Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Ramadhan: Produksi, Distribusi, Konsumsi

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 12 Maret 2025 | 17:02 WIB
Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi, dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi, dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh: Edy Purwo Saputro*)

MARHABAN ya Ramadhan, selamat datang kembali Ramadhan dan berita gembiranya yaitu penetapan awal Ramadhan tahun ini bersamaan antara Muhammadiyah, NU, pemerintah meski ada beberapa lainnya yang melakukan lebih awal.

Terkait ini, menarik dicermati karena beberapa kejadian pernah berbeda.

Oleh karena itu, awal Ramadhan yang sama di akhir nanti juga diharapkan pelaksanaan Lebaran juga bisa bersamaan terutama antara NU, pemerintah dan Muhammadiyah.

Terlepas dari kebersamaan pada awal dari pelaksanaan Ramadhan, yang pasti, setiap tahunnya selalu terjadi ancaman inflasi musiman, terutama pada Ramadhan – Lebaran, meski di sisi lain juga terjadi ancaman inflasi musiman pada nataru.

Problem ini seolah menjadi tantangan yang tidak mudah, terutama terkait dengan tekanan daya beli masyarakat.

Pengendalian

Fakta di balik ancaman inflasi musiman selama Ramadhan – Lebaran, maka pemerintah di berbagai kesempatan selalu menegaskan bahwa ketersediaan sembako mencukupi untuk kebutuhan selama Ramadhan – Lebaran.

Ironisnya, fakta berkata lain karena ancaman laju inflasi musiman selalu terjadi setiap tahun. Bahkan, komitmen Tim Pengendalian Inflasi, baik di pusat atau di daerah selalu tidak berkutik menghadapi ancaman terjadinya inflasi musiman tersebut.

Oleh karena itu pemetaan dari persoalan ancaman inflasi musiman ini tidak bisa lepas dari 3 persoalan akut yaitu produksi, distribusi dan konsumsi karena dari ketiga persoalan itu akan berdampak sistemik terhadap inflasi.

Selaras dengan ancaman inflasi musiman, maka deteksi awal dari inflasi awal tahun juga patut diwaspadai, setidaknya di triwulan I 2025 dan data BPS pada Januari 2025 terjadi deflasi 0,76%.

Hal ini merupakan yang terendah sejak tahun 2000 atau 25 tahun terakhir sehingga menarik dicermati, terutama dikaitkan dengan inflasi triwulan I 2025.

Baca Juga: Kebijakan Penanganan Kembalinya Foreign Terrorism Fighters: Antara Keamanan dan Hak Asasi Manusia

Catatan menarik inflasi Ramadhan 2024 yaitu Maret 2024 mencapai 0,52% (bulanan) dan 3,05% (tahunan) dengan komponen utama penyumbang adalah kelompok makanan, minuman dan tembakau.

Data inflasi Ramadhan 2023 per April 2023 yaitu 0,33% atau lebih rendah dari Ramadhan 2022 sebesar 0,4%.

Data ini memberi penjelasan bahwa pemetaan semua faktor pendukungnya harus dicermati untuk antisipasi ancaman inflasi musiman selama Ramadhan – Lebaran.

Sebagai perbandingan laju inflasi April 2023 yaitu 0,33% (mtm) atau lebih rendah dari inflasi Ramadhan-Lebaran 2022 yaitu 0,95% (mtm) pada April 2022 dan 0,40% (mtm) Mei 2022, sementara inflasi April 2023 sebesar 4,33% (yoy).

Yang menarik dari inflasi adalah penyumbang tarif angkutan udara (0,06%) dan tarif angkutan antar kota (0,03%) dominan pada April 2023.

Hal ini terkait kenaikan penggunaan moda transportasi udara 26,93% dibanding tahun 2022.

Fakta lain bahwa pemicu inflasi dari aspek Volatile Food pada April 2023 relatif terkendali yaitu 0,29% (mtm) atau 3,74% (yoy), meskipun beras dan daging ayam ras juga memicu sentimen inflasi.

Oleh karena itu, strategi melakukan operasi pasar murah, gerakan pangan murah, dan pengamanan distribusi sembako secara sistematis dan berkelanjutan menjadi langkah tepat untuk meredam gejolak harga untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat.

Transaksi

Kompleksitas meredam ancaman inflasi musiman selama Ramadhan - Lebaran maka tidak bisa lepas dari memahami Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2025-2027.

Artinya komitmen mendukung Program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) tidak bisa diremehkan karena berkepentingan menjaga stabilitas harga, terutama selama Ramadhan – Lebaran.

Termasuk memperhatikan sinergi dari produksi, distribusi dan konsumsi selama Ramadhan-lebaran.

Di sisi lain, Ramadhan itu sendiri sesuai ajaran agama meredam nafsu dan bukan sebaliknya untuk berperilaku konsumtif.

Baca Juga: Ramadhan: Bulan Peduli dan Berbagi

Ironis, yang terjadi sebaliknya sebab fakta konsumerisme cenderung meningkat dan ini didukung dengan jumlah uang beredar yang cenderung meningkat.

Data BI jumlah uang beredar mencapai Rp.8.928 triliun pada lebaran 2024 atau naik 6,98% dari Maret 2024 yaitu Rp8.888,4 triliun.

Perbandingan ini dikaitkan dengan jumlah uang beredar pada Januari 2025 sebesar Rp.9.232,8 triliun atau naik 5,9% (yoy) atau naik 4,8% dibanding Desember 2024.

Pada Ramadhan-Lebaran ini, BI menyediakan uang tunai Rp.180,9 triliun atau sekitar 25% dari total kebutuhan uang kartal selama setahun.

Pasokan ini lebih rendah dari lebaran 2024 yaitu Rp.197,6 triliun. Argumen yang mendasari adalah potensi penggunaan transaksi non-tunai. (*)

*) Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Solo

 

 

Editor : Tri wahyu Cahyono
#FEB #edy purwo saputro #distribusi #ramadhan #konsumsi #UMS #produksi