Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Menggugat Budaya Credulis dan Brain Rot: Membangun Generasi Kritis di Era Digital

Tri wahyu Cahyono • Senin, 30 Desember 2024 | 17:24 WIB
Photo
Photo

Oleh: Tim PKM Universitas Nusa Putra*)

BUDAYA credulis, atau kecenderungan untuk menerima informasi tanpa analisis kritis, sebenarnya bukanlah fenomena baru.

Sejak lama, masyarakat kita terbiasa menerima informasi dari otoritas tertentu, seperti guru, orang tua, atau tokoh masyarakat, tanpa mempertanyakan validitasnya.

Namun, di era digital, pola ini semakin diperparah oleh kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial.

Sebuah riset dari Pew Research Center pada tahun 2020 menunjukkan bahwa 64% orang dewasa di berbagai negara sering membagikan berita tanpa memeriksa sumbernya terlebih dahulu.

Di Indonesia, fenomena ini terlihat jelas, mulai dari obrolan di warung kopi hingga diskusi di media sosial.

Dampaknya sangat merugikan, terutama dalam konteks sosial dan politik.

Dalam dunia politik, misalnya, hoaks dapat memengaruhi pilihan pemilih dan menciptakan polarisasi di masyarakat.

Studi dari MIT pada tahun 2018 bahkan menemukan bahwa berita palsu menyebar 70% lebih cepat dibandingkan berita yang benar.

Hal ini menunjukkan betapa rentannya masyarakat terhadap informasi yang salah, yang pada akhirnya memengaruhi cara pandang dan pengambilan keputusan mereka.

Dalam konteks pendidikan, budaya credulis menjadi perhatian serius, terutama bagi Generasi Z dan Generasi Alfa.

Generasi ini tumbuh dalam era digital dengan akses informasi yang sangat mudah, tetapi sering kali tidak terfilter.

Generasi ini terpapar pada berbagai konten digital yang dapat menyebabkan mereka menerima informasi secara pasif tanpa mempertanyakan kebenarannya.

Salah satu contohnya adalah penggunaan media sosial sebagai sumber informasi utama.

Banyak siswa saat ini mengandalkan platform seperti Instagram atau TikTok untuk mendapatkan informasi, termasuk topik akademis.

Namun, informasi yang disajikan sering kali tidak akurat atau tidak lengkap.

Sebagai contoh, video pendek yang menjelaskan konsep fisika mungkin menarik, tetapi tidak mencakup semua aspek penting dari konsep tersebut.

Tanpa kemampuan analisis kritis, siswa cenderung menerima informasi ini sebagai kebenaran tanpa mempertanyakan validitasnya.

Selain itu, Wikipedia juga menjadi sumber referensi yang sering digunakan siswa.

Meskipun dapat menjadi titik awal yang baik untuk penelitian, siswa sering kali tidak menyadari bahwa informasi di Wikipedia dapat diedit oleh siapa saja dan mungkin tidak selalu akurat.

Misalnya, seorang siswa yang menulis makalah sejarah mungkin mengambil informasi dari Wikipedia tanpa memverifikasi sumbernya, yang dapat mengarah pada penyebaran informasi yang salah.

Budaya credulis di kalangan Generasi Z dan Alfa memiliki dampak signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis mereka.

Generasi ini sering kali kesulitan menganalisis dan mengevaluasi informasi secara mendalam.

Menurut Nur Maghfirah Aesthetika, seorang pakar media sosial, generasi ini cenderung mengandalkan gadget dan media sosial sebagai sumber hiburan dan informasi, yang mengurangi interaksi dengan lingkungan nyata.

Selain itu, dengan banyaknya informasi yang tersedia, generasi ini berisiko menerima informasi tanpa skeptisisme.

Hal ini dapat mengarah pada kesalahan dalam pengambilan keputusan, karena mereka tidak terbiasa mempertanyakan atau menganalisis informasi yang diterima.

Pendidikan seharusnya menjadi benteng pertama melawan budaya kredulis. Namun, apakah sistem pendidikan kita sudah mendukung tujuan ini?

Jika kita melihat kembali pengalaman pendidikan formal, banyak dari kita yang diajarkan untuk menerima informasi sebagai kebenaran mutlak tanpa mempertanyakan lebih jauh.

Contoh sederhana adalah pelajaran matematika tentang pembagian. Kita diajarkan bahwa membagi bilangan akan menghasilkan angka yang lebih kecil, tetapi ketika dihadapkan pada kasus seperti 4 dibagi ½ yang hasilnya 8, banyak dari kita kebingungan.

Ini terjadi karena sudah tertanam keyakinan bahwa bilangan apapun ketika di bagi hasilnya bilangan yang lebih kecil.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita cenderung mengutamakan hafalan daripada pemahaman mendalam.

Guru, yang seharusnya menjadi fasilitator berpikir kritis, sering kali juga merupakan produk dari sistem yang sama.

Akibatnya, proses belajar-mengajar lebih banyak berfokus pada transfer informasi daripada eksplorasi dan analisis.

Di luar sekolah, budaya kredulis juga diperkuat oleh lingkungan keluarga dan masyarakat. Ungkapan seperti "pokoknya kata orang tua/nenek moyang" sering kali menjadi penutup diskusi tanpa memberikan ruang untuk pertanyaan lebih lanjut.

Pola ini mengajarkan anak-anak untuk menerima informasi tanpa mempertanyakan, yang pada akhirnya membentuk pola pikir pasif.

Pola pendidikan yang cenderung mengutamakan hafalan dan penerimaan informasi tanpa analisis kritis, seperti yang terlihat dalam budaya kredulis, memiliki kesamaan mendasar dengan fenomena brain rot yang berkembang di era digital.

Keduanya sama-sama menciptakan generasi yang kurang terlatih untuk berpikir kritis dan analitis.

Jika budaya kredulis terbentuk dari pola asuh keluarga, masyarakat, dan sistem pendidikan yang tidak memberikan ruang untuk mempertanyakan informasi, maka brain rot muncul sebagai dampak dari paparan berlebihan terhadap konten digital berkualitas rendah.

Kedua fenomena ini saling memperkuat, terutama di kalangan Generasi Z dan Alfa, yang tidak hanya tumbuh dalam sistem pendidikan yang kurang mendukung eksplorasi kritis, tetapi juga terpapar pada arus informasi instan yang dangkal.

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah-langkah strategis dalam pendidikan yang berfokus pada pengembangan kemampuan berpikir kritis.

Guru perlu menciptakan lingkungan yang mendorong siswa untuk bertanya, berdiskusi, dan menganalisis informasi secara mendalam.

Diskusi kelompok dan debat dapat menjadi metode yang efektif untuk melatih kemampuan berpikir kritis.

Selain itu, literasi digital juga harus diajarkan kepada siswa, termasuk cara mengevaluasi kredibilitas sumber informasi, mengenali bias, memverifikasi fakta, dan membedakan antara opini dan fakta.

Tugas dan proyek yang diberikan kepada siswa juga harus mendorong mereka untuk melakukan penelitian mendalam, menggunakan berbagai sumber yang kredibel, dan menyajikan analisis yang kritis.

Teknologi, jika digunakan dengan bijak, dapat menjadi alat yang bermanfaat. Guru dan orang tua perlu membimbing siswa dalam memanfaatkan teknologi untuk belajar, bukan sekadar hiburan.

Budaya credulis dan brain rot adalah tantangan besar di era digital, terutama bagi Generasi Z dan Alfa.

Fenomena ini menunjukkan perlunya pengembangan keterampilan berpikir kritis untuk menghadapi arus informasi yang semakin kompleks.

Pendidikan yang mendorong analisis, evaluasi, dan diskusi kritis menjadi kunci untuk membangun generasi yang lebih cerdas dan mandiri dalam mengambil keputusan.

Memahami budaya credulis adalah langkah awal; selanjutnya, kita perlu mengimplementasikan strategi yang efektif untuk mengatasi dampaknya dan membangun generasi pemikir kritis.

Menurut National Council for Excellence in Critical Thinking, berpikir kritis melibatkan kemampuan untuk menganalisis informasi secara objektif, mengevaluasi argumen, dan menarik kesimpulan yang logis.

Generasi yang mampu berpikir kritis tidak hanya akan lebih bijak dalam menyikapi informasi, tetapi juga lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.

Mereka akan mampu berkontribusi lebih banyak kepada masyarakat, baik melalui inovasi maupun pengambilan keputusan yang lebih baik.

Langkah-langkah strategis untuk membangun generasi yang kritis, seperti reformasi kurikulum, pelatihan guru, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, menjadi jawaban atas tantangan yang ditimbulkan oleh budaya kredulis dan fenomena brain rot.

Kedua masalah ini, meskipun memiliki akar yang berbeda, sama-sama menghambat kemampuan generasi muda untuk berpikir kritis dan analitis.

Budaya kredulis yang berakar pada pola pendidikan tradisional dan lingkungan sosial yang pasif, diperparah oleh brain rot yang muncul akibat paparan konten digital berkualitas rendah.

Oleh karena itu, upaya untuk menggugat budaya kredulis tidak dapat dipisahkan dari langkah-langkah untuk mengatasi dampak brain rot.

Dengan menciptakan lingkungan pendidikan yang mendorong eksplorasi, diskusi, dan analisis mendalam, serta membimbing generasi muda untuk menggunakan teknologi secara produktif, kita dapat membangun fondasi yang kuat untuk generasi yang lebih kritis, reflektif, dan bijaksana. (*)

*) Dr. Agus Hendriyanto, M.Pd. (Ketua); Dr. Wiwin Winarni, M. M.Pd.; Dr Ayi Abdurahman, M.Pd., M.M.; Utomo, S.Pd., MM.; Sajidin, S.Pd., M.Pd.

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#credulis #Brain Rot #Universitas Nusa Putra #budaya #era digital