Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Evaluasi Arus Mudik-Balik

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 9 April 2025 - 13:00 WIB
Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi, dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta
Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi, dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta

Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi*) Dosen di Universitas Muhammadiyah Solo

RAMADHAN dan Lebaran berlalu, dan pasti ritual tahunan arus balik tidak bisa diabaikan.

Evaluasi mudik tahunan menarik dicermati. Di akhir Ramadhan kemarin, calon pemudik membelanjakan THR untuk pemenuhan kebutuhan lebaran dan juga mudik.

Arus mudik terjadi 28 Maret dan sebaliknya arus balik pada 5 April.

Paling tidak, dari arus mudik dan balik tentu dibutuhkan manajemen lalu lintas dan rekayasa agar pelaksanaan arus mudik dan balik berjalan lancar.

Dan atau setidaknya mereduksi kemungkinan kecelakaan yang terjadi.

Data Korlantas Polri menyebut kecelakaan arus mudik dan balik di Lebaran 2024 mayoritas pengguna sepeda motor (73%), bus (12%), angkutan barang (10%), mobil pribadi (2%) dan sisanya angkutan lain 3%).

Kasus itu baik di tol dan non-tol dan angkanya turun dari tahun 2023 dari 2.159 kasus turun menjadi 1.835 (turun 15%).

Resiko

Konsekuensi dari penurunan kasus tersebut berdampak terhadap korban jiwa juga turun yaitu di tahun 2024 sebanyak 281 orang meninggal akibat kecelakaan (turun 3% dari tahun 2023 sebanyak 291 meninggal).

Di satu sisi, korban luka berat meningkat 13% di tahun 2024 dari 281 menjadi 317.

Sedangkan untuk luka ringan turun dari 3.036 menjadi 2.424 kasus.

Baca Juga: Aplikasi Android: Solusi Modern untuk Meningkatkan Pemahaman Jamaah Haji

Di sisi lain, kasus kecelakaan terbanyak ada di wilayah Polda Jawa Timur lalu Polda Jawa Tengah dan Polda Metro Jaya.

Data ini menjadi catatan untuk meredam semua potensi kecelakaan.

Yang menarik, arus mudik Lebaran ini maju karena adanya Work From Anywhere (WFA).

Sehingga dimungkinkan sejumlah pemudik melakukan mudik lebih awal.

Sehingga ini bisa mengurai potensi kemacetan yang terjadi sementara kemacetan menjadi potensi terbesar dari kecelakaan.

Seperti diketahui WFA dilakukan ASN 24 - 27 Maret sehingga pada 19 Maret sudah ada pergerakan arus mudik.

Terlepas dari problem kompleks dari arus mudik–balik, bahwa ada banyak alasan dari masyarakat berkaitan dengan nasionalisme mudik.

Termasuk yang utama adalah untuk bersilaturahmi lalu berwisata.

Argumen berwisata tentunya mayoritas bagi mereka yang muslim sementara yang berwisata tentu mereka yang non-muslim.

Meski yang muslim juga tidak bisa mengelak dari kepentingan untuk bersilaturahmi dan berwisata.

Terkait hal ini maka pihak berwajib berkepentingan untuk memetakan daerah tertentu yang bisa berpotensi memicu kemacetan dan kecelakaan.

Artinya, daerah rawan kemacetan dan kecelakaan membutuhkan pengawasan yang ekstra.

Sehingga bisa diurai ancaman nyata kemacetannya. Termasuk dengan misalnya melakukan rekayasa lalu lintas dan penerapan one way traffic atau contraflow.

Baca Juga: Kebijakan Penanganan Kembalinya Foreign Terrorism Fighters: Antara Keamanan dan Hak Asasi Manusia

Selain itu, pemantauan rerata kecepatan waktu tempuh para pemudik di sejumlah ruas jalan dan antar daerah juga perlu diwaspadai karena ini rawan kelelahan sebagai pemicu utama kecelakaan selama arus mudik dan balik.

Catatan

Data Korlantas pada Lebaran 2024 bahwa rerata kecepatan dan waktu tempuh untuk rute Jakarta-Semarang misalnya mencapai 67,59 km/jam (naik 12,5% dari puncak mudik 2023 yaitu 64,14 km/jam).

Artinya, waktu tempuhnya selama 6 jam 54 menit atau lebih cepat 17,5% dari puncak mudik 2023 yaitu 8 jam 12 menit.

Data ini menegaskan bahwa semakin pendek waktu tempuh (tentu tanpa menambah kecepatan tapi dengan meredam potensi kemacetan) maka akan memperkecil potensi ancaman kemacetan dan tentunya juga kecelakaan.

Kalkulasi tersebut tidak bisa terlepas dari potensi banyaknya pemudik dari Jakarta ke Jawa Tengah.

Termasuk potensi ancaman di daerah Salatiga–Semarang karena menjadi titik pertemuan arah mudik ke Jawa Tengah, Yogya dan Jawa Timur.

Selain itu, komitmen pihak berwajib dalam mengamankan arus mudik dan balik melalui Operasi Ketupat juga harus diapresiasi.

Karena setidaknya dengan Operasi Ketupat juga bisa menciptakan rasa aman berkendara selama arus mudik dan balik.

Termasuk juga peran Komite Nasional Keselamatan Transportasi – KNKT dalam mendukung pengamanan arus mudik dan balik.

Jadi, penurunan jumlah pemudik di lebaran 2025 diharapkan dapat mereduksi kecelakaan. (*)

*) Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor : Tri wahyu Cahyono
#lebaran #kemacetan #evaluasi #arus balik #mudik