Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Ekologi dan Edukasi

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 18 Juni 2025 | 13:00 WIB
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dartim Ibnu Rushd, dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.


Oleh: Dartim Ibnu Rushd

RADARSOLO.COM-Beberapa waktu lalu, saya mengikuti seminar internasional, Anual International Conference on Islamic Religious Education (AICIRE) di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Temanya cukup menarik karena membahas tentang peran pendidikan keagamaan dalam merespon beragam isu mengenai lingkungan, ketahanan pangan, dan kerusakan alam.

Education for Sustainable Peace: Transforming Islamic Religious Education towards Ecological Resilience.

Masalah lingkungan yang terkait dengan krisis ketahanan pangan dan bagaimana pencegahannya melalui pendidikan telah menjadi isu kontemporer yang cukup menyita perhatian publik. Terutama pendidikan keagamaan.

Bahkan menjadi salah satu agenda penting PBB melalui program sustainable developments goals atau SDGs.

Perubahan iklim, efek rumah kaca, dan perubahan fungsi daerah hijau adalah di antara contoh masalah lingkungan.

Selain itu, beragam ancaman dari global warming atau pemanasan global, deforestasi hutan dan alih fungsi lahan, terutama sawah dan ladang telah tampak nyata di depan mata.

Wacana literasipun nampaknya tidak cukup untuk menghambat laju gejala ini.

Polusi dari beragam polutan yang mencemari air, udara, dan tanah juga turut serta mengancam kelangsungan hidup ekosistem kita.

Bencana lingkungan pun akhirnya terlihat seperti banjir dan tanah longsor.

Diperlukan upaya sosialisasi dan implementasi pencegahan melalui ruang pendidikan.

Aktivis pendidikan merupakan representasi dari kaum terdidik yang dilengkapi dengan beragam nilai, moralitas, dan etika.

Termasuk di dalamnya adalah etika untuk menjaga alam semesta. Namun jauh panggang dari api.

Karena implementasi konsep ekologi pendidikan di lapangan masih jauh berbeda dengan idealitas teoritisnya.

Karen Amstrong dalam bukunya juga turut mengulas mengenai isu lingkungan ini.

Bukunya berjudul "Sacred Nature: Memulihkan Keakraban dengan Alam".

Buku ini menekankan bahwa alam adalah sesuatu yang sakral dan bersifat transenden yang harus membumi.

Amstrong berpendapat bahwa alam memiliki nilai spiritual tinggi yang perlu kita jaga dan hormati dengan “merawatnya”.

Buku ini juga membahas bagaimana manusia dapat kembali terhubung dengan alam secara spiritual agar manusia merasa dekat dengan alam.

Di sisi lain buku itu juga membahas cara-cara praktis yang dapat membantu kita bagaimana menjaga keseimbangan alam.

Menurut Amstrong, saat kita dapat berhubungan dengan pencipta, di saat yang sama kita dapat berharmoni dengan alam ciptaannya.

Belajar Menanam

Amstrong menyebut bahwa alam merupakan entitas yang sakral.

Hal ini didasari oleh argumentasi sosio-religius yang sering diungkapkan melalui berbagai kajiannya tentang agama dan kepercayaan kuno mengenai sejarah agama manusia.

Ritual peduli terhadap alam adalah warisan sejarah manusia yang beragama sebagai sebuah jalan keakraban (intimacy).

Di dalam buku itu, ia menyebut bahwa di dalam prinsip ritual ibadah dari seseorang yang beragama sebenarnya terdapat cara yang sangat “intim” dalam membangun kembali keakraban dengan alam.

Keintiman hubungan inilah yang secara sadar telah mempromosikan rasa tanggung jawab untuk menjaga dan peduli terhadap lingkungan hidup kita.

Teologi alamiah ini muncul, akibat pengaruh konsep kepercayaan yang juga merupakan entitas kemanusiaan.

Di mana Amstrong telah meneliti bahwa kepercayaan dan agama dapat memengaruhi cara manusia berinteraksi dengan alam.

Konsep ini disebut spiritualitas alam atau dalam istilah lain oleh Hossein Nasr disebut dengan kosmologi suci.

Ada satu aktivitas alamiah yang penting, tapi akhir-akhir ini mulai ditinggalkan.

Aktivitas itu adalah “menanam”. Dunia pendidikan harus turut mensosialisasikan dan melatih aktivitas menanam kepada siswa.

Termasuk juga aktivitas merawat tanaman, sebagai bagian dari value yang tidak boleh diabaikan.

Dahulu, orang tua kita menjadi sangat peduli dengan alam karena kebiasaan mereka menanam dan merawat tanaman.

Seperti menanam pohon, padi, sayur-sayuran, umbi-umbian dan lainnya.

Oleh karenanya, jika hari ini anak-anak kita tidak dilatih menanam dan merawat tanaman, maka besar kemungkinan, mereka akan menjadi generasi yang gemar merusak dan tidak peduli alam.

Aktivitas menanam dan merawat tanaman harus kita ajarkan semenjak dini.

Penting ada pelajaran atau latihan menanam dan merawat tanaman di sekolah-sekolah kita.

Apalagi kecerdasan seorang anak juga ditentukan oleh gizi atau nutrisi makanan yang dihasilkan dari alam. Kebutuhan nutrisi mereka berasal dan sangat bergantung dari alam.

Perlu diperhatikan bahwa proses makan, selain memperhatikan faktor nutrisi juga memperhatikan faktor edukasi.

Seperti orang dahulu misalnya, meskipun mereka bisa dibilang kekurangan nutrisi tapi mereka tetap menjadi orang cerdas.

Bahkan ada yang menjadi doktor hingga profesor. Ini disebabkan karena faktor edukasi yang kuat.

Tahapan Belajar

Ekologi pendidikan adalah pendekatan belajar yang menekankan pada pemahaman dan tindakan terkait lingkungan hidup.

Bertujuan membentuk individu yang peduli dan bertanggung jawab terhadap alam.

Proses belajar melibatkan wawasan ekosistem, keanekaragaman hayati, dan bagaimana interaksinya, serta pengembangannya dalam nilai-nilai dan sikap yang mendukung keberlanjutan.

Harapannya dapat mengembangkan sikap dan perilaku yang ramah lingkungan.

Mempersiapkan individu menjadi agen perubahan untuk menjaga kelestarian alam dan memperkuat pemahaman mereka tentang hubungan timbal balik positif antara manusia dengan alam (simbiosis mutualisme).

Implementasi pendekatan ini dapat dilakukan dalam beberapa tahap.

Pertama, memahami ekosistem dengan mempelajari unsur-unsur ekosistem dan interaksinya.

Kedua, mengetahui keanekaragaman hayati melalui pemahaman pentingnya keberagaman hayati dan ancaman terhadapnya.

Ketiga, mengetahui pelestarian sumber daya alam dengan mempelajari penggunaan dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Keempat, dapat menganalisis ragam masalah lingkungan dengan membaca berbagai gejala lingkungan seperti perubahan iklim, pencemaran, dan deforestasi.

Adapun secara praktis, di kelas maupun di lapangan, pendekatan ekologi pendidikan ini dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis pengalaman.

Menggunakan pendekatan yang melibatkan interaksi langsung dengan alam, seperti kunjungan ke taman, kebun raya, sawah, atau hutan.

Selain itu, juga dapat dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek.

Seperti melibatkan siswa dalam proyek-proyek nyata, seperti penanaman pohon, mendaur ulang sampah anorganik, atau pembuatan komposter dari limbah atau sampah organik.

Termasuk implementasinya dalam membentuk lembaga seperti ecopesantren, green school atau sekolah alam.

Gagasan ini penting untuk membentuk generasi yang peduli lingkungan.

Karena dapat menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan semenjak dini.

Selain juga turut menjaga kelestarian alam dan ketahanan pangan untuk memastikan kualitas hidup yang baik bagi generasi mendatang. (*)

*) Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta

Editor : Tri wahyu Cahyono
#edukasi #ekologi #Dartim Ibnu Rushd #universitas muhammadiyah surakarta #Prodi Pendidikan Agama Islam #UMS #dosen