Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Kesantunan Dalam Pola Pikir

Tri wahyu Cahyono • Jumat, 1 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Dr. Meggy Novitasari, M.Pd.
Dr. Meggy Novitasari, M.Pd.

Oleh: Dr. Meggy Novitasari, M.Pd

RADARSOLO.COM-Negative thinking, lingkungan toxic, distress emosional dan perilaku defensif apakah masih sering terjadi?

Komunikasi yang terputus, kecemasan, rendahnya kepercayaan diri, keterampilan dan pengetahuan menjadi pemicu terjadinya perilaku negatif.

Standar etika yang minimal kini menjadi marak baik di lingkungan pendidikan maupun di luar pendidikan. Sehingga berdampak pada nilai kesantunan.

Study terbaru di China tahun 2021 ada korelasi beberapa hal penyebab merosotnya kesantunan.

Salah satunya ialah krisis etika, moral, adab dan akhlak pribadi seseorang.

Beberapa sumber menjelaskan, degradasi moral disebabkan banyak faktor salah satunya kesantunan yang tidak optimal.

Kesantunan sebagai pondasi utama dalam interaksi sosial, pedagogic dan simbolik dalam menjalin komunikasi humanis interpersonal.

Kesantunan juga berperan penting dalam hal pendidikan misalnya pemikiran kritis dan analitis.

Apa yang kalian dapatkan dari pendidikan? Good attitude or kecerdasan?

Pendidikan yaitu tentang pola pikir. Apabila yang dikejar hanya sebatas selembar kertas, sekarang mudah didapatkan.

Lalu dimana kualitas dirinya? Kualitas diri terletak pada apa yang dilihat, apa yang didengar dan apa yang dibaca. Good attitude lah yang lebih memberikan high value dari diri.

Artinya, kecerdasan akademik tidak berbanding lurus dengan kecerdasaan sosial emosional.

Banyak orang sukses tetapi tidak santun, banyak orang cerdas tetapi tidak beretika, akibatnya mereka sulit diterima dan keberadaannya tidak bermakna.

Kesuksesan bukan terletak pada banyaknya karya yang hasilkan, namun kesuksesan ialah orang yang memiliki pemikiran dan penalaran logis tanpa batas sesuai dengan etika dan kesantunan.

Mari belajar diam agar suara lebih didengar

Karena pada praktiknya, nilai kesantunan minim sekali di lingkungan perguruan tinggi.

Mahasiswa cenderung acuh terhadap nilai kesantunan moral, omong kosong tanpa makna, kurang kesadaran terhadap etika sosial, merasa dirinya paling benar, ber-circle, bad vibes dan tinggi hati.

Hal tersebut tidak luput dari pengaruh lingkungan yang negatif.

Bagaimana menyikapi hal tersebut?

Menurut Brown dan Stephen Levinson, teori kesantunan sifatnya spontan dan tidak bisa dibuat-buat.

Sikap dan moral yang sifatnya negative tidak akan diselesaikan dengan pola pikir negatif.

Sehingga, seseorang harus memiliki bahan bakar untuk membingkai pemikiran negatif menjadi pemikiran positif.

Bahan bakar yang dimaksud ialah:

1) Akui kelemahan diri

2) Berkomitmen tinggi untuk saling menghargai

3) Rendah hati

4) Humanis dalam berkomunikasi

5) Berliterasi untuk motivasi suara dalam diri (eustress)

6) Memanusiakan manusia dengan hati.

Menurut Carol Dweck pola pikir merupakan keyakinan yang membentuk dan membangun cara berpikir dengan memahami pengelolaan diri dan lingkungan.

Dimana pola pikir ada dua, yaitu pola pikir tetap dan pola pikir bertumbuh/berkembang.

Pola pikir tetap merupakan pola pikir yang didasari oleh kecerdasan, karakter dan kemampuan sejak lahir sehingga kurang optimal untuk dikembangkan.

Sedangkan pola pikir tumbuh/berkembang merupakan pola pikir yang dapat dikembangkan melalui kerja keras, dan berlatih.

Sehingga mampu mengembangkan cara berpikir cerdas berkarakter dan kreatif.

Berdasarkan hal tersebut dapat dimaknai bahwa kesantunan dalam pola pikir yaitu menumbuhkembangkan kecerdasan diri yang dibingkai oleh hati.

Mengapa orang cerdas berkarakter menjadi daya tarik dalam diri?

Karena orang cerdas belajar secara selektif dan solutif tentang kesantunan dengan pola pikir kecerdasannya.

Kesantunan dalam pola pikir menggunakan hati, pikiran, kecerdasan, konsep dan logika. Praktik menjadi pedoman dasar dan teori sebagai pendukungnya.

Kesantunan dalam pola pikir tujuannya mengembangkan pemikiran yang lebih bijaksana, berpikir secara objektif, demokratis dan terbuka dari berbagai sudut pandang.

Pengembangan kesantunan dalam pola pikir ada beberapa diantaranya berhati-hati dengan ucapan karena akan menjadi tindakan.

Berhati-hati dengan tindakan karena akan menjadi kebiasaan, berhati-hati dengan kebiasaan karena akan menjadi karakter dan berhati-hati dengan karakter karena akan menentukan masa depan. So, your mindset determine your life.

Kesantunan dalam pola pikir perlu di re-charge dengan physical value, spiritual value or mental value untuk menetapkan pemikiran dan hati seseorang.

Menjaga kesantunan pola pikir, mampu menciptakan lingkungan intektual cerdas yang humanis, dimana setiap orang merasa nyaman, memastikan setiap orang diakui dalam interaksi sosial, dihargai dan berkontribusi secara positif.

Tidak hanya dalam praktik teori dan konteks keilmuan, namun sifat kesantunan dalam Al-Qur’an cukup banyak salah satunya pada kandungan nilai surat al Hujurat ayat 11-13 Allah menganjurkan untuk memperbaiki akhlak pribadi kaum muslim dan menjauhi akhlak yang buruk (Madzmumah).

“Menjauhi akhlak tercela dalam Islam tidak mudah, tetapi dengan kesadaran diri, kesabaran hati, dan komitmen tinggi untuk belajar dan berkembang, setiap muslim mampu menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan bermoral sesuai ajaran Islam.”

Mari refleksikan diri, apakah ada karakter positif dalam diri yang belum kita penuhi. Jadi sebagai pendidik, tugasnya tidak hanya mendidik sebagai tuntutan profesionalitas namun mendidik hatinya agar tetap membumi. (*)

Editor : Tri wahyu Cahyono
#Dr Meggy Novitasari MPd #pola pikir #kesantunan