Oleh: Zaskia Naura Aulia*)
RADARSOLO.COM - Isitilah kebebasan merupakan salah satu pembahasan yang cukup membingungkan dan kontradiktif.
Tentu manusia memiliki kendali dalam membuat suatu keputusan, namun di saat yang bersamaan, banyak faktor eksternal yang secara sadar maupun tidak sadar membentuk pilihan-pilihan tersebut.
Dalam proses membuat keputusan, sering kali faktor eksternal memengaruhi dan memberikan jejak pada alam bawah sadar, sehingga pengaruh luar tersebut menjadi tekanan dalam dirinya kemudian berpengaruh pada tindakan yang diambil.
Hal tersebut menimbulkan pertanyaan: apakah manusia benar-benar bebas?
Kenyataannya, keputusan yang dianggap bebas sering kali dibentuk oleh lingkungan, seperti norma sosial yang membentuk pandangan kita tentang apa yang dianggap benar atau salah, budaya yang memiliki nilai-nilai yang harus diterapkan, hingga tekanan dari lingkungan sekitar yang mendorong kita untuk mengikuti arus demi diterima dalam kelompok.
Pengaruh ini lah yang membuat kebebasan tampak seperti ilusi.
Pandangan determinisme mendukung ide tersebut. Dalam filsafat, determinisme meyakini bahwa setiap tindakan manusia dipengaruhi oleh sebab-akibat dari masa lalu.
Dalam pandangan ini, kehendak manusia yang muncul merupakan hasil akumulasi dari faktor-faktor masa lalu yang membentuk cara kita berpikir, merasa, dan bertindak.
Misalnya, seseorang mungkin merasa bebas dalam memilih jurusan kuliah, namun pilihan itu sebenarnya telah dipengaruhi oleh ekspektasi keluarga, pengalaman masa kecil, atau pandangan umum masyarakat tentang profesi yang dianggap prestisius.
Dengan demikian, kebebasan yang diyakini justru merupakan hasil dari rangkaian pengalaman yang membentuk pola pikir kita.
Namun pandangan determinisme ini seolah dibantah oleh paham eksistensialisme yang mengutamakan kebebasan serta tanggung jawab pribadi dalam merancang makna dan arah hidupnya.
Filsuf seperti Jean Paul Sartre menegaskan bahwa hidup yang autentik berarti menjalani kehidupan berdasarkan pilihan dan nilai yang ditentukan oleh diri sendiri, bukan yang ditentukan oleh norma atau ekspektasi.
Menurut saya, gagasan ini terasa relevan di zaman modern yang penuh kebingungan identitas dan tekanan sosial.
Hidup di zaman yang kompleks dengan banyaknya pilihan seolah menuntut semua orang untuk untuk menegaskan identitas diri mereka yang justru bisa membatasi ruang gerak manusia.
Tak jarang di tengah kehidupan modern ini beberapa orang mengalami krisis identitas akibat dinamika sosial yang tak terbatas.
Eksistensialisme mengajarkan kita untuk tidak terjebak pada identitas yang dipaksakan dan berpegang teguh pada pilihan yang benar-benar berasal dari diri sendiri tanpa tekanan eksternal.
Sudut pandang eksistensialisme pun menurut saya sejalan dengan pandangan psikologi humanistik yang dikembangkan oleh tokoh psikologi Abraham Maslow dan Carl Rogers mengenai potensi diri manusia yang selalu berkembang untuk mencapai tahap aktualisasi diri sebagai tingkat potensi diri yang maksimal.
Pandangan humanistik menekankan pada keunikan kualitas manusia, terutama berkaitan dengan freewill (kebebasan kehendak) dan potensi untuk terus berkembang dalam diri individu.
Namun, untuk mencapai tahap tertinggi hierarki aktualisasi diri, tentu manusia harus memenuhi kebutuhan dasarnya lebih dasarnya terlebih dahulu, seperti kebutuhan fisiologis, rasa aman, dan penerimaan sosial.
Ketika kebutuhan ini sudah tercapai lah, individu bisa mencapai kebebasan penuh dalam menggali potensi dirinya untuk akhirnya hidup sesuai dengan pilihan dan makna yang mereka ciptakan sendiri.
Dari kedua pandangan ini, saya rasa eksistensialisme dan psikologi humanistik memiliki kesamaan yang cukup mendalam.
Psikologi humanistik melihat manusia sebagai makhluk yang memiliki potensi untuk berkembang melalui kebebasan dan pilihan pribadi untuk mencapai aktualisasi diri.
Sementara eksistensialisme menekankan kebebasan individu untuk memilih dan mencari makna hidup tanpa tertekan oleh faktor kondisi eksternal.
Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa faktor eksternal akan selalu menjadi tantangan dalam membuat keputusan baik secara sadar maupun tidak sadar, yang bagi beberapa orang mungkin membatasi kebebasan, semua pilihan dan tindakan akan kembali pada individu itu sendiri dengan kesadaran penuh yang diambil.
Menurut saya sendiri, kebebasan dalam menentukan pilihan itu lah yang menjadi esensi dari kebebasan sejati.
Memberikan kesempatan bagi setiap individu untuk memiliki kendali atas jalan hidup yang mereka pilih juga tantangan bagaimana kita bisa tetap setia dan berpegang teguh pada prinsip hidup masing-masing.(*)
*) Mahasiswa Psikologi Universitas Brawijaya
Editor : Nur Pramudito