Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Semangat Menyambut Ramadhan

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 19 Februari 2025 | 13:00 WIB
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Oleh: Dartim Ibnu Rushd*)

DI tengah-tengah hiruk pikuk ketidakstabilan politik masa transisi, gejolak pertumbuhan ekonomi yang cenderung lambat, dan masih terjadinya kemiskinan dan ketimpangan yang meningkat telah melalaikan kita dari aktivitas-aktivitas penguatan spiritualitas.

Terkadang sampai lupa khususnya bagi kaum muslimin untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan yang akan datang beberapa hari lagi.

Kurang dari dua pekan kita akan menyambut datangnya Bulan ramadhan.

Salah satu bulan dalam kalender hijriyah yang kedatangannya sangat dinanti oleh kaum muslimin.

Di bulan Ramadhan ini, sebagai umat muslim wajib menjalankan salah satu rukun Islam, yakni puasa.

Puasa adalah aktivitas menahan diri dari makan dan minum, serta menahan diri dari berhubungan suami istri pada siang harinya.

Sedangkan pada malam hari di bulan Ramadhan umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah-ibadah lain.

Seperti sedekah; shalat malam; dzikir; dan membaca Al Quran.

Dari sini kita dapat memaknai, bahwa puasa adalah menahan diri agar dapat terhindar dari segala syahwat dan nafsu yang berlebihan.

Selain bagi kaum muslimin, umat sebelumnya juga telah diperintahkan untuk diwajibkan berpuasa.

Merujuk pada dasar normatif, perintah diwajibkan menjalankan ibadah puasa bagi umat Islam terdapat pada Q.S. Al-Baqarah: 183.

Selain itu, dijelaskan secara detail terkait ibadah puasa ini yang juga terdapat pada ayat-ayat setelahnya hingga ayat yang ke-187 surat yang sama.

Terpenting, kita harus bergembira ria dalam menyambut datangnya Bulan Ramadhan ini.

Secara historis, turunnya perintah syariat puasa ini bebarengan dengan ketika Rasulullah dan para sahabat sedang menjalankan misi berperang di dekat sumur badar.

Perang ini kemudian dikenal dengan perang badar. Dari peristiwa ini mengisyaratkan sebuah pembelajaran bahwa perlu sikap totalitas bekerja dalam keadaan sulit sekalipun.

Meskipun sedang berpuasa tetapi harus tetap berjuang dan produktif.

Mengutip dari salah satu konsep teori manajemen, dikenal istilah teori manajemen modal dan proses.

Di mana secara detail teori ini menyebutkan terdiri dari empat bagian, yakni input-procces-output-impact atau masukan-proses-luaran-dampak.

Meminjam istilah dalam teori ini dapat kita digunakan sebagai pendekatan untuk mengkaji ayat mengenai perintah puasa di atas.

Ayat perintah puasa yang terdapat dalam Q.S. Al-Baqarah 183 tersebut, yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kalian berpuasa supaya kalian menjadi orang yang bertaqwa”.

Jika dicermati, ayat ini dapat dikorelasikan dengan teori input-proses-output-impact di atas.

Lalu apa unsur masukannya? Bagaimana prosesnya? Seperti apa ciri-ciri luarannya? Dan apa dampak kehidupannya?

Manajemen Ramadhan
Dalam ayat di atas sebagai unsur masukan atau input adalah iman.

Ditambah motivasi untuk meraih pahala tak terkira dari Allah Swt (ihtisab).

Sebagaimana mengutip sebuah hadits yang disabdakan oleh Rasulullah, “Barang siapa berpuasa karena iman dan mengharap pahala (ihtisaban), maka akan diampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu”.

Jadi ada dua modal sebagai input seseorang muslim menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, yaitu modal iman dan motivasi berharap pahala dari Allah SWT.

Berikutnya adalah unsur proses. Proses ibadah yang dijalankan di bulan ramadhan ini adalah puasa atau syiam.

Puasa adalah sebuah proses menahan diri untuk tidak makan dan minum, serta menahan hawa nafsu dari segala bentuk syahwat.

Di dalam proses berpuasa, selain dilarang atau menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan puasa, juga dianjurkan untuk menjauhi hal-hal yang dapat merusak nilai pahala puasa yang disebabkan karena melakukan perbuatan dosa. Baik itu dosa kecil maupun dosa besar.

Di saat proses berpuasa sedang berjalan di bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk mengerjakan amalan-amalan yang bermanfaat agar terhindar dari amalan-amalan yang bernilai sia-sia.

Kita dianjurkan untuk memperbanyak berinteraksi dengan Al-Quran melalui membaca atau tilawah dan tadabbur Al-Quran.

Termasuk juga mengkaji ilmu; memperbanyak shalat dan memperbaiki kualitasnya; serta memperbanyak infak dan sedekah di bulan ramadhan (filantropi keumatan).

Jika diumpamakan sedang menjalankan perdagangan, maka amalan-amalan yang disebutkan di atas adalah barang dagangan yang kita jual ke Allah dan kita tidak akan pernah mengalami kerugian (tijaratan lan tabur).

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat Al-Quran lain yakni Q.S. Fathir ayat 29.

Artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itulah mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”.


Berikutnya, terkait dengan sisi luaran atau output yang diharapkan dari konsep manajemen puasa ini.

Luarannya adalah menjadi orang-orang bertaqwa.

Pertanyaannya adalah, seperti apa kriteria orang yang bertaqwa itu? Gambaran seperti apa orang yang bertaqwa, (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur seperti tercantum dalam Q.S. Ali Imran ayat 17.

Dari ayat di atas dapat diketahui ciri-ciri atau gambaran orang bertaqwa sebagaimana yang diharapkan dari orang yang berpuasa.

Ciri-ciri ketaqwaan adalah sabar; benar; taat; istiqomah; mudah berinfaq dan selalu beristigfar dengan segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.

Karena memang dengan proses berpuasa, orang yang beriman akan terlatih dalam kesabaran, diharapkan selalu berbuat benar atau jujur.

Taat dalam ibadah dan disiplin bekerja, berinfaq atau selalu menebar kemanfaatan; dan selalu memohon ampunan karena memang manusia tidak bisa luput dari dosa.

Baik itu dosa yang disengaja ataupun dosa yang tidak disengaja.

Terakhir terkait dengan dampak dari luaran orang berpuasa, yakni karakter taqwa.

Diharapkan mereka akan menjadi individu-individu yang mampu berkontribusi dalam dinamika politik, sosial, pendidikan, budaya, spiritualitas baik yang terjadi di keluarga, masyarakat.

Bahkan sampai tingkat berbangsa dan bernegara. Dari skala yang terkecil hingga sekala yang terbesar.

Demikian hikmah menyambut Ramadhan jika dilihat dari sisi teori manajemen sebagai bekal semangat untuk menyambut bulan ini dengan gembira ria dan semangat harmonisasi.

Dengan modal iman yang kokoh dan berharap pahala semata-mata dari Allah (ihtisab), maka dapat menjalankan ibadah puasa dan mengisi setiap waktu di bulan ramadhan nanti dengan kebaikan ibadah-ibadah lain sebagai proses yang baik.

Akhirnya dapat menghasilkan luaran yang dapat disebut menjadi insan yang bertaqwa.
Di mana ketaqwaan itu adalah ciri-ciri dari derajat kemuliaan seseorang di sisi Tuhan YME (Q.S. Al-Hujurat: 13).

Orang yang bertaqwa juga adalah orang yang akan selalu dimudahkan dalam setiap urusan dan akan selalu dilapangkan rizkinya yang terkadang datang dari arah tidak disangka-sangka (Q.S. At-Talaq:2-3).

Mudah-mudahan dapat sampai pada derajat ketaqwaan dan akan selalu istiqomah dalam sikap dan perilaku ketakwaan itu.

Sebagaimana isyarat dalam perundang-undangan kita di negeri ini. (*)

*) Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Dartim Ibnu Rushd #ramadhan #Prodi Pendidikan Agama Islam #UMS #dosen