Oleh: Dr. Edy Purwo Saputro, SE, MSi*)
Layanan modernitas perbankan cenderung semakin berkembang dan kini nasabah dapat melakukan semua transaksi dimana saja dan kapan saja tanpa lagi mengenal jeda ruang dan waktu.
Oleh karena itu, beralasan jika kemudian disebut bahwa nasabah dimanjakan di era now dengan semua fasilitas perbankan yang ada.
Di satu sisi, semua fasilitas yang disajikan kepada nasabah itu menjadi layanan kemudahan yang memberikan manfaat di semua bentuk modernitas layanan perbankan.
Meski demikian, di sisi lain, modernisasi di era now sebagai bentuk fasilitas layanan tidak sekedar menjanjikan kemudahan tapi ada ancaman risiko yang melingkupinya.
Fakta ini adalah konsekuensi logis dari arus adopsi teknologi sehingga mengharuskan perbankan pada umumnya dan nasabah khususnya di era now untuk lebih cermat dan berhati-hati.
Oleh karena itu edukasi dan literasi menjadi sangat penting setidaknya untuk mereduksi semua risiko dari keberagaman model adopsi teknologi.
Jadi, perlu kehati-hatian untuk mengantisipasi semua risiko yang ada.
Memahami
Urgensi dalam memahami janji kemudahan yang ditawarkan dari adopsi perbankan dan konsekuensi dari tuntutan modernitas layanan maka nasabah tidak bisa mengabaikan sisi penting semua jaminan layanan yang ada.
Setidaknya hal ini sebagai antisipasi terutama dikaitkan dengan layanan perbankan yang cenderung homogen.
Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami bagaimana kiprah dan kinerja perbankan dengan keberagaman model modernitas layanan yang diberikan.
Baca Juga: Dari Bambu Runcing ke Kecerdasan Buatan: Menakar Arti Merdeka di Era Digital
Betapa tidak bisnis layanan perbankan sangat berkaitan dengan kepercayaan (trust).
Artinya sejumlah fakta kasus yang kemarin terjadi misalnya pembekuan rekening tidur dan kebocoran data menjadi sentimen negatif terkait kepercayaan.
Padahal, kepercayaan menjadi kunci dalam keberhasilan bisnis di era masa depan.
Artinya, lawan kata kepercayaan (trust) bagi perbankan adalah penarikan uang di era now dalam jumlah besar dan dalam waktu bersamaan (rush).
Konsekuensi antara trust vs rush menjadi ancaman dari bisnis perbankan sehingga untuk membangun kepercayaan itu sendiri membutuhkan komitmen dan kerja keras.
Fakta ini menjadi peluang dan tantangan yang tidak mudah bagi perbankan, terutama ini dikaitkan ketatnya persaingan di sektor perbankan secara umum.
Oleh karena itu, tidak ada alasan mengabaikan edukasi dan literasi kepada nasabah secara umum.
Padahal, persepsian dari nasabah itu sendiri dibedakan menjadi dua, yaitu nasabah tipe high touch dan tipe high tech (Saputro, 2019).
Belajar bijak dari kedua tipe nasabah ini maka perbankan menjadi berkepentingan untuk melakukan pemetaan terkait keperilakuan dari kedua tipe nasabah tersebut.
Betapa tidak, nasabah tipe high touch cenderung reaktif terhadap semua bentuk kemajuan teknologi dengan semua modernitas yang ada, meski kelompok nasabah high touch cenderung menjadi nasabah aktual dari kegiatan operasional perbankan.
Risiko
Sebaliknya, nasabah tipe high tech tidak bisa diabaikan karena nasabah tipe ini menjadi nasabah potensial dari modernitas perkembangan perbankan di masa depan.
Oleh karena itu, nasabah tipe high tech yang familiar dengan internet dan melek teknologi sangatlah responsif terhadap semua bentuk modernisasi perkembangan teknologi untuk menyediakan layanan terbaru perbankan.
Baca Juga: Urgensi Pendidikan Akhlak pada Generasi Alpha di Era Digital
Semua bentuk modernitas itu salah satunya adalah adopsi di bidang layanan e-banking.
Padahal, semua model adopsi teknologi, termasuk e-banking dimaksudkan untuk memberikan kemudahan, kecepatan, kenikmatan serta kenyamanan kepada nasabah.
Meski demikian, yang juga perlu dicermati adalah ancaman risiko dari semua model adopsi teknologi yang ada.
Jadi, perbankan pada khususnya dan nasabah di era now pada umumnya harus cermat, peduli dan responsif terhadap semua perubahan di model layanan perbankan.
Belajar bijak dari semua persoalan di balik adopsi teknologi, termasuk e-banking maka di era now menjadi penting untuk memperhatikan peluang dan tantangan dari adopsi yang menjanjikan semua bentuk kemudahan, kecepatan, kenikmatan dan kenyamanan.
Paling tidak harus juga dipahami bahwa mayoritas di negara industri maju sudah capital market minded sementara di mayoritas negara industri maju seperti Indonesia masih berkutat di banking minde.
Oleh karena itu, ancaman rush dibalik trust harus diperhatikan dan tidak bisa mengabaikan keluhan nasabah pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.
Hal utama yang juga penting adalah jangan memandang remeh risiko dari adopsi e-banking, baik dalam bentuk human error maupun technical error karena ancamannya adalah dana atau uang masyarakat yang bisa hilang dalam sekejap. (*)
*) Dosen di FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta
Editor : Tri wahyu Cahyono