan 2023, dimana Kota Surakarta selalu berada di rangking kedua dalam kategori kota yang bisa dinikmati pada masa tua, dan posisi pertama selalu diduduki Yogyakarta.
Ada beberapa kriteria yang menjadikan Kota Surakarta menjadi Kota Terbaik Untuk Menikmati Masa Tua dilihat dari suasana kota, biaya hidup, keramahtamahan warga, fasilitas kesehatan dan juga dari segi kesediaan transportasi.
Awal tahun 2024, Kota Surakarta juga dinobatkan dalam Jaringan Kota Kreatif UNESCO.
Keberhasilan tersebut merupakan bukti nyata adanya pertumbuhan positif pasca pandemi dalam pengembangan sektor pariwisata.
Hal ini membuktikan bahwa Kota Surakarta masuk dalam jajaran 55 kota yang menjadi anggota baru dalam jaringan Kota Kreatif Dunia versi UNESCO.
Penghargaan ini membuktikan bahwa Kota Surakarta berhasil dalam pengembangan kreatifitas dan seni budaya.
Bentuk kreatifitas dan seni budaya ini adalah kerajinan tangan (crafts) dan seni rakyat (folk art).
Selain itu juga ada Solo International Performing Arts (SIPA) yang juga mendapat perhatian seni tingkat internasional.
Ada seni tradisional seperti pertunjukkan wayang orang di Sriwedari, menjadi daya tarik tersendiri bagi Kota Surakarta.
Bangunan sejarah juga menjadi fokus pembangunan di Kota Surakarta sebagai wujud pelestarian budaya, serta pengembangan bangunan budaya untuk destinasi wisata merupakan wujud kebijakan pembangunan selain menghidupkan nuansa budaya namun juga bisa untuk menumbuhkan peluang bisnis dan ekonomi.
Kota Surakarta bertransformasi dari kota lokal (kejawen) menjadi kota dengan ragamnya daya tarik wisata.
Meskipun tidak memiliki wisata berbasis alam, namun dengan pembangunan wisata berbasis infrastruktur dan seni budaya menjadikan destinasi wisata di Kota Surakarta menawarkan pengalaman wisata yang baru bagi wisatawan baik dalam dan luar negeri.
Konsep pembangunan yang berbasis masyarakat dan komunitas kreatif menjadi role model pada pembangunan di Kota Surakarta, pembangunan tidak difokuskan pada fisik, namun potensi kearifan lokal yang memiliki kekhasan turut menjadi bagian dalam perencanaan pembangunan yang baik.
Keterkaitan pembangunan ini menghasilkan euphoria untuk bisa melihat peluang dan potensi dalam dunia ekonomi sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kota Surakarta.
Sehingga seluruh elemen masyarakat bisa mendapatkan kesempatan untuk mengakses hasil dari program pembangunan dan pelayanan pemerintah.
Alasan suasana kota yang tenang dan damai menjadi nilai tertinggi bagi Kota Surakarta untuk bisa dinikmati pada masa tua, dengan nilai 74,1%.
Kultur budaya masyarakat jawa dengan keramahtamahan, kerukunan dan toleransi menjadi gambaran belum hilangnya nilai-nilai kekhasan masyarakat Indonesia pada umumnya dan Kota Surakarta pada khususnya.
Posisi kedua alasanya adalah suasan kota sejuk dan asri dengan nilai 71,3%.
Status yang diperoleh Kota Surakarta ini, tidak lepas dari proses pembangunan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta, yang tidak hanya pembangunan infrastruktur (fisik) semata namun juga pembangunan sosial yang mengarah pada proses interaksi masyarakat dengan pemerintah kota maupun antar sesama masyarakat.
Pembangunan massif yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta, juga dalam bidang pembangunan sosial.
Dimana adanya kebijakan yang mengutamakan kerekatan sosial, toleransi dan rasa kemasyarakatan yang tinggi menjadi model pembangunan yang menjadikan Kota Surakarta lekat dengan keramahtamahan serta slow living (kehidupan yang pelan) yang sering diidamkan banyak orang, ditengah hiruk pikuk kehidupan.
Night Market (pasar malam seni) Ngarsopuro menjadi bentuk pembangunan sosial dengan mengoptimalkan potensi UMKM serta ekonomi kreatif yang menghasilkan konsep wisata yang dilandasi pada inovasi serta kreatifitas generasi muda di Kota Surakarta.
Nonton pertandingan sepakbola melalui videotron di depan Balai Kota Surakarta, juga menjadi kebijakan Pemerintah Kota Surakarta yang mendengar aspirasi masyarakat dalam menyatukan warga Solo dengan tujuan dan semangat sebagai penggemar sepakbola.
Cara pandang pembangunan berbasis sosial dan budaya ini tentu memiliki kelemahan, dari artikel Jurnal Ilmu Politik dengan judul Strategi Pembangunan Kota Berbasis Budaya : Revitalisasi Pasar Gede di Kota Surakarta oleh Priyatno Harsasto menjelaskan bahwa tiga kelemahan dalam pembangunan berbasis budaya.
Pertama, bahwa pembangunan dengan mendasarkan budaya ini cenderung akan dilebih-lebihkan, dimana aktivitas budaya dalam industri pariwisata terbatas dalam meningkatkan lapangan pekerjaan, dan pekerjaan akan bersifat paruh waktu dengan upah rendah.
Kedua, pembangunan dengan basis budaya akan menyebabkan ketidakmerataan wilayah, dimana event budaya dengan basis besar menjadi fasilitas sebagai katalis bagi pembangunan wilayah perkotaan.
Ketiga, orientasi perdagangan berbasis budaya ini akan menyebabkan eksklusi sosial dan berkurangnya keunikan lokal, disebabkan proyek budaya yang memperbaiki infrastruktur budaya dalam pusat kota, yang menciptakan citra baru kota budaya sesuai dengan pandangan elit ekonomi global.
Keseluruhan rangkaian pembangunan berbasis sosial dan budaya di Kota Surakarta harus bisa menjaga keunikan dan ciri khas dari kearifan lokal masyarakat Kota Surakarta.
Dimana adanya pembangunan berbasis budaya dan sosial tanpa memperhatikan kepentingan lokalitas dan simbolik lokal akan menyebakan homogenisasi budaya sehingga melemahkan potensi budaya lokal.
Alternatif untuk bisa mengembangkan pembangunan berbasis budaya dan sosial tentu bisa mengikutsertakan komunitas lokal dalam proses pembuatan keputusan atau kebijakan dalam event atau acara festival berbasis budaya, bisa juga melakukan revitalisasi identitas komunitas sehingga masyarakat bisa menumbuhkan rasa memiliki budaya dengan komunitas lokal tersebut.
Keterlibatan masyarakat sebagai kelompok sosial dan komunitas lokal sebagai pengampu budaya dalam pengambil keputusan mengenai pembangunan, akan mendorong pola pemberdayaan yang khas dan bisa memberikan ruang kepada masyarakat dalam aktif menjaga pembangunan dalam jangka yang panjang.
Hal ini menitikberatkan pada rasa memiliki dan tanggung jawab dalam menjaga budaya dan kerukunan masyarakat dalam setiap momentum pembangunan.
Adapun rasa ini sudah muncul dalam setiap individu dalam sebuah masyarakat, akan terus diwariskan pada generasi selanjutnya, akan memberikan hasil dan dampak dari pembangunan itu sendiri secara berkesinambungan.
Mei Candra Mahardika
Mahasiswa S3 Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan
Universitas Gadjah Mada
Editor : Laila Zakiya